Ceritra
Ceritra Warga

Fungsi Unik Irisan Bawang Merah di Kamar yang Jarang Diketahui

Refa - Tuesday, 24 February 2026 | 07:00 PM

Background
Fungsi Unik Irisan Bawang Merah di Kamar yang Jarang Diketahui
Ilustrasi irisan bawang merah (pexels.com/mali maeder)

Bawang Merah di Pojok Kamar: Antara Ritual Orang Tua dan Kebenaran Sains yang Sebenarnya

Pernah nggak sih kalian main ke rumah nenek atau bahkan di rumah sendiri, terus tiba-tiba mencium aroma tajam yang mirip-mirip bumbu dapur di pojok kamar? Pas dicek, eh, ternyata ada piring kecil berisi irisan bawang merah yang sudah mulai agak layu. Kalau ditanya ke orang tua, jawabannya biasanya sakti, "Biar udaranya bersih, biar virusnya keserap ke situ, biar nggak gampang sakit."

Buat generasi milenial atau Gen Z yang hidupnya serba digital dan dikelilingi teknologi HEPA filter, pemandangan ini mungkin terasa sangat absurd. Rasanya kayak lagi melihat ritual mistis di tengah gempuran zaman modern. Tapi jujur saja, tren menaruh bawang merah di pojok ruangan ini nggak pernah benar-benar mati. Bahkan di grup-grup WhatsApp keluarga, narasi ini sering muncul kembali setiap kali ada musim pancaroba atau isu polusi udara yang lagi tinggi-tingginya.

Pertanyaannya sederhana, apakah ini fakta medis yang tersembunyi atau cuma sekadar mitos turun-temurun yang bertahan karena kekuatan sugesti? Mari kita bedah pelan-pelan sambil ngopi, biar nggak gagal paham.

Asal-usul Si Magnet Virus

Kepercayaan bahwa bawang merah bisa menyerap kuman itu bukan muncul kemarin sore. Konon, cerita ini sudah ada sejak abad ke-16. Waktu itu, orang-orang percaya kalau bawang putih dan bawang merah yang ditaruh di dalam ruangan bisa melindungi mereka dari wabah mematikan seperti Maut Hitam atau Black Death.

Logikanya sederhana tapi agak maksa. Hal ini karena bawang punya aroma yang sangat kuat, ia dianggap bisa "menarik" partikel-partikel jahat di udara ke dalam dirinya.

Bahkan ada cerita legendaris tentang wabah flu tahun 1918 di mana satu keluarga petani selamat karena menaruh irisan bawang di setiap sudut rumah. Katanya, pas diperiksa pakai mikroskop, di dalam bawang itu penuh dengan kuman penyakit. Kedengarannya heroik banget, kan? Kayak pahlawan tanpa tanda jasa, tapi bentuknya umbi-umbian.

Tapi masalahnya, di zaman itu teknologi mikroskop belum secanggih sekarang. Cerita-cerita semacam ini lebih banyak bersifat anekdot atau kabar burung yang bumbunya makin lama makin pedas. Secara narasi, ini memang keren buat dijadikan konten thread Twitter atau TikTok, tapi secara ilmiah, klaim ini mulai goyah ketika kita bicara soal biologi molekuler.

Kenapa Secara Sains Ini Adalah Mitos?

Mari kita bicara pahitnya. Secara konsensus ilmiah, bawang merah tidak memiliki kemampuan ajaib untuk menjadi vacuum cleaner udara. Bawang merah memang mengandung senyawa sulfur yang punya sifat antibakteri jika dikonsumsi atau diaplikasikan langsung secara topikal dalam kondisi tertentu. Namun, senyawa ini tidak bisa terbang keluar dari bawang, berpatroli di udara kamar kamu, lalu menangkap virus influenza yang lagi melayang-layang.

Virus dan bakteri itu bukan debu yang bisa nempel begitu saja karena ada bau menyengat. Mereka butuh inang atau medium tertentu untuk bertahan hidup. Menaruh irisan bawang di piring hanya akan membuat satu hal pasti terjadi: kamar kamu jadi bau soto. Selain itu, kalau bawang itu dibiarkan berhari-hari, yang ada malah ia membusuk dan mengundang lalat buah atau jamur. Bukannya udara jadi bersih, malah kamu nambah masalah baru di pojok kamar.

National Onion Association (iya, ada asosiasi resminya di Amerika Serikat) bahkan pernah mengeluarkan pernyataan tegas bahwa klaim bawang bisa menyerap virus di udara adalah mitos belaka. Jadi, kalau ada yang bilang bawang merah itu magnet virus, itu sebenarnya cuma salah kaprah yang sudah terlanjur mendarah daging.

Lalu, Kenapa Banyak yang Merasa Sembuh?

Nah, ini yang menarik. Kalau memang cuma mitos, kenapa banyak orang yang bersumpah kalau mereka merasa lebih baik setelah menaruh bawang di kamar? Di sinilah kekuatan pikiran alias efek plasebo bermain. Selain itu, ada penjelasan yang lebih fisik. Aroma menyengat dari bawang merah mengandung allyl sulfide. Saat kita menghirup aromanya, secara tidak sadar saluran pernapasan kita bisa terstimulasi untuk memproduksi lendir atau sedikit lebih terbuka.

Efeknya mirip-mirip kayak kamu menghirup balsem atau minyak kayu putih. Rasanya lega, tapi bukan berarti penyakitnya "diserap" oleh si bawang. Perasaan nyaman inilah yang kemudian disimpulkan secara keliru sebagai udara yang jadi lebih bersih. Padahal, kuman-kumannya mungkin masih ada di sana, cuma hidung kamu saja yang lagi terdistraksi sama bau bawang yang aduhai itu.

Alternatif yang Lebih Masuk Akal

Daripada bikin kamar jadi bau dapur dan bikin mata perih pas bangun tidur, sebenarnya ada banyak cara lain yang lebih teruji buat menjaga kualitas udara. Kalau memang peduli sama kesehatan paru-paru, coba pertimbangkan hal-hal berikut:

  • Ventilasi yang Baik: Buka jendela setiap pagi. Pergantian udara alami jauh lebih efektif membuang polutan di dalam ruangan daripada sekadar naruh irisan umbi-umbian.
  • Air Purifier: Kalau budget ada, beli air purifier dengan filter HEPA. Ini beneran bisa menyaring partikel mikroskopis, bukan cuma mitos.
  • Tanaman Indoor: Tanaman kayak Lidah Mertua (Sansevieria) punya kemampuan menyerap racun udara tertentu dan secara visual bikin kamar makin estetik buat konten Instagram.
  • Kebersihan Kasur: Sering-sering ganti sprei dan vakum debu. Itu jauh lebih berfaedah buat mencegah alergi daripada ngandelin bawang di pojok ruangan.

Kesimpulan: Makan Saja Bawangnya, Jangan Dipajang

Jadi, apakah menaruh irisan bawang merah di pojok kamar itu fakta? Jawabannya jelas, mitos. Tapi, apakah ini mitos yang berbahaya? Ya nggak juga sih, selama kamu nggak keberatan kamar kamu bau kayak tukang nasi goreng semalaman. Secara psikologis, ritual-ritual kecil seperti ini kadang memberikan rasa tenang, dan rasa tenang itu bagus buat imunitas tubuh.

Tapi kalau tujuannya beneran mau membersihkan udara dari virus atau polusi PM2.5, monmaap nih, bawang merah belum punya sertifikasi untuk itu. Bawang merah itu pahlawan di atas piring, bukan pahlawan di pojok kamar. Daripada ditaruh di pojok sampai layu dan busuk, mending irisannya dijadikan topping telur dadar atau sambal matah. Manfaatnya jauh lebih kerasa, gizinya masuk ke tubuh, dan lidah pun ikut bahagia.

Mari kita biarkan bawang merah menjalankan takdirnya sebagai bumbu dapur paling legendaris, dan serahkan urusan kebersihan udara pada teknologi atau ventilasi yang benar. Tetap sehat, tetap kritis, dan jangan lupa buka jendela kamar besok pagi!

Logo Radio
🔴 Radio Live