Ceritra
Ceritra Update

Mengupas Sisi Gelap Estetika Y2K

Nisrina - Tuesday, 16 December 2025 | 12:57 PM

Background
Mengupas Sisi Gelap Estetika Y2K
Y2K Style (Vogue Australia/)

Dunia mode memiliki siklus alami yang selalu berulang setiap dua dekade. Saat ini kita sedang berada di puncak gelombang nostalgia tahun 2000-an atau yang populer disebut sebagai estetika Y2K. Generasi muda kini merayakan kembali gaya yang pernah dipopulerkan oleh ikon pop seperti Britney Spears dan Paris Hilton. Simbol paling kuat dari kebangkitan era ini adalah low-rise jeans atau celana dengan potongan pinggang sangat rendah yang mengekspos bagian perut dan pinggul.

Sekilas fenomena ini tampak seperti perputaran tren busana biasa. Namun bagi banyak perempuan yang tumbuh dewasa di awal milenium, kembalinya low-rise jeans memicu kekhawatiran mendalam. Tren ini tidak hadir dengan lugu karena ia membawa serta standar kecantikan masa lalu yang sangat toksik. Kita sedang melihat bangkitnya kembali obsesi terhadap kekurusan ekstrem yang berpotensi menghancurkan kesehatan mental perempuan muda.


Masalah utama dari low-rise jeans bukan terletak pada desainnya semata melainkan pada tuntutan fisik yang menyertainya. Berbeda dengan high-waist jeans yang memberikan rasa aman dengan menutupi dan memeluk lekuk tubuh, celana berpinggang rendah memiliki sifat yang menuntut. Potongan ini secara visual memaksa penggunanya untuk memiliki perut rata tanpa lemak agar terlihat pantas saat memakainya.

Tren ini seolah menghidupkan kembali era heroin chic atau size zero di mana tulang pinggul yang menonjol dianggap sebagai pencapaian estetika tertinggi. Narasi yang terbangun secara bawah sadar sangatlah berbahaya. Narasi tersebut mengatakan bahwa jika tubuh Anda tidak muat atau tidak terlihat bagus dalam celana ini, maka tubuh Andalah yang salah dan bukan celananya.

Tekanan ini jauh lebih berat dibandingkan era 2000-an karena kehadiran media sosial. Jika dulu standar kecantikan hanya terpampang di majalah bulanan, kini standar itu ada di genggaman tangan setiap detik melalui TikTok dan Instagram. Algoritma media sosial kerap memperparah situasi dengan menyajikan konten yang memuliakan tipe tubuh tertentu sehingga memicu rasa tidak aman yang persisten pada remaja putri.

Dampak psikologis dari tren ini sangat nyata. Obsesi untuk bisa tampil sempurna dengan low-rise jeans berisiko besar menjadi pintu gerbang bagi gangguan makan atau Eating Disorders seperti anoreksia dan bulimia. Keinginan untuk mengecilkan perut demi mengikuti mode bisa berubah menjadi perilaku restriktif yang membahayakan nyawa.

Selain itu, tren ini juga menyuburkan Body Dysmorphic Disorder atau gangguan dismorfik tubuh. Ini adalah kondisi kesehatan mental di mana seseorang menjadi cemas berlebihan terhadap kekurangan fisik yang dirasakannya. Remaja yang sedang dalam masa pubertas dan mengalami perubahan bentuk tubuh alami menjadi kelompok yang paling rentan. Mereka mungkin mulai memandang tubuh mereka dengan rasa jijik atau malu hanya karena tidak sesuai dengan cetakan sempit yang dibuat oleh industri mode.


Peran Krusial Orang Tua

Dalam situasi yang penuh tekanan ini, peran orang tua menjadi sangat vital. Sayangnya sering kali orang tua justru menjadi pihak yang memperparah rasa tidak aman pada anak tanpa disadari. Banyak orang tua yang memproyeksikan ketakutan mereka sendiri akan kenaikan berat badan kepada anak-anaknya.

Bayangkan skenario ketika seorang remaja bertubuh besar atau curvy ingin mencoba tren low-rise jeans. Respons orang tua di momen ini sangat menentukan masa depan mental anak. Komentar seperti larangan memakai model tersebut karena perut terlihat buncit atau saran untuk diet ketat agar pantas memakai baju kekinian adalah bentuk kekerasan verbal yang halus namun menyakitkan. Hal ini mengajarkan anak bahwa nilai diri mereka bergantung pada angka di timbangan dan validasi orang lain.

Orang tua seharusnya hadir sebagai penawar racun dari kejamnya standar sosial. Rumah harus menjadi ruang aman atau safe space di mana anak merasa diterima secara utuh. Orang tua perlu menyadari bahwa tugas mereka bukan menjadi polisi mode yang mengkritik tubuh anak melainkan menjadi pendukung yang membangun kepercayaan diri.


Memberikan Ruang Aman dan Edukasi

Alih-alih memaksakan citra tubuh ideal kepada anak, orang tua dapat mengambil pendekatan yang lebih humanis dan edukatif.

Pertama adalah menanamkan konsep netralitas tubuh. Ajarkan anak bahwa tubuh adalah instrumen untuk hidup, berkarya, dan berpetualang, bukan sekadar objek pajangan. Kesehatan jauh lebih penting daripada ukuran celana.

Kedua adalah memisahkan gaya dari bentuk tubuh. Bantu anak menemukan gaya pakaian yang membuat mereka merasa nyaman dan percaya diri tanpa harus memaksakan diri masuk ke dalam tren yang menyiksa. Mode seharusnya melayani manusia, bukan manusia yang menjadi budak mode.

Ketiga adalah menjadi teladan. Anak adalah peniru ulung. Jika orang tua sering mengeluh tentang berat badan sendiri atau melakukan diet ekstrem di depan anak, maka anak akan menyerap kecemasan tersebut. Orang tua perlu berdamai dengan tubuh mereka sendiri untuk bisa membesarkan anak yang juga mencintai tubuhnya.

Kembalinya low-rise jeans adalah pengingat keras bagi kita semua. Jangan biarkan selembar kain mendefinisikan harga diri kita atau anak-anak kita. Kita memiliki kekuatan untuk menolak didikte oleh tren dan memilih untuk merayakan keberagaman bentuk tubuh dengan cara yang sehat dan membebaskan.

Logo Radio
🔴 Radio Live