Ceritra
Ceritra Warga

Menjadi Miskin Adalah Dosa Paling Mematikan di Mata Masyarakat yang Gila Hormat

Nisrina - Saturday, 24 January 2026 | 03:15 PM

Background
Menjadi Miskin Adalah Dosa Paling Mematikan di Mata Masyarakat yang Gila Hormat
(Flickr/Yudha P Sunandar)

Banyak orang naif yang mengira bahwa penderitaan terbesar menjadi miskin hanyalah soal perut yang keroncongan atau atap rumah yang bocor. Padahal ada siksa neraka duniawi yang jauh lebih kejam daripada sekadar dompet kosong melompong. Hal paling mengerikan dari kemiskinan adalah bagaimana masyarakat memperlakukan Anda seolah-olah Anda adalah hama yang harus dibasmi.

Menjadi miskin di dunia yang kapitalis ini rasanya seperti menjadi terdakwa yang sudah divonis bersalah tanpa pengadilan. Orang-orang menatap kaum papa bukan sebagai manusia yang punya hati dan perasaan. Mereka dianggap sebagai objek pengganggu pemandangan yang merusak estetika kota metropolitan yang gemerlap.

Coba perhatikan bagaimana kaum berduit memandang mereka yang hidup menggelandang di pinggir jalan. Tatapan jijik dan gestur menutup hidung itu lebih menyayat hati daripada rasa lapar yang sudah ditahan tiga hari. Seolah-olah kemiskinan adalah penyakit menular berbahaya yang bisa menjangkiti siapa saja hanya lewat kontak mata.

Stereotip jahat pun menempel di jidat orang miskin seakan itu adalah tato permanen yang tidak bisa dihapus laser. Jika Anda miskin, otomatis masyarakat akan mengecap Anda sebagai pemalas yang tidak mau berusaha atau pecandu yang tidak punya masa depan. Padahal kerja keras kuli panggul di pasar jauh lebih mematikan tulang daripada CEO yang kerjanya cuma tanda tangan sambil ngopi cantik.

Yang paling bikin darah mendidih adalah hilangnya hak istimewa untuk didengar dan dianggap ada. Suara orang miskin sering kali dianggap angin lalu atau sekadar gangguan audio di telinga para pejabat. Opini mereka tidak pernah dihitung karena dianggap tidak punya kapasitas intelektual hanya karena baju mereka lusuh.

Bahkan birokrasi negara yang katanya mengayomi rakyat kecil sering kali justru menjadi algojo paling sadis. Mengurus administrasi bagi orang miskin rasanya seperti mengikuti simulasi masuk neraka jalur VIP yang penuh rintangan. Semuanya dipersulit dan diputar-putar seakan waktu orang miskin itu tidak ada harganya sama sekali.

Bantuan sosial yang turun pun sering kali dibarengi dengan hilangnya martabat kemanusiaan sang penerima. Mereka harus rela berdesak-desakan dan difoto seperti hewan sirkus demi sekarung beras yang tidak seberapa. Rasa malu karena harus mengemis hak sendiri itu beban mentalnya lebih berat daripada memikul beton.

Arsitektur kota modern juga diam-diam bersekongkol untuk mengusir orang miskin dari ruang publik. Bangku taman didesain sedemikian rupa agar tidak bisa dipakai tidur oleh tunawisma yang kelelahan. Ini adalah bentuk kekejaman struktural yang membisikkan pesan bahwa orang miskin dilarang istirahat di sini.

Pada akhirnya kemiskinan merampok satu hal paling fundamental dari seorang manusia yaitu harga diri. Uang mungkin bisa dicari dengan kerja serabutan, tapi harga diri yang sudah diinjak-injak butuh seumur hidup untuk pulih kembali. Kita hidup di zaman di mana saldo rekening menentukan seberapa manusiawi Anda boleh diperlakukan.

Jadi berhentilah berlagak sok bijak dengan kutipan motivasi sukses yang basi itu di depan mereka. Masalah utama mereka bukan kurang motivasi, tapi perlakuan biadab dari lingkungan sekitar yang merasa lebih suci. Mulailah memanusiakan manusia sebelum karma datang menampar bolak-balik wajah sombong kita.

Logo Radio
🔴 Radio Live