Cara Elegan Jawab Pertanyaan Kapan Nikah saat Buka Puasa
Nisrina - Friday, 20 February 2026 | 09:45 PM


Ramadan seharusnya menjadi bulan yang penuh ketenangan, tempat kita membasuh jiwa dari segala hiruk-pikuk duniawi. Namun, bagi sebagian orang, undangan buka puasa bersama alias bukber atau momen kumpul keluarga saat Lebaran justru terasa seperti undangan masuk ke ruang interogasi. Alih-alih menikmati rendang atau es buah dengan tenang, kita sering kali harus bersiap memakai baju zirah mental untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang melampaui batas privasi.
Fenomena ini lazim disebut sebagai basa-basi beracun. Sebenarnya, niat si penanya mungkin hanya ingin mencairkan suasana. Masalahnya, mereka sering tidak sadar bahwa apa yang mereka anggap sebagai obrolan ringan adalah beban pikiran yang berat bagi si penerima pertanyaan. Pertanyaan seperti Kapan nikah?, Sudah isi belum?, atau Kerja di mana sekarang? sering kali dilemparkan tanpa mempertimbangkan kondisi emosional atau perjuangan pribadi seseorang di balik layar.
Standar Ganda dalam Interogasi Keluarga
Jika kita perhatikan lebih dalam, ada pola menarik sekaligus menyebalkan dalam dinamika gender terkait basa-basi ini. Dunia seolah punya pakem sendiri tentang apa yang dianggap sukses bagi laki-laki dan perempuan. Dalam kacamata komunikasi interpersonal yang masih dipengaruhi budaya patriarki, perempuan sering kali direduksi hanya pada pencapaian domestik. Seolah-olah, setinggi apa pun karier seorang perempuan atau sepintar apa pun dia di kampus, validasi tertingginya baru akan turun saat dia sudah memakai gaun pengantin atau menggendong bayi.
Sebaliknya, laki-laki biasanya lolos dari pertanyaan soal pelaminan, tapi bukan berarti mereka bebas tugas. Mereka justru dicecar dengan pertanyaan soal pencapaian materi dan status sosial. Sudah manajer belum?, Gajinya sudah dua digit?, atau Masih pakai motor lama?. Di sini, nilai seorang laki-laki diukur dari seberapa tebal dompetnya dan seberapa mentereng jabatan di kartu namanya. Pola ini menciptakan tekanan yang berbeda namun sama-sama menyesakkan: perempuan dituntut soal cinta dan kesuburan, sementara laki-laki dituntut soal harta dan kekuasaan.
Kenapa ini terus terjadi? Sering kali karena generasi sebelum kita merasa bahwa ini adalah bentuk perhatian. Dalam psikologi komunikasi, ini disebut sebagai proyeksi nilai. Mereka bertanya karena bagi mereka, itulah parameter kebahagiaan. Celakanya, dunia sudah berubah, dan standar kebahagiaan setiap orang kini jauh lebih beragam daripada sekadar kartu undangan atau slip gaji.
Teknik Komunikasi Asertif: Menjawab Tanpa Merusak Suasana
Lantas, bagaimana cara menghadapinya tanpa harus melempar piring atau mendadak pura-pura pingsan? Kuncinya adalah komunikasi asertif. Menjadi asertif berarti kita mampu menyatakan posisi kita dengan tegas tanpa harus menjadi agresif atau emosional. Kita ingin menjaga privasi, tapi tetap ingin menjaga silaturahmi agar tidak canggung. Berikut adalah beberapa jurus yang bisa dipraktikkan:
- Teknik Mengalihkan (The Pivot): Jawablah secara singkat lalu kembalikan fokus pembicaraan ke si penanya. Contoh: Wah, doakan saja yang terbaik ya, Tante. Eh, ngomong-ngomong rahasia rendang Tante yang enak banget ini apa sih?. Orang biasanya suka bercerita tentang diri mereka sendiri, jadi gunakan itu sebagai pintu keluar.
- Teknik Humor Elegan: Jika situasinya santai, gunakan sedikit komedi untuk mencairkan ketegangan. Belum nih, Tante, masih nunggu jadwal dari hilal yang pas, atau Lagi nunggu vendor yang bisa kasih diskon 90 persen, nih. Humor menunjukkan bahwa kamu tidak terintimidasi oleh pertanyaan tersebut.
- Teknik Mirroring (Cermin): Jika pertanyaan mulai terasa kasar, kamu bisa mengulang kembali pertanyaan mereka dengan nada datar. Oh, Tante lagi ingin tahu soal perkembangan gaji saya ya?. Biasanya, saat pertanyaannya diulangi, si penanya akan menyadari bahwa pertanyaan mereka sebenarnya terlalu personal.
- Pernyataan Batas yang Sopan: Jika sudah merasa sangat terganggu, tidak ada salahnya menetapkan batasan. Saya lebih nyaman kalau kita bahas hal lain yang lebih seru, mumpung lagi kumpul jarang-jarang begini. Kalimat ini tegas, tapi tetap mengedepankan nilai kebersamaan.
Mengubah Paradigma Silaturahmi
Kita perlu menyadari bahwa kumpul keluarga atau teman seharusnya menjadi ruang aman, bukan medan perang mental. Kita tidak bisa mengontrol mulut orang lain, tapi kita punya kendali penuh atas bagaimana kita bereaksi. Menjawab dengan tenang dan elegan sebenarnya mengirimkan pesan kuat bahwa hidup kita bukanlah konsumsi publik yang bisa dikomentari sesuka hati.
Ke depannya, mungkin kita bisa memulai perubahan dari diri sendiri. Saat bukber atau Lebaran nanti, cobalah untuk bertanya hal-hal yang lebih bermakna. Tanyalah tentang hobi terbaru mereka, buku yang mereka baca, atau destinasi liburan impian mereka. Mari kita gantikan pertanyaan interogatif yang beracun dengan obrolan yang benar-benar membangun koneksi.
Ingat, kesehatan mentalmu jauh lebih penting daripada kewajiban untuk menyenangkan semua orang dengan jawaban yang mereka inginkan. Jadi, saat peluru pertanyaan Kapan nikah? itu meluncur, tarik napas dalam-dalam, tersenyumlah dengan penuh kemenangan, dan jawablah dengan gaya yang paling elegan yang kamu punya. Selamat ber-bukber tanpa stres!
Next News

Tips Usir Kerak Purba di Kamar Mandi Tanpa Capek Menyikat
27 minutes ago

Kurangi Obesitas Informasi dengan Digital Detox Sejak Pagi
in 4 hours

Kaki Terendam Air Keruh? Ini Solusi Cepat Saluran Air Mampet
an hour ago

Cara Terapkan Frugal Living yang Benar Tanpa Dicap Orang Kikir
in 2 hours

Hebatnya Ibu Bekerja: Bangun Sahur Lalu Kejar Target Kantor
in an hour

Mengungkap Fakta Mengejutkan Keris Jawa Sebagai Simbol Kekuasaan Raja
42 minutes ago

Panduan Sukses Khatam Al Quran 30 Hari Selama Ramadhan Beserta Keutamaannya
2 hours ago

Trik Cepat Usir Bau Amis yang Menempel pada Tangan
2 hours ago

Mengapa Gorengan Jadi Musuh Utama Kulit di Bulan Ramadan?
an hour ago

Bahaya Tersembunyi di Balik Segarnya Air Dingin Saat Perut Kosong
in an hour






