Ceritra
Ceritra Warga

Mengapa Gorengan Jadi Musuh Utama Kulit di Bulan Ramadan?

Refa - Friday, 20 February 2026 | 04:00 PM

Background
Mengapa Gorengan Jadi Musuh Utama Kulit di Bulan Ramadan?
Gorengan (Freepik/freestockcenter)

Gorengan: Kenikmatan Sesaat yang Berujung Glow Down di Hari Raya

Mari kita jujur satu sama lain. Ritual berbuka puasa di Indonesia itu rasanya belum sah kalau belum ada piring berisi tumpukan bakwan, tempe mendoan, tahu isi, dan kawan-kawannya yang bersinar keemasan karena minyak. Gorengan adalah kasta tertinggi dalam dunia takjil. Suara kriuknya saat digigit, dipadukan dengan cocolan sambal kacang atau gigitan cabai rawit, adalah simfoni kebahagiaan setelah belasan jam menahan lapar. Tapi, di balik kenikmatan yang bikin merem-melek itu, ada ancaman nyata yang mengintai tepat di atas permukaan wajah kita. Ya, kita bicara soal jerawat.

Mungkin kamu pernah merasa, baru beberapa hari puasa, kok tiba-tiba di dahi muncul "gunung merapi" kecil yang merah dan nyeri? Atau pipi yang biasanya mulus tiba-tiba jadi bertekstur kasar mirip aspal jalanan yang butuh perbaikan? Kalau sudah begini, jangan buru-buru menyalahkan skincare kamu yang mahal itu. Coba cek lagi piring takjilmu. Bisa jadi, itu adalah akumulasi dari rasa rakus kita terhadap minyak goreng yang sudah dipakai berkali-kali oleh abang penjual gorengan di pinggir jalan.

Kenapa Gorengan Hobi Banget Ngajak Berantem Sama Kulit?

Secara ilmiah, gorengan itu adalah paket lengkap bencana buat kulit. Masalah utamanya bukan cuma di minyaknya, tapi juga di tepungnya. Mayoritas gorengan yang kita konsumsi itu didominasi oleh tepung terigu putih yang punya indeks glikemik tinggi. Ketika kamu berbuka dengan makanan ber-indeks glikemik tinggi, kadar gula darah kamu bakal melonjak drastis. Tubuh pun bereaksi dengan memproduksi hormon insulin secara besar-besaran.

Masalahnya, lonjakan insulin ini nggak sendirian. Dia mengajak gengnya yang bernama hormon androgen untuk ikutan naik. Nah, si androgen inilah biang keroknya. Dia memicu kelenjar minyak (sebaceous glands) untuk bekerja lembur memproduksi sebum secara berlebihan. Bayangkan wajahmu jadi seperti penggorengan hidup; minyak berlebih ketemu debu dan bakteri, lalu masuk ke pori-pori. Boom! Selamat datang, jerawat meradang.

Belum lagi soal lemak trans yang terkandung dalam minyak goreng yang sudah dipanaskan berulang kali. Lemak jenis ini bersifat pro-inflamasi alias memicu peradangan. Jadi, kalau kamu sudah punya bakat jerawatan, makan gorengan berlebihan itu ibarat menyiram bensin ke api yang sedang menyala. Bukannya makin glowing menjelang Lebaran, yang ada malah makin "glow down" karena wajah penuh bekas jerawat yang menghitam.

Dilema Kaum Mendang-Mending: Enak di Lidah, Susah di Wajah

Kita sering terjebak dalam pola pikir "ah, cuma satu biji doang nggak apa-apalah." Tapi mari kita realistis, siapa sih yang sanggup makan bakwan cuma satu? Biasanya, satu bakwan itu cuma pembuka, lalu diikuti tempe, tahu, dan diakhiri dengan pisang goreng sebagai pencuci mulut. Tanpa sadar, asupan lemak jenuh kita sudah melampaui batas harian hanya dalam waktu sepuluh menit berbuka puasa.

Banyak dari kita yang lebih rela menghabiskan jutaan rupiah untuk beli serum vitamin C atau treatment laser di klinik kecantikan, tapi masih nggak sanggup ngerem nafsu makan gorengan. Ini tuh ibarat kamu lagi ngepel lantai pas atap bocor dan hujan deras. Capek di tenaga, habis di biaya, tapi hasilnya nol besar. Kulit yang sehat itu bermula dari apa yang masuk ke perut, bukan cuma apa yang ditempel di muka.

Sejujurnya, tren "Acne Alert" saat Ramadhan ini bukan hal baru. Para ahli dermatologi sering banget kedatangan pasien yang "panen" jerawat justru di bulan suci. Alasannya klasik: kurang minum air putih, kurang tidur karena bangun sahur, dan tentu saja, konsumsi makanan berminyak dan manis yang ugal-ugalan. Kita seringkali memanjakan lidah sebagai bentuk "self-reward" karena sudah kuat puasa seharian, padahal kulit kita sedang menjerit minta tolong.

Gimana Caranya Biar Tetap Bisa Makan Enak Tapi Kulit Aman?

Tenang, artikel ini bukan bermaksud menyuruhmu jadi "bhikkhu" yang cuma makan rebusan selama sebulan penuh. Kita masih bisa kok menikmati Ramadhan tanpa harus bermusuhan sama gorengan. Kuncinya adalah moderasi dan strategi. Pertama, jangan jadikan gorengan sebagai menu utama buka puasa. Mulailah dengan kurma dan air putih. Kurma memberikan energi instan dengan cara yang lebih ramah buat sistem tubuhmu dibandingkan tepung gorengan yang berminyak.

Kedua, kalau memang sudah nggak tahan pengen makan bakwan, batasi jumlahnya. Cukup satu atau dua saja, jangan seplastik dihabiskan sendiri sambil nonton sinetron. Ketiga, imbangi dengan asupan serat. Sayuran hijau dan buah-buahan yang kaya antioksidan bisa membantu tubuh melawan peradangan yang disebabkan oleh si gorengan tadi. Semangka atau melon yang segar juga jauh lebih bagus buat hidrasi kulitmu daripada es teh manis yang gulanya selangit.

Terakhir, jangan malas cuci muka setelah berbuka. Seringkali sisa minyak dari makanan yang kita pegang atau uap dari makanan panas menempel di area sekitar mulut dan pipi. Kalau nggak segera dibersihkan, ya jangan kaget kalau besok paginya muncul jerawat kecil-kecil alias bruntusan di area tersebut. Ingat, target kita adalah punya wajah yang bersih dan cerah pas pakai baju baru di hari Lebaran nanti. Jangan sampai pas kumpul keluarga, yang dibahas saudara bukan prestasi atau pekerjaanmu, tapi "Kok jerawatnya makin banyak, ya?"

Pada akhirnya, kesehatan kulit adalah investasi jangka panjang. Gorengan itu memang enak, tapi dia adalah mantan yang toxic: memberikan kebahagiaan sesaat tapi meninggalkan luka (dan bekas jerawat) yang lama hilangnya. Jadi, yuk lebih bijak pilih takjil. Kulitmu bakal berterima kasih banget kalau kamu sesekali memilih buah potong daripada tahu isi yang minyaknya bisa buat goreng telur itu. Stay glowing, bestie!

Logo Radio
🔴 Radio Live