Ceritra
Ceritra Cinta

Mengenal Peter Pan Syndrome yang Menguras Hati

Nisrina - Tuesday, 30 December 2025 | 11:13 AM

Background
Mengenal Peter Pan Syndrome yang Menguras Hati
Ilustrasi hubungan pasangan yang menguras hati (Freepik/)

Pernahkah Anda merasa sedang menjalin hubungan asmara dengan seorang pria dewasa yang secara fisik terlihat matang namun perilaku dan pola pikirnya justru mengingatkan Anda pada adik laki-laki yang masih duduk di bangku sekolah dasar? Jika Anda sering merasa lelah karena harus terus-menerus membujuk pasangan atau membereskan kekacauan yang ia buat maka bisa jadi Anda sedang berhadapan dengan fenomena yang disebut Peter Pan Syndrome. Istilah unik ini pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Dr. Dan Kiley pada tahun 1983 melalui bukunya untuk menggambarkan para pria yang menolak untuk tumbuh dewasa. Perlu dicatat bahwa ini bukanlah gangguan mental resmi yang tercatat secara medis melainkan sebuah fenomena psikologis sosial yang menggambarkan ketidakmampuan seseorang untuk mencapai kematangan emosional sesuai usianya.

Ciri-ciri pria yang terjangkit sindrom ini sebenarnya cukup terang benderang jika kita mau melihatnya dengan jeli. Tanda yang paling mencolok adalah ketidakmauan mereka untuk memikul tanggung jawab. Peneliti Brooks dan Goldstein dalam studinya tahun 2001 menyebutkan bahwa individu dengan ketidakmatangan emosional cenderung melakukan avoidance behavior atau perilaku menghindar setiap kali dihadapkan pada kewajiban. Selain itu emosi mereka sangat tidak stabil dan gampang meledak-ledak layaknya balita yang sedang tantrum ketika keinginannya tidak terpenuhi. Bukannya menghadapi masalah dengan kepala dingin, mereka justru memiliki kebiasaan buruk untuk kabur dari masalah atau menyalahkan keadaan. Parahnya lagi mereka sering kali memiliki ketergantungan yang akut baik secara emosional maupun finansial kepada orang lain, entah itu kepada orang tua mereka atau bahkan membebani pasangan mereka sendiri.

Perilaku kekanak-kanakan ini tentu tidak muncul begitu saja dari ruang hampa karena akar masalahnya sering kali tertanam jauh di masa lalu. Pola asuh orang tua memegang peranan kunci, terutama gaya didikan yang terlalu memanjakan di mana anak tidak pernah dibiarkan merasakan konsekuensi pahit dari kesalahannya sendiri. Anak yang selalu dilindungi dari kegagalan akan tumbuh menjadi dewasa yang rapuh. Selain itu kurangnya figur ayah atau absennya contoh laki-laki dewasa yang bertanggung jawab di dalam rumah juga menjadi faktor pendorong utama. Tanpa adanya role model yang mengajarkan ketangguhan dan integritas, anak laki-laki ini tumbuh dengan definisi yang kabur tentang apa artinya menjadi seorang pria dewasa.

Dampak menjalin asmara dengan seorang "Peter Pan" sangatlah destruktif bagi kesehatan mental pasangannya. Alih-alih mendapatkan mitra sejajar untuk membangun masa depan, Anda justru akan merasa seperti seorang pengasuh atau babysitter yang harus mengurus anak besar. Anda akan merasa sulit untuk berkembang karena energi Anda habis tersedot untuk mengurusi drama emosionalnya yang tidak berkesudahan. Melansir dari Psychology Today pada tahun 2022, hubungan dengan individu yang tidak matang secara emosional sangat sering berakhir dengan kelelahan emosional parah bagi pasangannya. Hubungan yang sehat membutuhkan dua orang dewasa yang siap bekerja sama, bukan satu orang yang berjuang sendirian sementara yang lainnya sibuk bermain-main di dunia fantasinya sendiri.

Logo Radio
🔴 Radio Live