Ceritra
Ceritra Teknologi

Mitos dan Cara Benar Merawat Baterai Smartphone Modern Agar Awet Bertahun-tahun

Refa - Friday, 19 December 2025 | 10:40 AM

Background
Mitos dan Cara Benar Merawat Baterai Smartphone Modern Agar Awet Bertahun-tahun
Ilustrasi Baterai Smartphone (Pinterest/vivianebaranows)

Keluhan paling umum dari pengguna smartphone setelah satu atau dua tahun pemakaian adalah baterai yang cepat habis atau "bocor". Sering kali, penurunan performa ini bukan disebabkan oleh cacat pabrik, melainkan karena kebiasaan pengisian daya yang terbawa dari teknologi lama.

Baterai zaman dulu (Nikel) dan baterai modern (Lithium-Ion) memiliki karakteristik yang bertolak belakang. Memperlakukan baterai modern dengan cara lama justru akan memperpendek umurnya secara drastis.

Berikut adalah pembaruan fakta dan cara paling efektif menjaga kesehatan baterai (Battery Health) berdasarkan standar teknologi terkini.

1. Tinggalkan Aturan "Kosongkan Dulu Baru Cas"

Pada zaman ponsel jadul, pengguna disarankan menguras baterai sampai 0% sebelum mengisi ulang agar baterai tidak "lupa" kapasitasnya. Ini disebut Memory Effect.

Namun, pada baterai Lithium-Ion modern, membiarkan baterai mati total (0%) justru memberikan stres kimiawi yang sangat tinggi pada sel baterai. Jika sering dilakukan, kapasitas maksimal baterai akan menurun permanen.

Cara terbaik merawat baterai modern adalah dengan metode parsial. Mengisi daya sedikit demi sedikit (misalnya dari 30% ke 60%, lalu dicabut) jauh lebih sehat bagi sel baterai daripada menunggu kosong lalu diisi penuh sekaligus.

2. Terapkan Hukum 20-80

Baterai Lithium-Ion bekerja paling optimal dan "bahagia" ketika berada di rentang kapasitas 20% hingga 80%.

Baterai di bawah 20% akan membuat tegangan menjadi rendah dan sel baterai bekerja keras untuk menyuplai daya. Sedangkan, di atas 80%, tegangan menjadi sangat tinggi dan suhu internal meningkat, yang perlahan menggerus kesehatan baterai.

Oleh karena itu, banyak pabrikan ponsel (seperti Apple dan Samsung) kini menyertakan fitur pembatas pengisian daya yang otomatis berhenti di 80%. Mengaktifkan fitur ini atau mencabut kabel sebelum 100% adalah investasi terbaik untuk umur panjang perangkat.

3. Musuh Utama Adalah Panas, Bukan Kabel

Banyak orang takut menggunakan ponsel saat sedang diisi daya. Faktanya, menggunakan ponsel saat mengecas aman-aman saja, selama suhu terjaga.

Musuh nomor satu baterai adalah suhu panas.

Mengisi daya dengan casing tebal yang memerangkap panas, atau bermain game berat sambil mengecas (yang membuat mesin panas ganda), akan merusak struktur kimia baterai. Sangat disarankan untuk melepas casing pelindung saat melakukan pengisian daya, terutama jika menggunakan fitur Fast Charging yang secara alami menghasilkan panas lebih tinggi.

4. Fakta Tentang Mengecas Semalaman

Mitos bahwa mengecas semalaman akan membuat baterai meledak sudah tidak berlaku. Ponsel pintar modern memiliki chip pemutus arus otomatis saat baterai penuh.

Namun, kebiasaan ini tetap tidak disarankan karena masalah trickle charging. Saat baterai turun ke 99%, pengisi daya akan menyuntikkan sedikit daya lagi untuk kembali ke 100%. Proses ini terjadi berulang kali sepanjang malam, menjaga suhu baterai tetap hangat dan berada di tekanan tegangan tinggi (100%) selama berjam-jam.

Solusinya, gunakan fitur Optimized Battery Charging yang tersedia di pengaturan. Fitur ini akan menahan pengisian di angka 80% sepanjang malam, dan baru memenuhkan ke 100% tepat sebelum pengguna bangun tidur (mempelajari pola kebiasaan bangun pagi pengguna).

5. Jangan Tergiur "Fast Charging" Setiap Saat

Teknologi pengisian cepat (Fast Charging) memang sangat membantu di saat darurat. Namun, menyuntikkan daya besar dalam waktu singkat menghasilkan panas berlebih.

Untuk penggunaan harian biasa, misalnya saat sedang bekerja di meja kantor atau tidur malam, menggunakan kepala pengisi daya (charger) dengan daya standar (lambat) justru lebih baik untuk keawetan kimiawi baterai dalam jangka panjang. Gunakan fitur Fast Charging hanya saat sedang terburu-buru.

Logo Radio
🔴 Radio Live