Nostalgia Belanja Pakai Uang Gobog di Tengah Hutan Bambu Pacet
Refa - Thursday, 11 December 2025 | 10:10 AM


Hiruk pikuk kehidupan modern sering kali membuat orang merindukan suasana pedesaan yang tenang dan sederhana. Di kaki Gunung Welirang, tepatnya di Dusun Kramat, Desa Warugunung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, kerinduan itu dijawab tuntas oleh sebuah destinasi wisata unik bernama Pasar Keramat.
Berbeda dengan pasar pada umumnya yang bising dan penuh plastik, tempat ini menawarkan sensasi lorong waktu kembali ke masa silam. Di bawah naungan rumpun bambu yang rimbun dan udara Pacet yang sejuk, pengunjung diajak melupakan dompet digital dan uang kertas sejenak untuk merasakan transaksi ala zaman kerajaan Majapahit.
Ritual Menukar Rupiah Menjadi Koin Kayu
Aturan main di Pasar Keramat sangat tegas namun justru menjadi daya tarik utamanya. Uang Rupiah tidak berlaku sebagai alat pembayaran yang sah di lapak pedagang. Sebelum mulai berburu kuliner, pengunjung wajib mendatangi gubuk penukaran uang untuk menukarkan lembaran Rupiah mereka dengan koin kayu yang disebut "Gobog".
Satu keping Gobog biasanya bernilai setara Rp2.000. Memegang segenggam koin kayu sambil berjalan-jalan di antara lapak bambu memberikan pengalaman taktil yang unik. Bunyi "klotak" koin kayu yang beradu di dalam saku seolah menjadi musik pengiring langkah kaki menyusuri pasar. Jika koin tersebut tidak habis dibelanjakan, pengunjung bisa menukarkannya kembali menjadi Rupiah di pintu keluar atau membawanya pulang sebagai suvenir.
Surga Jajanan Ndeso Tanpa Sampah Plastik
Pasar Keramat adalah surga bagi pencinta kuliner tradisional yang otentik. Jangan harap menemukan sosis bakar atau minuman boba kekinian di sini. Lapak-lapak pedagang yang didominasi oleh warga lokal menyajikan menu warisan leluhur seperti nasi jagung, tiwul, botok, pepes, hingga jajanan pasar seperti klepon, cenil, dan lupis yang disiram gula merah cair.
Keistimewaan lain dari pasar ini adalah komitmennya terhadap lingkungan. Pasar Keramat menerapkan konsep zero waste atau bebas sampah plastik. Makanan disajikan di atas pincuk daun pisang atau piring lidi, sementara minuman seperti dawet atau beras kencur disuguhkan dalam gelas yang terbuat dari bumbung bambu atau batok kelapa. Suasana makan menjadi semakin nikmat karena ditemani alunan musik gamelan Jawa yang dimainkan secara langsung.
Hanya Buka di Hari Pasaran Tertentu
Keeksklusifan Pasar Keramat juga terletak pada jam operasionalnya. Destinasi ini tidak buka setiap hari, melainkan hanya pada hari-hari tertentu sesuai penanggalan Jawa, biasanya pada Minggu Kliwon dan Minggu Wage dari pagi hingga siang hari.
Keterbatasan jadwal ini justru membuat antusiasme pengunjung selalu membludak. Para pedagang yang mengenakan busana tradisional lurik dan kebaya menambah kental nuansa budaya yang dihadirkan. Pasar Keramat bukan sekadar tempat wisata, melainkan sebuah gerakan budaya untuk melestarikan alam, memutar roda ekonomi warga desa, dan merawat ingatan tentang kesederhanaan hidup masa lalu yang harmonis dengan alam.
Next News

Geliat 100 UMKM di Balai Kota: Misi Bank Jatim Perkuat Ekonomi Digital Surabaya
3 days ago

Ngabuburit Bermanfaat! Cek Kesehatan Gratis di JConnect Ramadan Vaganza 2026
3 days ago

Cappadocia Van Java! Sensasi Balon Udara di JConnect Ramadan Vaganza 2026 Surabaya
4 days ago

JConnect Ramadan Vaganza 2026: Dari Wisata Balon Udara Hingga Layanan Publik Gratis di Balai Kota Surabaya!
4 days ago

7 Rekomendasi Makanan Khas Daerah Semarang yang Wajib Kamu Coba Saat Liburan
6 days ago

4 Destinasi Kampung Arab di Indonesia yang Wajib Dikunjungi
9 days ago

Pesona Wisata Pacitan Surga Karst dan Pantai Eksotis
10 days ago

Mie Kering Singkawang, Ikon Kuliner yang Tak Terlupakan
11 days ago

Mengenal Tenun Ikat Sikka, Kain Tradisional NTT yang Mendunia
12 days ago

Menjelajah Pangkalpinang Lewat Kelezatan Otak-otak Bangka
13 days ago






