Ceritra
Ceritra Warga

Mengenal Tiga 'Kasta' dalam Dunia Keramik Agar Tak Salah Pilih

Refa - Wednesday, 17 December 2025 | 12:00 PM

Background
Mengenal Tiga 'Kasta' dalam Dunia Keramik Agar Tak Salah Pilih
Ilustrasi Gerabah (Pinterest/Pandooin)

Tren kelas tembikar (pottery class) dan berburu piring cantik (tableware) sedang menjamur di kalangan masyarakat urban. Namun, di balik bentuknya yang estetik, banyak pembeli yang belum memahami bahwa tidak semua keramik diciptakan sama.

Sering kali, istilah "gerabah" digunakan secara pukul rata untuk menyebut semua benda dari tanah liat. Padahal, dalam dunia seni keramik, terdapat tingkatan atau "kasta" yang membedakan kualitas, kekuatan, dan kegunaannya.

Perbedaan ini ditentukan oleh jenis tanah yang dipakai dan suhu pembakarannya. Berikut adalah tiga jenis utama keramik yang wajib diketahui agar konsumen tidak salah membeli.

1. Earthenware

Jenis pertama dan yang paling dasar adalah Earthenware. Inilah yang secara teknis benar disebut sebagai Gerabah.

Ciri khas utamanya adalah warna yang matang kemerahan atau cokelat terakota, seperti yang banyak ditemukan pada genteng rumah, pot tanaman, atau kerajinan tradisional dari Desa Kasongan, Yogyakarta dan Desa Banyumulek, Lombok.

Gerabah dibakar pada suhu rendah (sekitar 900°C1.100°C). Akibatnya, partikel tanahnya belum menyatu sempurna sehingga masih memiliki pori-pori (porous).

Sifat berpori ini membuat gerabah sangat ideal untuk pot tanaman karena akar bisa "bernapas" dan suhu tanah tetap sejuk. Namun, untuk peralatan makan, gerabah wajib dilapisi glasir (lapisan kaca). Tanpa glasir, air minum akan merembes keluar dari dinding gelas gerabah. Sifatnya juga lebih rapuh dan mudah gompel dibandingkan jenis lainnya.

2. Stoneware

Naik satu tingkat di atas gerabah, terdapat Stoneware. Sesuai namanya, jenis ini memiliki karakter sekeras batu (stone).

Stoneware dibakar pada suhu tinggi (1.200°C1.300°C) hingga mengalami proses vitrifikasi, di mana partikel tanah meleleh dan menyatu menjadi padat dan kedap air.

Inilah jenis keramik yang paling umum digunakan sebagai piring makan di kafe-kafe modern atau studio pottery. Warnanya lebih variatif, mulai dari abu-abu, krem, hingga berbintik, dan terasa lebih berat serta kokoh. Stoneware sangat populer karena durabilitasnya yang tinggi; tahan goresan pisau, aman masuk microwave, dan aman dicuci di mesin pencuci piring otomatis.

3. Porcelain

Di kasta tertinggi terdapat Porcelain atau Porselen. Ini adalah jenis keramik yang diproduksi di pusat-pusat keramik legendaris dunia, seperti di Okawachiyama, Jepang atau Jingdezhen, Tiongkok.

Dibuat dari tanah lempung murni bernama Kaolin, porselen dibakar pada suhu ekstrem di atas 1.300°C. Hasilnya adalah keramik yang sangat putih, halus, dan memiliki satu keajaiban fisika, yaitu tembus cahaya (translucent).

Jika sebuah cangkir porselen asli disorot senter dari dalam, cahaya akan tembus berpendar keluar. Selain itu, jika diketuk dengan jari, porselen akan mengeluarkan suara denting nyaring ("Ting!") seperti logam, berbeda dengan gerabah yang suaranya terdengar berat dan mendem ("Bug!").

Meskipun terlihat tipis dan rapuh, porselen sebenarnya sangat keras dan padat, namun harganya cenderung paling mahal karena proses pembuatannya yang rumit.

Tips Bagi Konsumen

Memahami perbedaan ini sangat penting bagi konsumen. Jika mencari pot untuk tanaman agar subur, pilihlah Gerabah (Earthenware) yang berpori.

Namun, untuk piring makan harian yang "tahan banting" dan sering dicuci, Stoneware adalah pilihan paling bijak. Sementara itu, simpanlah koleksi Porselen untuk jamuan makan spesial atau sebagai dekorasi rumah yang bernilai seni tinggi.

Logo Radio
🔴 Radio Live