Ceritra
Ceritra Warga

Mengenal Ular Siput Jerapah Si Ahli Kamuflase Hutan Jawa

Nisrina - Wednesday, 04 February 2026 | 04:15 PM

Background
Mengenal Ular Siput Jerapah Si Ahli Kamuflase Hutan Jawa
Ular siput jerapah memiliki kemampuan kamuflase sangat baik dan adaptasi morfologi rahang yang unik untuk mengekstraksi daging siput dari cangkangnya. (Media Indonesia/Leonardus Adi Saktyari)

Hutan hujan tropis di Pulau Jawa ternyata masih menyimpan kekayaan hayati yang luar biasa dan sering kali luput dari perhatian kita. Di balik rimbunnya dedaunan dan kabut pegunungan yang dingin terdapat sesosok predator mungil yang memiliki kemampuan menyamar tingkat tinggi. Satwa tersebut adalah Ular Siput Jerapah.

Namanya mungkin terdengar unik dan menggelitik rasa ingin tahu. Mengapa seekor ular disandingkan dengan jerapah yang merupakan mamalia berleher panjang dari Afrika. Jawabannya terletak pada motif tubuh dan perilakunya yang khas. Ular ini adalah salah satu penghuni asli hutan pegunungan Jawa yang kini mulai mendapatkan perhatian dari para peneliti dan fotografer alam liar berkat keunikannya.

Artikel ini akan mengajak Anda masuk ke dalam dunia sunyi hutan pegunungan Jawa untuk menyingkap fakta fakta menarik tentang Ular Siput Jerapah. Mulai dari teknik kamuflasenya yang sempurna diet spesifiknya yang hanya memakan siput hingga peran pentingnya dalam menjaga keseimbangan ekosistem yang rapuh. Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Asal Usul Nama Jerapah

Sebutan "Jerapah" pada ular ini bukanlah tanpa alasan. Nama ini merujuk pada pola warna dan struktur tubuhnya yang mengingatkan kita pada hewan jerapah. Ular ini memiliki tubuh yang ramping dengan leher yang sedikit memanjang dan kepala yang tumpul.

Motif sisiknya didominasi oleh warna dasar cokelat muda atau kekuningan dengan bercak bercak gelap berwarna hitam atau cokelat tua yang tersusun tidak beraturan. Pola bercak inilah yang sekilas mirip dengan totol totol pada kulit jerapah. Warna ini bukan sekadar hiasan melainkan kunci utama pertahanan hidup mereka di alam liar.

Selain pola warna julukan ini juga sering dikaitkan dengan perilaku mereka saat mengangkat kepala. Ular dari keluarga Pareidae ini sering terlihat mengangkat bagian depan tubuhnya dengan tegak saat sedang mengintai mangsa atau memanjat ranting seolah olah seperti jerapah yang sedang menjangkau daun di pohon tinggi.

Kamuflase Sempurna Menyerupai Ranting

Keahlian utama Ular Siput Jerapah adalah menyamar. Di habitat aslinya yaitu hutan pegunungan yang lembap dan penuh dengan vegetasi ular ini sangat sulit ditemukan oleh mata manusia biasa. Mereka memiliki kemampuan luar biasa untuk membaur dengan lingkungan sekitar.

Tubuh mereka yang ramping dan warnanya yang menyerupai kulit kayu membuat mereka tampak seperti ranting kering atau sulur tanaman yang menjuntai. Saat merasa terancam atau sedang beristirahat ular ini akan membekukan tubuhnya dan diam tak bergerak selama berjam jam.

Teknik kamuflase ini memiliki dua fungsi vital. Pertama untuk melindungi diri dari predator yang lebih besar seperti burung pemangsa atau musang. Kedua untuk mengelabui mangsanya. Dengan menyamar sebagai ranting mereka bisa mendekati siput atau bekicot tanpa memicu respons melarikan diri dari mangsanya tersebut.

Rahang Khusus Pemecah Cangkang

Sesuai dengan nama depannya yaitu "Ular Siput" makanan utama satwa ini adalah moluska bercangkang atau siput. Yang membuat ular ini sangat istimewa di mata para ilmuwan adalah adaptasi morfologi pada rahangnya yang sangat spesifik.

Ular Siput Jerapah memiliki rahang asimetris. Jumlah gigi di rahang kanan biasanya berbeda dengan rahang kiri. Adaptasi evolusioner ini terjadi karena sebagian besar cangkang siput di alam liar berputar ke arah kanan atau dekstral.

Struktur rahang yang unik ini memungkinkan ular untuk mencungkil daging siput keluar dari cangkangnya dengan sangat efisien. Mereka tidak memakan cangkang yang keras melainkan hanya menarik tubuh lunak siput tersebut. Gigi gigi mereka yang tajam dan melengkung ke belakang berfungsi seperti kait yang menahan tubuh siput agar tidak masuk kembali ke dalam cangkang saat ditarik.

Habitat Dingin di Pegunungan Jawa

Ular Siput Jerapah adalah satwa yang menyukai suhu sejuk dan kelembapan tinggi. Oleh karena itu mereka banyak ditemukan di kawasan hutan pegunungan di Jawa pada ketinggian tertentu. Mereka jarang turun ke dataran rendah yang panas dan ramai oleh aktivitas manusia.

Hutan hutan di gunung seperti Gunung Gede Pangrango Gunung Halimun Salak hingga pegunungan di Jawa Timur menjadi rumah bagi spesies ini. Mereka aktif pada malam hari atau nokturnal. Saat malam tiba dan suhu hutan menurun serta embun mulai turun ular ini akan keluar dari persembunyiannya untuk berburu siput yang juga aktif di kondisi lembap.

Ketergantungan mereka pada habitat yang spesifik ini membuat mereka menjadi indikator kesehatan hutan. Keberadaan Ular Siput Jerapah menandakan bahwa ekosistem hutan tersebut masih baik dengan populasi siput yang terjaga dan kelembapan yang stabil.

Ancaman dan Konservasi

Meskipun ular ini tidak berbisa dan tidak berbahaya bagi manusia keberadaannya tetap terancam. Ancaman terbesar datang dari kerusakan habitat. Pembukaan lahan hutan untuk pertanian atau wisata yang tidak terkontrol dapat merusak vegetasi tempat mereka tinggal.

Selain itu perubahan iklim juga menjadi ancaman serius. Peningkatan suhu bumi dapat mengganggu tingkat kelembapan di hutan pegunungan. Jika hutan menjadi terlalu kering populasi siput akan menurun drastis yang pada akhirnya akan menyebabkan kelaparan bagi Ular Siput Jerapah.

Perburuan liar untuk dijadikan hewan peliharaan eksotis juga mulai menjadi masalah. Pola warnanya yang unik membuat beberapa kolektor reptil tertarik untuk memeliharanya padahal ular ini sangat sulit dirawat di penangkaran karena dietnya yang spesifik dan kebutuhan suhunya yang dingin.

Menjaga Permata Tersembunyi Jawa

Ular Siput Jerapah adalah salah satu permata tersembunyi dari keanekaragaman hayati Indonesia. Keunikan biologisnya mulai dari motif tubuh hingga rahang asimetrisnya adalah bukti keajaiban evolusi yang terjadi di tanah Jawa.

Melindungi ular ini berarti kita juga harus melindungi rumahnya. Pelestarian hutan pegunungan Jawa bukan hanya penting untuk mencegah bencana alam tetapi juga untuk memastikan makhluk makhluk unik seperti Ular Siput Jerapah tetap bisa melata dan menyamar di antara ranting ranting pohon hingga masa depan.

Logo Radio
🔴 Radio Live