Ceritra
Ceritra Warga

Mengapa Berat Badan Berhenti Naik Padahal Sudah Latihan Keras?

Refa - Friday, 30 January 2026 | 08:45 PM

Background
Mengapa Berat Badan Berhenti Naik Padahal Sudah Latihan Keras?
Ilustrasi bertanya-tanya (Pinterest/)

Tiga bulan pertama adalah masa bulan madu. Saat baru mulai program menaikkan berat badan dan latihan beban, segalanya terasa indah. Berat badan naik 5 kg dalam sebulan, baju mulai terasa sempit, dan kekuatan bertambah setiap minggu. Fenomena ini disebut "Newbie Gains" (Keuntungan Pemula).

Namun, tiba-tiba di bulan keempat atau kelima, pesta berakhir. Timbangan diam di angka yang sama selama berminggu-minggu. Beban angkatan di gym terasa sangat berat dan tidak bisa ditambah lagi. Anda merasa sudah makan banyak dan latihan keras, tapi hasilnya nol.

Selamat datang di Fase Stagnan (Plateau). Ini adalah mimpi buruk setiap penggiat kebugaran, tapi juga merupakan tanda bahwa Anda sudah "naik kelas". Tubuh Anda telah beradaptasi. Artikel ini akan membongkar penyebab macetnya progres Anda dan cara teknis untuk mendobrak tembok tersebut.

Penyebab 1: TDEE Anda Sudah Berubah (Matematika Kalori)

Ini penyebab paling umum namun paling sering dilupakan. Saat Anda mulai program dengan berat 50 kg, kebutuhan kalori harian Anda mungkin 2.200 kalori. Anda makan 2.500 kalori (surplus 300), sehingga berat badan naik.

Sekarang, berat Anda sudah 60 kg. Tubuh yang lebih besar membutuhkan energi lebih banyak untuk hidup dan bergerak. Kebutuhan dasar (TDEE) Anda mungkin sudah naik menjadi 2.500 kalori. Jika Anda tetap makan 2.500 kalori (sama seperti porsi awal), Anda tidak lagi berada dalam kondisi surplus. Anda berada di kondisi Maintenance (Pemeliharaan).

  • Solusi: Hitung ulang TDEE Anda dengan berat badan terbaru. Kemungkinan besar Anda harus menambah 200-300 kalori lagi ke dalam piring makan Anda. "Makan banyak" yang dulu, sudah tidak cukup untuk "diri Anda yang sekarang".

Penyebab 2: Adaptasi Otot (Muscle Adaptation)

Tubuh manusia adalah mesin bertahan hidup yang sangat efisien. Jika Anda melakukan latihan yang sama persis (beban sama, repetisi sama, urutan sama) selama 3 bulan, tubuh akan menjadi efisien melakukan gerakan tersebut dengan menggunakan energi sesedikit mungkin.

Otot berhenti tumbuh karena ia merasa "sudah cukup kuat" untuk menangani beban rutin tersebut. Tidak ada stres baru, tidak ada adaptasi baru.

  • Solusi (Progressive Overload): Anda wajib mencatat latihan Anda (Logbook). Jika bulan lalu Bench Press 40kg, bulan ini harus ada peningkatan. Entah itu jadi 42.5kg, atau repetisinya ditambah, atau istirahatnya diperpendek. Jangan biarkan otot merasa nyaman.

Penyebab 3: Kelelahan Sistem Saraf (CNS Fatigue)

Banyak orang panik saat stagnan, lalu merespons dengan latihan lebih gila-gilaan (setiap hari tanpa libur). Ini kesalahan fatal. Sistem Saraf Pusat (CNS) bisa mengalami kelelahan akumulatif. Tandanya: motivasi latihan hilang, susah tidur, beban terasa sangat berat, dan sendi-sendi mulai linu. Dalam kondisi ini, tubuh menolak membangun otot karena sibuk memperbaiki kerusakan sistemik.

  • Solusi (Deload Week): Lakukan Deload. Selama satu minggu penuh, kurangi beban latihan Anda sebanyak 50% atau libur total dari gym. Makan tetap banyak dan tidur cukup. Minggu ini bukan kemunduran, tapi "ancang-ancang" untuk melompat lebih tinggi. Setelah deload, biasanya kekuatan akan kembali melonjak.

Penyebab 4: Kurang Tidur dan Stres Kronis

Anda bisa menipu pelatih gym Anda, tapi tidak bisa menipu biologi tubuh. Jika Anda begadang setiap malam atau sedang stres berat karena pekerjaan/skripsi, kadar hormon kortisol akan tinggi. Kortisol bersifat katabolik (memakan otot) dan menahan pembakaran lemak. Stres fisik di gym + Stres mental + Kurang tidur = Resep bencana metabolisme.

  • Solusi: Prioritaskan tidur 7-9 jam. Jika tidak bisa, usahakan tidur siang sebentar (power nap). Manajemen stres adalah bagian dari program latihan.

Strategi Mendobrak Plateau: Shock Therapy

Jika semua cara di atas sudah dicek namun masih macet, cobalah teknik kejut (Shock Principle) dalam latihan selama 2 minggu:

  1. Ubah Rentang Repetisi: Jika biasanya main beban berat 6-8 repetisi, ubah menjadi beban sedang 12-15 repetisi (fokus pump / aliran darah). Atau sebaliknya.
  2. Superset / Dropset: Lakukan dua gerakan berturut-turut tanpa istirahat, atau kurangi beban langsung setelah gagal angkat dan lanjutkan lagi sampai benar-benar gagal (failure).
  3. Ganti Urutan Latihan: Jika biasanya Bench Press di awal, coba taruh di akhir sesi (Pre-exhaustion).

Kesimpulan

Mengalami fase stagnan atau plateau adalah hal yang normal dan pasti terjadi pada siapa saja, bahkan atlet profesional sekalipun. Itu bukan tanda kegagalan, melainkan sinyal dari tubuh yang berkata: "Tantangan ini sudah terlalu mudah, beri aku tantangan baru."

Jangan menyerah. Evaluasi ulang kalori Anda, berikan variasi pada latihan, dan jangan takut untuk beristirahat (deload). Sering kali, mundur satu langkah diperlukan untuk maju tiga langkah ke depan.

Logo Radio
🔴 Radio Live