Ceritra
Ceritra Warga

Misteri Penyebab Hiu Paus Sering Terdampar di Laut Selatan

Nisrina - Wednesday, 04 February 2026 | 07:15 PM

Background
Misteri Penyebab Hiu Paus Sering Terdampar di Laut Selatan
Hiu paus yang terdampar mati di Pantai Wagir Indah di Desa Welahan Wetan, Kecamatan Adipala, Cilacap, Jawa Tengah. (Mongabay Indonesia/L Darmawan)

Fenomena terdamparnya mamalia laut atau ikan raksasa di pesisir pantai Indonesia selalu menjadi perhatian publik. Salah satu kejadian yang kerap berulang dan memancing rasa ingin tahu sekaligus keprihatinan adalah terdamparnya Hiu Paus atau Rhincodon typus. Kawasan yang paling sering menjadi lokasi kejadian ini adalah pesisir Laut Selatan Jawa mulai dari Yogyakarta Kebumen hingga pesisir Jawa Timur.

Hiu Paus dikenal sebagai ikan terbesar di dunia yang memiliki sifat lembut atau gentle giant. Kehadiran mereka di perairan dangkal hingga akhirnya mati terdampar di pasir pantai tentu menimbulkan tanda tanya besar. Mengapa satwa yang seharusnya menjelajah samudra luas ini bisa terjebak di bibir pantai yang mematikan.

Artikel ini akan mengupas tuntas faktor faktor alamiah maupun eksternal yang menyebabkan raksasa laut ini sering kali menepi di perairan selatan Indonesia. Merujuk pada analisis para ahli kelautan dan laporan Mongabay pemahaman ini penting agar kita bisa lebih bijak dalam menyikapi fenomena alam dan turut serta menjaga kelestarian spesies yang terancam punah ini.

Jebakan Kelimpahan Makanan di Pesisir

Salah satu alasan utama yang menarik Hiu Paus mendekat ke daratan adalah makanan. Laut Selatan Jawa dikenal memiliki karakteristik oseanografi yang unik. Pada musim musim tertentu terjadi fenomena kesuburan perairan yang tinggi di mana nutrisi dari dasar laut naik ke permukaan. Kondisi ini memicu ledakan populasi plankton ikan teri dan udang rebon yang merupakan makanan favorit Hiu Paus.

Ketika sumber makanan ini terbawa arus mendekat ke arah pantai insting Hiu Paus akan menuntun mereka untuk mengejarnya. Mereka begitu asyik menyaring makanan atau filter feeding hingga lupa bahwa mereka sudah memasuki zona bahaya.

Tanpa disadari mereka berenang terlalu dekat dengan garis pantai atau surf zone. Di area ini kedalaman air berubah drastis menjadi dangkal. Ketika mereka menyadari kesalahan tersebut sering kali sudah terlambat. Tubuh besar mereka terjebak di perairan dangkal dan sulit untuk berputar balik menuju laut lepas.

Pengaruh Cuaca Ekstrem dan Arus Kuat

Laut Selatan atau Samudra Hindia terkenal dengan gelombang tingginya yang ganas dan arus bawah laut yang kuat. Faktor cuaca ekstrem sering kali menjadi mimpi buruk bagi navigasi Hiu Paus. Perubahan musim atau masa pancaroba sering memicu gelombang pasang dan angin kencang.

Hiu Paus yang sedang mencari makan di permukaan sangat rentan terseret oleh arus permukaan yang kuat ini. Meskipun mereka perenang yang handal kekuatan gelombang Laut Selatan mampu menghempaskan tubuh raksasa mereka ke arah daratan.

Kelelahan fisik akibat melawan arus membuat mereka tidak berdaya. Dalam kondisi lemah mereka akhirnya pasrah terbawa ombak hingga akhirnya terdampar di pasir pantai. Dalam banyak kasus Hiu Paus yang ditemukan terdampar sudah dalam kondisi lemas atau bahkan mati karena kehabisan tenaga melawan kekuatan alam.

Gangguan Navigasi dan Disorientasi

Seperti halnya hewan migrasi lainnya Hiu Paus mengandalkan sistem navigasi alami untuk menjelajahi lautan. Namun sistem navigasi ini bisa terganggu oleh berbagai hal. Salah satunya adalah anomali geomagnetik di dasar laut yang bisa membuat mereka mengalami disorientasi arah.

Selain faktor alam gangguan navigasi juga bisa disebabkan oleh aktivitas manusia. Pencemaran suara di laut akibat lalu lintas kapal yang padat atau penggunaan sonar bisa membingungkan indra Hiu Paus. Dalam keadaan bingung dan stres mereka bisa berenang tak tentu arah dan tersasar hingga ke perairan dangkal yang mematikan.

Faktor usia dan kesehatan juga berpengaruh. Hiu Paus yang sudah tua atau sedang sakit cenderung memisahkan diri dari kawanannya dan berenang ke perairan yang lebih tenang. Sayangnya perairan tenang di dekat pantai sering kali menjadi jebakan karena surutnya air laut yang bisa terjadi tiba tiba.

Perubahan Iklim Mengubah Pola Migrasi

Isu pemanasan global atau perubahan iklim juga turut andil dalam fenomena ini. Perubahan suhu air laut mempengaruhi pola migrasi plankton dan ikan ikan kecil. Ketika sumber makanan berpindah lokasi ke area yang tidak biasa Hiu Paus pun akan mengubah rute migrasinya.

Pergeseran jalur migrasi ini berisiko membawa mereka melintasi area area yang berbahaya atau tidak familiar. Laut Selatan Jawa yang merupakan jalur migrasi purba bagi megafauna laut kini mengalami fluktuasi suhu dan arus yang semakin tidak terprediksi. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya peristiwa terdampar massal maupun individu.

Status Perlindungan dan Langkah Penyelamatan

Hiu Paus adalah spesies yang dilindungi penuh oleh hukum Indonesia melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan. Statusnya yang rentan punah membuat setiap kejadian terdampar harus ditangani dengan serius.

Masyarakat pesisir dan wisatawan perlu diedukasi mengenai langkah pertolongan pertama atau first response. Jika menemukan Hiu Paus terdampar dalam kondisi hidup jangan pernah menaiki tubuhnya atau menarik ekornya secara kasar. Hal terpenting adalah menjaga kulitnya tetap basah dengan menyiramkan air laut dan segera menghubungi pihak berwenang seperti BKSDA atau pengawas perikanan setempat.

Upaya pengembalian ke laut lepas harus dilakukan dengan hati hati dan memperhitungkan kondisi pasang surut air laut. Keselamatan tim penyelamat dan satwa harus menjadi prioritas utama. Kejadian terdamparnya Hiu Paus di Laut Selatan adalah pengingat bagi kita bahwa keseimbangan ekosistem laut sedang mengalami tekanan dan membutuhkan perhatian kita bersama.

Logo Radio
🔴 Radio Live