Ceritra
Ceritra Warga

Mengenal Kemiskinan Struktural Jebakan Sistem Bukan Kemalasan

Nisrina - Sunday, 15 February 2026 | 01:15 PM

Background
Mengenal Kemiskinan Struktural Jebakan Sistem Bukan Kemalasan
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Andri Saputra)

Sering kali kita mendengar komentar miring di tengah masyarakat yang menyudutkan kelompok prasejahtera. Banyak orang dengan mudahnya melontarkan pandangan bahwa mereka yang hidup miskin adalah orang orang yang malas bekerja kurang berusaha atau tidak memiliki motivasi untuk maju. Pandangan yang menyederhanakan masalah ini telah mengakar kuat dan menciptakan stigma negatif yang sangat kejam bagi kelompok masyarakat bawah.

Faktanya jika kita melihat realitas di lapangan para pekerja kasar seperti kuli bangunan buruh tani hingga pedagang asongan sering kali bekerja jauh lebih keras dan lebih lama dibandingkan para pekerja kantoran. Mereka bangun sebelum matahari terbit dan baru pulang saat larut malam memeras keringat fisik hingga ke batas maksimal. Namun mengapa kehidupan ekonomi mereka tidak kunjung membaik dan seolah berjalan di tempat.

Jawaban dari pertanyaan besar ini terletak pada sebuah konsep sosiologi dan ekonomi yang dikenal dengan sebutan kemiskinan struktural. Mengutip berbagai ulasan pakar sosial fenomena ini membuktikan bahwa kemiskinan bukanlah murni kesalahan individu melainkan hasil dari konstruksi sistemik yang menjebak mereka.

Definisi dan Akar Kemiskinan Struktural di Masyarakat

Untuk memahami akar masalahnya kita harus membedakan antara kemiskinan kultural dan kemiskinan struktural. Kemiskinan kultural memang berkaitan dengan mentalitas atau budaya malas yang ada pada diri seseorang. Namun kemiskinan struktural adalah kondisi di mana sekelompok masyarakat terjebak dalam garis kemiskinan karena struktur sosial ekonomi dan politik yang ada tidak memberikan mereka akses atau kesempatan yang sama untuk maju.

Dalam sistem yang tidak berpihak ini masyarakat golongan bawah menghadapi tembok tebal yang tidak terlihat. Tembok ini menghalangi mereka untuk mendapatkan akses menuju pendidikan yang berkualitas layanan kesehatan yang memadai hingga akses terhadap permodalan untuk memulai usaha. Sistem hukum dan kebijakan publik yang berjalan sering kali lebih menguntungkan pemilik modal besar sementara kaum marginal semakin terpinggirkan tanpa daya.

Singkatnya kemiskinan struktural terjadi ketika aturan main dalam sebuah negara atau lingkungan masyarakat dirancang sedemikian rupa sehingga menyulitkan mobilitas vertikal. Seseorang yang lahir dari keluarga miskin akan sangat kesulitan untuk naik kelas menjadi kelas menengah bukan karena ia bodoh atau malas melainkan karena pintu menuju kesuksesan tersebut sudah dikunci rapat oleh ketimpangan sistem.

Mengapa Stigma Malas Sangat Keliru dan Menyesatkan

Menyalahkan kemalasan sebagai penyebab utama kemiskinan adalah sebuah bentuk penyangkalan terhadap realitas sosial yang timpang. Pandangan ini dikenal dengan istilah menyalahkan korban atau blaming the victim. Ketika masyarakat dan pemerintah sibuk menyalahkan kemalasan individu mereka secara tidak sadar sedang mencuci tangan dari tanggung jawab untuk memperbaiki sistem yang rusak.

Mari kita ambil contoh sederhana mengenai seorang nelayan tradisional. Nelayan tersebut bangun jam tiga pagi setiap hari menerjang ombak ganas dengan perahu kayu kecil untuk mencari ikan. Namun karena ia tidak memiliki akses modal untuk membeli kapal motor modern atau lemari pendingin tangkapan ikannya terbatas dan harus segera dijual murah kepada tengkulak yang menguasai harga pasar.

Dalam skenario ini sang nelayan sudah bekerja dengan sangat keras dan mempertaruhkan nyawanya. Kegagalannya untuk menjadi kaya sama sekali bukan karena ia malas. Ia tetap miskin karena sistem tata niaga perikanan dikuasai oleh segelintir pemodal besar dan negara gagal memberikan fasilitas infrastruktur yang mendukung produktivitasnya. Stigma malas hanya akan menutupi ketidakadilan yang sebenarnya terjadi di depan mata kita.

Faktor Utama Penyebab Terjadinya Jebakan Sistemik

Kemiskinan struktural tidak muncul secara tiba tiba. Kondisi ini merupakan hasil akumulasi dari berbagai faktor yang saling berkaitan satu sama lain. Faktor pertama dan yang paling berdampak besar adalah ketimpangan akses pendidikan. Anak anak dari keluarga kaya memiliki keistimewaan untuk masuk ke sekolah unggulan mengikuti bimbingan belajar mahal dan menembus universitas bergengsi. Sementara anak dari keluarga miskin sering kali harus putus sekolah karena kendala biaya atau terpaksa belajar di sekolah dengan fasilitas seadanya yang menghasilkan lulusan dengan daya saing rendah.

Faktor kedua adalah ketidakadilan dalam penguasaan lahan dan sumber daya alam. Di banyak negara berkembang termasuk Indonesia sebagian besar lahan produktif dikuasai oleh segelintir perusahaan raksasa atau korporasi. Petani di pedesaan perlahan lahan kehilangan tanah warisan mereka dan terpaksa turun kasta menjadi buruh tani yang diupah sangat murah. Tanpa aset berupa tanah mereka tidak memiliki alat produksi untuk menciptakan kekayaan.

Faktor ketiga adalah kebijakan pembangunan yang bias perkotaan atau urban bias. Pemerintah sering kali lebih memprioritaskan pembangunan infrastruktur megah di kota kota besar demi menarik investor asing. Sementara itu pembangunan jalan akses listrik dan fasilitas publik di daerah pelosok atau pedesaan sering kali diabaikan. Ketimpangan pembangunan ini membuat roda ekonomi di daerah terpencil menjadi mati dan memaksa warganya untuk melakukan urbanisasi ke kota meskipun harus tinggal di kawasan kumuh.

Lingkaran Setan Kemiskinan Lintas Generasi

Dampak paling mengerikan dari kemiskinan struktural adalah kemampuannya untuk mewariskan penderitaan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Fenomena ini sering disebut sebagai lingkaran setan kemiskinan.

Proses ini dimulai ketika orang tua yang miskin tidak mampu memberikan asupan gizi yang baik bagi anak anaknya. Anak yang kekurangan gizi sejak dalam kandungan akan mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan otak dan fisik. Akibatnya anak tersebut akan kesulitan menyerap pelajaran di sekolah. Ditambah dengan ketidakmampuan orang tua membiayai sekolah tinggi anak tersebut pada akhirnya hanya bisa mendapatkan pekerjaan kasar dengan upah minimum saat ia dewasa.

Ketika anak tersebut kemudian menikah dan memiliki keturunan ia akan menghadapi kesulitan ekonomi yang sama persis dengan orang tuanya dahulu. Siklus ini akan terus berputar seperti roda gigi yang saling mengunci menciptakan generasi miskin yang baru tanpa henti. Tanpa adanya intervensi besar besaran dari luar sistem individu di dalam pusaran ini hampir mustahil untuk bisa membebaskan diri mereka sendiri.

Contoh Nyata Korban Sistem di Sekitar Kita

Untuk melihat wujud nyata dari teori sosiologi ini kita hanya perlu mengamati lingkungan di sekitar kita. Kaum miskin kota adalah contoh yang paling representatif. Mereka adalah kelompok masyarakat yang terpinggirkan dari pembangunan kota metropolitan. Mereka terpaksa mendirikan pemukiman tidak layak huni di bantaran sungai atau kolong jembatan karena tidak mampu membeli rumah atau menyewa apartemen yang harganya dikendalikan oleh spekulan properti. Ketika ada proyek tata kota mereka sering kali menjadi korban penggusuran tanpa mendapatkan solusi relokasi yang manusiawi yang semakin menenggelamkan mereka ke dasar jurang kemiskinan.

Contoh lainnya adalah para buruh pabrik yang terjebak dalam sistem kerja kontrak atau alih daya (outsourcing). Sistem ketenagakerjaan ini dirancang untuk memberikan fleksibilitas bagi perusahaan perusahaan besar agar bisa menekan biaya operasional. Sayangnya fleksibilitas ini harus dibayar mahal oleh para buruh yang kehilangan kepastian kerja tidak mendapatkan tunjangan masa tua dan selalu berada di bawah bayang bayang pemutusan hubungan kerja sewaktu waktu. Mereka bekerja untuk memperkaya perusahaan multinasional namun hidup mereka sendiri terombang ambing dalam ketidakpastian.

Masyarakat adat yang tinggal di sekitar kawasan hutan juga sering kali menjadi korban kemiskinan struktural. Hutan yang selama ratusan tahun menjadi sumber kehidupan mereka tiba tiba diklaim oleh negara dan diserahkan konsesinya kepada perusahaan perkebunan kelapa sawit atau pertambangan. Masyarakat adat ini kemudian dilarang masuk ke hutan mereka sendiri kehilangan mata pencaharian tradisional dan dipaksa menjadi penonton di atas tanah leluhur mereka yang sedang dikeruk kekayaannya.

Langkah Konkret Memutus Rantai Kemiskinan Secara Menyeluruh

Mengatasi kemiskinan struktural membutuhkan komitmen politik yang sangat kuat dan keberanian untuk mengubah sistem yang selama ini hanya menguntungkan kaum elit. Bantuan sosial berupa uang tunai atau pembagian sembako memang penting untuk mengatasi krisis jangka pendek namun bantuan tersebut hanyalah obat pereda nyeri yang tidak menyembuhkan penyakit utamanya.

Solusi pertama yang harus diambil adalah reformasi agraria yang sejati. Pemerintah harus mendistribusikan ulang lahan lahan yang menganggur atau dikuasai oleh monopoli kepada para petani kecil agar mereka kembali memiliki aset produksi. Petani harus diberdayakan dengan teknologi pertanian penyediaan pupuk bersubsidi dan perlindungan harga panen dari tengkulak yang memonopoli pasar.

Solusi kedua adalah demokratisasi akses pendidikan dan kesehatan. Pendidikan berkualitas dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi harus bisa diakses secara gratis oleh seluruh anak bangsa tanpa memandang latar belakang ekonomi orang tuanya. Pemerintah juga wajib menjamin akses kesehatan gratis yang berkualitas agar masyarakat miskin tidak perlu takut jatuh bangkrut hanya karena anggota keluarga mereka jatuh sakit dan membutuhkan perawatan medis.

Solusi ketiga adalah penciptaan kebijakan ketenagakerjaan yang adil dan berpihak pada kesejahteraan pekerja. Sistem kerja kontrak yang mengeksploitasi tenaga buruh harus dihapuskan dan diganti dengan jaminan kepastian kerja perlindungan hak asasi pekerja serta penetapan upah minimum yang benar benar mampu memenuhi standar hidup layak bagi buruh beserta keluarganya.

Pada akhirnya menghapuskan kemiskinan struktural bukanlah tugas yang bisa diselesaikan dalam waktu satu atau dua tahun. Ini adalah perjuangan panjang untuk meruntuhkan tembok ketidakadilan dan membangun fondasi negara kesejahteraan. Berhenti menyalahkan kemalasan individu dan mulai mengkritisi kebijakan yang menindas adalah langkah kesadaran pertama yang harus kita ambil bersama. Negara yang adil bukanlah negara yang memiliki segelintir miliarder super kaya melainkan negara di mana tidak ada satu pun warga negaranya yang tertinggal dalam lubang kemiskinan akibat sistem yang menjebak.

Logo Radio
🔴 Radio Live