Ceritra
Ceritra Warga

Bahaya Memendam Stres Kerja yang Sering Dianggap Tanda Mental Kuat

Nisrina - Wednesday, 04 February 2026 | 08:15 PM

Background
Bahaya Memendam Stres Kerja yang Sering Dianggap Tanda Mental Kuat
Ilustrasi (Freepik/DC Studio)

Dalam budaya kerja modern yang serba cepat dan kompetitif sering kali kita terjebak dalam stigma yang keliru mengenai kekuatan mental. Banyak karyawan beranggapan bahwa tidak mengeluh dan menerima semua beban pekerjaan tanpa protes adalah tanda kedewasaan dan ketangguhan. Sosok karyawan yang selalu berkata "siap" dan tidak pernah memperlihatkan rasa lelah sering kali dijadikan tolok ukur karyawan teladan.

Namun pandangan tersebut ternyata menyimpan bahaya besar yang mengintai kesehatan mental dan fisik seseorang. Psikolog memperingatkan bahwa diam bukan berarti kuat. Justru kebiasaan memendam perasaan dan menolak mengakui bahwa diri sedang tidak baik baik saja adalah bom waktu yang sewaktu waktu bisa meledak. Fenomena ini sering kali berujung pada kondisi fatal seperti burnout atau kelelahan kronis hingga depresi berat.

Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa menahan keluhan saat bekerja bisa menjadi racun bagi diri sendiri. Kita akan membahas tanda tanda stres tersembunyi dampak jangka panjangnya bagi tubuh serta bagaimana cara mengubah pola pikir agar bisa bekerja dengan waras dan produktif tanpa harus mengorbankan kewarasan.

Mitos Keliru Tentang Ketangguhan di Kantor

Masyarakat kita sering memuliakan penderitaan atau glorification of suffering. Ada anggapan bahwa semakin seseorang terlihat menderita namun tetap diam maka semakin hebat orang tersebut. Di lingkungan kantor karyawan yang berani mengungkapkan bahwa beban kerjanya sudah berlebihan sering kali dicap sebagai orang yang lemah manja atau tidak profesional.

Padahal mengeluh dalam konteks mencari solusi adalah mekanisme pertahanan diri yang wajar dan manusiawi. Ketika seseorang memilih untuk diam dan menelan semua tekanan sendirian mereka sebenarnya sedang menumpuk hormon kortisol atau hormon stres di dalam tubuhnya.

Psikolog menekankan bahwa kekuatan mental yang sesungguhnya bukanlah tentang seberapa tahan Anda dipukuli oleh beban kerja melainkan seberapa sadar Anda akan batasan diri sendiri. Mengakui bahwa Anda butuh istirahat atau butuh bantuan adalah bentuk kecerdasan emosional yang tinggi bukan kelemahan.

Bahaya Silent Stress Bagi Tubuh

Stres yang tidak dikelola atau tidak dikomunikasikan sering disebut sebagai silent killer. Ketika mulut terkunci rapat maka tubuhlah yang akan berteriak. Orang yang enggan mengeluh biasanya akan mengalami gejala psikosomatis. Ini adalah kondisi di mana gangguan pikiran atau emosi bermanifestasi menjadi penyakit fisik.

Gejala yang sering muncul antara lain sakit kepala berkepanjangan gangguan pencernaan seperti maag atau asam lambung yang tak kunjung sembuh hingga nyeri otot punggung dan leher yang kronis. Penderita sering kali bolak balik ke dokter umum untuk mengobati keluhan fisiknya tanpa menyadari bahwa akar masalahnya ada pada tekanan mental di kantor yang tidak tersalurkan.

Selain itu stres yang dipendam juga merusak kualitas tidur. Insomnia atau sering terbangun di malam hari dengan perasaan cemas adalah tanda nyata bahwa alam bawah sadar Anda sedang tertekan. Jika dibiarkan hal ini akan menurunkan sistem imun tubuh secara drastis sehingga Anda menjadi mudah terserang penyakit infeksi.

Menuju Jurang Burnout yang Dalam

Dampak paling nyata dari kebiasaan "sok kuat" ini adalah burnout. Ini bukan sekadar rasa lelah biasa yang bisa hilang setelah tidur nyenyak di akhir pekan. Burnout adalah kondisi kelelahan emosional fisik dan mental yang total akibat stres berkepanjangan.

Orang yang mengalami burnout akan merasa kehilangan motivasi sepenuhnya. Pekerjaan yang dulunya mereka sukai kini terasa seperti beban yang menyiksa. Mereka menjadi sinis terhadap rekan kerja kehilangan kreativitas dan produktivitasnya menurun tajam.

Dalam tahap yang parah penderita bisa mengalami detasemen atau perasaan terputus dari lingkungan sekitar. Mereka hadir secara fisik di kantor tetapi jiwanya kosong. Pemulihan dari kondisi burnout ini membutuhkan waktu yang sangat lama dan sering kali memerlukan bantuan profesional. Mencegahnya dengan cara berani bersuara sejak awal jauh lebih baik daripada harus mengobati kerusakan yang sudah parah.

Pentingnya Validasi Emosi Diri Sendiri

Langkah pertama untuk keluar dari jebakan ini adalah dengan belajar memvalidasi emosi diri sendiri. Sadarilah bahwa merasa lelah marah atau kecewa terhadap pekerjaan adalah hal yang valid. Perasaan itu nyata dan berhak untuk dirasakan.

Jangan menyangkal perasaan Anda dengan kalimat kalimat toxic positivity seperti "Ah begini saja kok capek orang lain kerjanya lebih berat." Membandingkan penderitaan diri dengan orang lain tidak akan membuat beban Anda berkurang justru akan membuat Anda merasa bersalah karena merasa lelah.

Cobalah untuk memiliki teman bicara yang bisa dipercaya baik itu rekan kerja pasangan atau sahabat. Mencurahkan isi hati atau venting bukanlah tindakan mengeluh yang negatif. Itu adalah cara otak untuk melepaskan ketegangan dan mengurai benang kusut di kepala. Sering kali setelah bercerita kita bisa melihat masalah dengan perspektif yang lebih jernih.

Membangun Batasan Kerja yang Sehat

Berhenti menjadi people pleaser di tempat kerja adalah kunci kesehatan mental. Anda harus berani menetapkan batasan atau boundaries yang jelas. Jika beban kerja sudah melebihi kapasitas beranikan diri untuk berdiskusi dengan atasan.

Sampaikan kondisi Anda dengan data dan fakta bukan dengan emosi yang meledak ledak. Atasan yang baik tentu akan menghargai kejujuran Anda karena mereka juga tidak ingin kehilangan karyawan produktif akibat sakit atau resign mendadak.

Ingatlah bahwa perusahaan bisa mencari pengganti posisi Anda dalam hitungan hari jika Anda tumbang. Namun kesehatan dan kebahagiaan Anda tidak ada gantinya. Jangan korbankan diri Anda hanya untuk sebuah citra "karyawan kuat" yang semu. Menjadi manusia biasa yang memiliki batas adalah hal yang paling normal di dunia ini.

Logo Radio
🔴 Radio Live