Hebatnya Ibu Bekerja: Bangun Sahur Lalu Kejar Target Kantor
Nisrina - Friday, 20 February 2026 | 06:15 PM


Dilema Wonder Woman di Bulan Ramadan: Saat Sahur dan Deadline Kantor Menjadi Satu Paket
Bayangkan skenario ini: Jam menunjukkan pukul 03.15 pagi. Di saat sebagian besar penghuni bumi masih terbuai mimpi indah, seorang perempuan—panggil saja dia Ibu Bekerja—sudah harus bergulat dengan dinginnya air keran dan uap panas dari rice cooker. Matanya mungkin masih setengah terpejam, tapi otaknya sudah berputar cepat memikirkan menu sahur yang cukup bergizi agar anak dan suaminya kuat berpuasa hingga maghrib nanti. Padahal, beberapa jam kemudian, dia harus bertransformasi menjadi profesional yang tangguh di kantor, menghadapi tumpukan file, meeting maraton, hingga tekanan target yang tidak kenal kata libur.
Fenomena ini bukan hal baru, tapi selalu menarik untuk dibedah setiap kali Ramadan tiba. Kita sering menyebutnya sebagai "beban ganda". Sebuah istilah yang terdengar akademis, tapi realitanya sangatlah melelahkan secara fisik dan mental. Di tengah euforia bulan suci yang penuh berkah, terselip sebuah isu klasik tentang peran gender yang sering kali timpang di dalam rumah tangga. Kenapa, ya, seolah-olah urusan dapur dan domestik itu secara otomatis menjadi "tugas utama" perempuan, bahkan ketika dia juga memiliki tanggung jawab profesional yang sama besarnya dengan laki-laki?
Mitos Multitasking dan Jebakan Tradisi
Sering kali kita mendengar seloroh kalau perempuan itu hebat karena bisa multitasking. Memang terdengar seperti pujian, tapi jujur saja, label ini kadang menjadi jebakan Batman. Karena dianggap bisa melakukan segalanya, akhirnya semua beban ditumpuk di pundak perempuan. Selama Ramadan, ekspektasi ini meningkat berkali lipat. Si perempuan diharapkan bangun paling pagi untuk menyiapkan sahur, membereskan cucian piring setelahnya, berangkat kerja dengan performa prima, dan pulang tepat waktu (sambil berburu takjil atau langsung masak) untuk menyiapkan berbuka.
Mari kita bicara jujur: tidak ada manusia yang benar-benar punya energi tak terbatas. Kelelahan yang menumpuk ini bukan hanya soal fisik yang pegal-pegal, tapi juga soal mental load atau beban pikiran. Memikirkan "besok sahur pakai apa ya?" atau "nanti buka puasa sempat masak nggak ya?" adalah kerja kognitif yang menguras energi. Jika pola ini dibiarkan terus-menerus tanpa adanya distribusi peran yang adil, jangan kaget kalau di tengah bulan puasa, sang ibu jadi lebih mudah burnout atau emosional. Niatnya ingin mengejar ibadah, eh malah berakhir dengan stres karena merasa sendirian berjuang di "medan tempur" domestik.
Komunikasi: Kunci Utama Sebelum Emosi Meledak
Masalahnya sering kali berakar pada komunikasi yang mampet. Banyak suami yang bukannya tidak mau membantu, tapi mereka merasa "tidak perlu" membantu karena melihat sang istri seolah-olah baik-baik saja dan mampu menghandle semuanya. Di sisi lain, sang istri merasa segan atau merasa sudah menjadi kodratnya untuk melayani, sehingga dia memilih diam dan memendam rasa lelahnya sendiri.
Padahal, rumah tangga itu ibarat sebuah tim di perusahaan startup. Kalau salah satu personilnya overworked, performa tim secara keseluruhan pasti akan menurun. Bulan Ramadan seharusnya menjadi momen yang tepat untuk mengevaluasi pembagian peran ini. Komunikasi tidak harus formal seperti sidang pleno, kok. Bisa sambil santai setelah salat Tarawih, bicarakan secara terbuka soal apa yang dirasakan. Katakan dengan jujur, "Sayang, aku capek kalau harus bangun paling awal setiap hari sendirian, boleh tidak kalau kamu yang bagian nyuci piring atau menyiapkan air minum?"
Bergerak dari "Membantu" ke "Bekerja Sama"
Ada satu pola pikir yang harus diubah oleh para suami: berhentilah menggunakan kata "membantu" istri. Kenapa? Karena kata membantu menyiratkan bahwa pekerjaan rumah tangga adalah murni kewajiban istri, dan suami hanya sekadar relawan yang berbaik hati memberikan tenaga tambahan. Padahal, urusan makan sahur dan berbuka adalah kebutuhan bersama, yang artinya tanggung jawabnya pun harus dibagi bersama.
Solusi praktisnya bisa sangat beragam dan fleksibel, tergantung kesepakatan masing-masing pasangan. Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan agar beban tidak menumpuk di satu orang:
- Sistem Shift Sahur: Jika istri yang memasak, maka suami yang bertugas mencuci semua peralatan masak dan piring setelah sahur. Atau sebaliknya, jika istri menyiapkan sahur, suami yang bertugas membangunkan anak-anak dan menyiapkan meja makan.
- Food Prep adalah Penyelamat: Manfaatkan waktu akhir pekan untuk melakukan food preparation bersama. Potong sayur, ungkep ayam, atau buat bumbu dasar bareng-bareng. Ini akan sangat memangkas waktu memasak di saat subuh yang krusial.
- Delegasi Tugas ke Teknologi: Jangan ragu menggunakan alat bantu jika anggaran memungkinkan. Pakai mesin cuci, beli makanan jadi sesekali kalau memang sudah terlalu lelah, atau gunakan layanan antar makanan. Ingat, tidak masak sendiri bukan berarti kamu gagal menjadi ibu atau istri.
- Apresiasi yang Tulus: Kadang, rasa lelah itu hilang hanya dengan ucapan terima kasih yang tulus dan pengakuan bahwa apa yang dilakukan sang istri sangat berarti bagi keluarga.
Ramadan yang Lebih Bermakna untuk Semua
Pada akhirnya, esensi dari bulan Ramadan adalah meningkatkan ketakwaan dan mempererat silaturahmi, termasuk hubungan suami-istri. Sangat ironis jika di bulan yang penuh rahmat ini, rumah tangga justru diwarnai dengan ketegangan karena salah satu pihak merasa dieksploitasi tenaganya. Perempuan bekerja bukanlah robot yang punya baterai cadangan. Mereka adalah manusia biasa yang butuh istirahat, butuh waktu untuk tadarus tanpa interupsi, dan butuh dukungan penuh dari pasangannya.
Dengan membagi peran secara adil, Ramadan tidak lagi menjadi momok yang melelahkan bagi para perempuan bekerja, melainkan menjadi momen kerja sama yang manis. Ketika suami mau turun ke dapur tanpa merasa gengsi, dan istri mau mengomunikasikan kebutuhannya tanpa rasa bersalah, di situlah harmoni rumah tangga yang sebenarnya tercipta. Jadi, buat para suami di luar sana, yuk mulai besok pagi jangan cuma bangun saat makanan sudah tersaji di meja. Coba tanyakan, "Apa yang bisa aku bantu di dapur pagi ini?" Percayalah, kalimat sederhana itu lebih manis daripada kolak pisang manapun.
Next News

Tips Usir Kerak Purba di Kamar Mandi Tanpa Capek Menyikat
in 3 hours

Kaki Terendam Air Keruh? Ini Solusi Cepat Saluran Air Mampet
in 2 hours

Cara Terapkan Frugal Living yang Benar Tanpa Dicap Orang Kikir
in 6 hours

Mengungkap Fakta Mengejutkan Keris Jawa Sebagai Simbol Kekuasaan Raja
in 3 hours

Panduan Sukses Khatam Al Quran 30 Hari Selama Ramadhan Beserta Keutamaannya
in 2 hours

Trik Cepat Usir Bau Amis yang Menempel pada Tangan
in 2 hours

Mengapa Gorengan Jadi Musuh Utama Kulit di Bulan Ramadan?
in 3 hours

Bahaya Tersembunyi di Balik Segarnya Air Dingin Saat Perut Kosong
in 5 hours

Kulit Kering Pas Puasa? Ini Cara Jitu Mengatasinya, Bestie!
an hour ago

Alasan Utama Diabetes Kini Menyerang Gen Z di Usia Muda
3 minutes ago






