Mengapa Pujian 'Kamu Pintar' Berbahaya Untuk Mental Anak
Nisrina - Tuesday, 24 February 2026 | 06:15 PM
Bayangkan skenario ini: Anak Anda pulang sekolah dengan wajah berseri-seri, menyodorkan kertas ulangan matematika dengan angka 100 tertera besar-besar di pojok kanan atas. Secara insting, kalimat yang paling cepat keluar dari mulut kita biasanya adalah, "Wah, anak Mama pintar banget sih!" atau "Emang anak Papa paling jenius!"
Kedengarannya manis, bukan? Kita pikir itu adalah bentuk apresiasi yang bakal bikin dia makin semangat. Tapi, coba kita geser sedikit perspektifnya. Menurut riset psikologi selama berpuluh-puluh tahun, pujian "pintar" itu sebenarnya adalah jebakan betmen yang bisa bikin mental anak jadi ciut di masa depan. Serius, ini bukan sekadar cocoklogi, tapi ada penjelasan ilmiah di baliknya yang sering kita sebut sebagai Growth Mindset.
Jebakan Label "Pintar" dan Fixed Mindset
Masalah utama dari kata "pintar" adalah sifatnya yang statis atau bawaan lahir. Ketika kita melabeli anak sebagai sosok yang pintar, secara tidak sadar kita sedang menanamkan benih fixed mindset. Anak mulai berpikir bahwa kecerdasan adalah sesuatu yang "terberi"—kamu punya itu atau tidak punya sama sekali.
Efek sampingnya? Begitu dia menemui soal yang susah atau mengalami kegagalan, dunianya langsung runtuh. Dia akan berpikir, "Kalau aku nggak bisa ngerjain ini, berarti aku nggak pintar lagi dong?" Akhirnya, anak cenderung menghindari tantangan karena takut kehilangan label "pintar" tersebut. Mereka lebih memilih bermain aman di zona nyaman daripada mencoba hal baru yang berisiko membuat mereka terlihat "bodoh". Inilah yang disebut sebagai beban ekspektasi yang justru mematikan kreativitas.
Berkenalan dengan Growth Mindset: Kecerdasan Itu Kayak Otot
Carol Dweck, seorang psikolog dari Stanford University, sudah lama mewanti-wanti soal ini. Dia menawarkan konsep yang jauh lebih sehat: Growth Mindset atau pola pikir bertumbuh. Di sini, kecerdasan nggak dianggap sebagai bakat mati, tapi kayak otot yang makin dilatih makin kuat.
Alih-alih fokus pada "siapa diri mereka" (pintar, jenius, berbakat), kita harus mulai fokus pada "apa yang mereka lakukan". Proses jauh lebih mahal harganya daripada sekadar hasil akhir di atas kertas. Anak yang punya growth mindset nggak akan takut salah. Bagi mereka, kegagalan bukan berarti mereka nggak mampu, tapi sinyal bahwa mereka perlu mencoba strategi lain atau berlatih lebih keras lagi. Mentalitas tangguh (resilience) inilah yang sebenarnya mereka butuhkan buat survive di dunia nyata yang keras ini.
Ganti "Kamu Pintar" dengan Kalimat-Kalimat Ini
Terus, kalau nggak boleh bilang pintar, kita harus ngomong apa? Tenang, memuji itu tetap perlu, kok. Kuncinya adalah memuji proses, strategi, dan kegigihan. Berikut adalah beberapa kalimat yang bisa Anda gunakan mulai besok pagi:
- "Ibu suka cara kamu terus mencoba meskipun soalnya susah banget." (Menghargai ketekunan/grit).
- "Wah, strategi yang kamu pakai buat nyelesain puzzle ini kreatif banget ya!" (Menghargai cara berpikir dan pemecahan masalah).
- "Ayah lihat kamu belajar sungguh-sungguh minggu ini, pantesan hasilnya memuaskan." (Menghubungkan usaha dengan hasil).
- "Keren, kamu nggak menyerah walaupun tadi sempat bingung di tengah jalan." (Membangun daya tahan mental).
- "Gimana perasaan kamu pas akhirnya berhasil ngerjain itu? Pasti puas banget ya?" (Mendorong refleksi diri dan kepuasan internal).
Kenapa Perubahan Kalimat Ini Penting?
Mungkin terdengar sepele, cuma beda kata-kata doang. Tapi bagi seorang anak, kata-kata orang tua adalah narasi yang mereka bawa sampai dewasa. Dengan mengubah fokus pujian dari hasil ke proses, kita sedang membangun fondasi karakter yang kuat. Kita sedang memberi mereka izin untuk gagal, untuk belajar dari kesalahan, dan untuk terus berkembang tanpa merasa terbebani oleh label yang sempit.
Dunia saat ini berubah sangat cepat. Kita nggak butuh anak yang cuma pintar menghafal atau dapat nilai bagus karena kebetulan memang berbakat di satu bidang. Kita butuh generasi yang punya rasa ingin tahu tinggi, yang berani ambil risiko, dan yang tahu bahwa kerja keras itu keren. Dan semua itu dimulai dari meja makan, saat kita memilih untuk memuji usahanya ketimbang skornya.
Mari Jadi Supporter, Bukan Sekadar Penilai
Sebagai orang tua atau pendidik, peran kita bukan jadi juri yang memberikan nilai "pintar" atau "tidak pintar". Kita adalah pemandu sorak yang berdiri di pinggir lapangan, menghargai setiap keringat yang mereka teteskan saat berjuang. Jadi, lain kali si kecil berhasil melakukan sesuatu yang luar biasa, ambil napas sejenak. Tahan kata "pintar" itu di ujung lidah, dan coba gali lebih dalam proses hebat apa yang baru saja dia lalui.
Ingat, anak-anak kita bukan robot yang performanya dinilai dari spesifikasi mesin (IQ). Mereka adalah manusia yang tumbuh lewat pengalaman, jatuh-bangun, dan usaha yang konsisten. Mari kita bantu mereka melihat bahwa dunia ini adalah tempat bermain yang luas untuk belajar, bukan ujian terus-menerus yang menuntut kesempurnaan.
Next News

Bye Hidung Mampet! 7 Cara Tidur Nyenyak Meski Sedang Flu
in 6 hours

Fungsi Unik Irisan Bawang Merah di Kamar yang Jarang Diketahui
in 5 hours

Menahan Lapar Itu Mudah, Menahan Nafsu Makan Saat Maghrib?
in 2 hours

Derita Jet Lag: Kenapa Tidur Malam Jadi Susah Saat Traveling?
in 6 hours

Kenali Gejala Greges dan Cara Mengatasinya Sebelum Parah
in 5 hours

Panduan Cepat Keringkan Satu Baju dalam Semalam Tanpa Matahari
in 6 hours

Cara Meminta Maaf yang Benar Agar Masalah Tidak Semakin Runyam
in 3 hours

Jangan Kalap! Dampak Buruk Buka Puasa Pakai Cara Balas Dendam
in 4 hours

Ringan Seperti Awan, Inilah Keunggulan Mukena Bahan Rayon
in 3 hours

Mukena Serasa Sauna? Ini Tips Pilih Bahan yang Sejuk
in 3 hours






