Ceritra
Ceritra Warga

Cara Terapkan Frugal Living yang Benar Tanpa Dicap Orang Kikir

Nisrina - Friday, 20 February 2026 | 07:15 PM

Background
Cara Terapkan Frugal Living yang Benar Tanpa Dicap Orang Kikir
Ilustrasi (Freepik/macrovector)

Batas Tipis Frugal Living dan Sifat Pelit: Jangan Sampai Niat Hemat Malah Bikin Hidup Melarat

Belakangan ini, timeline media sosial kita dibanjiri oleh konten-konten bertajuk frugal living. Ada yang pamer bisa bertahan hidup dengan budget makan sepuluh ribu sehari, ada yang bangga nggak beli baju baru selama tiga tahun, sampai ada yang ekstrem mencatat setiap pergerakan uang receh di aplikasi pengatur keuangan. Tren ini sebenarnya angin segar di tengah gempuran budaya konsumerisme dan gaya hidup flexing yang sering bikin kantol jebol. Tapi, ada satu masalah besar: banyak orang yang gagal membedakan mana yang namanya hidup hemat secara cerdas dan mana yang murni sifat pelit bin kikir.

Secara konsep, frugal living adalah gaya hidup sadar. Kita memilih untuk mengalokasikan sumber daya (uang) pada hal-hal yang benar-benar memberikan nilai atau kegunaan jangka panjang, sembari menekan pengeluaran pada hal yang cuma bersifat gengsi semata. Masalahnya, garis pembatas antara "bijak finansial" dan "pelit yang menyebalkan" itu setipis tisu dibagi tujuh. Kalau salah melangkah, alih-alih merdeka secara finansial, kamu justru bisa merusak hubungan sosial dan mengabaikan kesejahteraan diri sendiri.

Mari kita bedah satu per satu. Perbedaan paling fundamental terletak pada tujuan. Orang yang frugal akan berpikir, "Saya beli sepatu mahal ini karena awet dipakai lima tahun," sementara orang pelit akan berpikir, "Saya beli sepatu paling murah saja, masa bodoh kalau kaki lecet atau sebulan kemudian jebol." Frugal itu bicara tentang value for money, sedangkan pelit cuma peduli soal angka paling rendah di label harga.

Kesehatan Bukan Tempat untuk Berhemat secara Ekstrem

Salah satu salah kaprah paling fatal dalam tren frugal living ala-ala adalah mengabaikan nutrisi demi angka tabungan. Sering kita lihat orang bangga makan mi instan setiap hari demi bisa nabung 80 persen dari gaji. Ini bukan frugal, kawan, ini namanya "investasi penyakit". Menghemat uang makan dengan mengorbankan makanan bergizi adalah langkah finansial paling bodoh yang bisa dilakukan manusia. Kenapa? Karena biaya rumah sakit di masa depan jauh lebih mahal daripada selisih harga nasi rames dengan mi instan.

Orang yang punya mindset keuangan sehat tahu bahwa tubuh adalah mesin utama untuk mencari cuan. Memberi asupan makanan bergizi, buah-buahan, dan vitamin adalah bentuk pemeliharaan aset. Begitu juga dengan asuransi kesehatan. Banyak orang "pelit" merasa rugi membayar premi asuransi setiap bulan karena merasa uangnya hangus begitu saja. Padahal, asuransi adalah jaring pengaman agar rencana keuangan jangka panjangmu tidak porak-poranda saat musibah datang. Membayar asuransi itu cerdas, menolaknya dengan alasan "sayang uangnya" adalah tindakan nekat yang tidak terukur.

Hubungan Sosial dan Etika Berteman

Pernah punya teman yang kalau diajak nongkrong selalu "lupa bawa dompet" atau hobi menghitung tagihan sampai ke detail bumbu tambahan yang harganya cuma seribu perak? Nah, di sinilah sifat pelit sering bersembunyi di balik topeng frugal living. Hidup hemat itu urusan dapur pribadimu, jangan sampai merepotkan atau merugikan orang lain.

Dalam hubungan sosial, ada yang namanya investasi relasi. Sesekali mentraktir teman yang sedang berulang tahun, memberikan kado pernikahan yang layak, atau sekadar patungan makanan secara adil adalah etika dasar. Orang yang cerdas secara finansial tahu kapan harus mengerem ego belanja untuk diri sendiri, tapi tetap royal untuk menjaga hubungan baik. Mereka sadar bahwa koneksi dan nama baik adalah aset yang tidak bisa dibeli dengan saldo tabungan yang dikumpulkan lewat cara menyusahkan teman sendiri. Kalau kamu mulai dijauhi lingkaran pertemanan karena urusan "perhitungan" yang berlebihan, itu tandanya kamu sudah lewat batas.

Investasi Leher ke Atas dan Self-Reward yang Terukur

Seringkali, penganut frugal living yang terlalu kaku lupa bahwa otak juga butuh nutrisi. Mereka enggan membeli buku, enggan ikut kelas pelatihan, atau malas membayar langganan aplikasi yang mendukung produktivitas karena dianggap pemborosan. Ini adalah pola pikir yang menjebak. Padahal, mengeluarkan uang untuk meningkatkan skill (investasi leher ke atas) akan mendatangkan pemasukan yang berkali-kali lipat di masa depan.

Selain itu, jangan lupakan aspek psikologis. Hidup bukan cuma tentang menumpuk angka di rekening sampai mati. Ada kalanya kita butuh "self-reward". Bedanya, orang yang sehat keuangannya akan merencanakan reward tersebut. Misalnya, menabung selama enam bulan untuk bisa liburan tenang tanpa utang. Sedangkan orang pelit akan merasa berdosa setiap kali mengeluarkan uang untuk kesenangan, yang ujung-ujungnya malah bikin stres dan burnout. Ingat, kesehatan mental juga butuh biaya, dan mencegah burnout jauh lebih murah daripada mengobati depresi akibat hidup yang terlalu terkekang oleh aturan hemat yang menyiksa.

Kesimpulannya, frugal living itu tentang kontrol, bukan tentang penderitaan. Menjadi hemat artinya kamu yang mengendalikan uang, bukan uang (atau ketiadaannya) yang mengendalikan kebahagiaanmu. Jangan sampai kamu jadi orang paling kaya di pemakaman nanti, tapi selama hidup dikenal sebagai orang yang paling tidak bahagia dan paling dijauhi karena sifat kikirmu. Jadilah bijak, pilih mana yang layak dipangkas dan mana yang harus dijaga kualitasnya. Karena pada akhirnya, uang hanyalah alat untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik, bukan tujuan akhir yang harus disembah sampai lupa cara memanusiakan diri sendiri dan orang lain.

Logo Radio
🔴 Radio Live