Mengapa Angkat Beban Membuat Langkah Larimu Terasa Lebih Ringan?
Refa - Monday, 16 February 2026 | 08:00 PM


Banyak pelari, terutama pemula, sering terjebak dalam pola pikir bahwa "untuk lari lebih baik, saya hanya perlu lari lebih jauh." Padahal, rahasia pelari maraton elit tetap tangguh di kilometer terakhir bukan hanya terletak pada paru-parunya, melainkan pada kekuatan ototnya.
Di tahun 2026, paradigma atletik telah bergeser Strength Training (Latihan Kekuatan) bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama untuk menciptakan Running Economy (efisiensi lari) yang maksimal.
Bagaimana Kekuatan Meningkatkan Efisiensi Lari?
1. Meningkatkan Running Economy
Efisiensi lari adalah jumlah oksigen yang kamu butuhkan untuk berlari pada kecepatan tertentu.
- Logikanya: Jika otot kakimu lebih kuat, setiap langkah yang kamu ambil terasa "lebih ringan" bagi tubuh. Kamu menggunakan persentase kekuatan maksimal yang lebih kecil untuk setiap langkah, sehingga kamu tidak cepat lelah.
- Hasilnya: Kamu bisa lari lebih cepat dengan detak jantung yang sama.
2. Memperbaiki Stiffness Tendon (Efek Pegas)
Lari adalah aktivitas memantul. Saat kaki menyentuh tanah, otot dan tendon menyimpan energi seperti pegas dan melepaskannya kembali untuk mendorongmu ke depan.
- Latihan Kekuatan: Latihan seperti squat atau plyometrics membuat tendon lebih kaku (dalam artian positif) dan responsif.
- Efeknya: Kamu mendapatkan "energi gratis" dari pantulan tersebut, sehingga kerja otot asli berkurang.
3. Memperbaiki Postur dan Form Lari
Saat mulai lelah di akhir sesi lari, postur tubuh biasanya akan "merosot"—panggul turun, punggung membungkuk, dan langkah menjadi berat.
- Peran Core & Glutes: Otot perut dan bokong yang kuat menjaga panggul tetap stabil dan tegak. Ini mencegah pemborosan energi akibat gerakan tubuh yang goyang ke kiri dan ke kanan.
Mitos: "Angkat Beban Akan Membuat Tubuh Berat"
Ini adalah kekhawatiran terbesar pelari: takut otot menjadi besar (bulky) dan menghambat kecepatan.
- Faktanya: Pelari melatih kekuatan untuk perekrutan saraf, bukan hipertrofi (pembesaran ukuran otot).
- Solusinya: Lakukan angkatan beban yang relatif berat dengan repetisi rendah (4–6 kali) namun dengan gerakan yang eksplosif. Ini melatih kekuatan saraf tanpa menambah massa otot yang signifikan.
Tips Integrasi dalam Jadwal Lari
- Jangan Lakukan di Hari Lari Berat: Jika pagi hari kamu ada jadwal interval run, jangan lakukan latihan kaki di sore harinya. Biarkan tubuh pulih.
- Cukup 2 Kali Seminggu: Kamu tidak perlu menjadi binaragawan. Sesi 30–45 menit dua kali seminggu sudah cukup untuk meningkatkan performa lari secara signifikan.
- Fokus pada Gerakan Satu Kaki (Unilateral): Lari adalah gerakan berpindah dari satu kaki ke kaki lain. Latihan seperti Single-Leg Squat sangat efektif karena melatih keseimbangan yang dibutuhkan saat lari.
Kesimpulan: Jantungmu (mesin) mungkin sudah sangat hebat, tapi tanpa kerangka yang kuat (otot dan tulang), mesin tersebut tidak akan bisa bekerja secara maksimal tanpa risiko kerusakan.
Next News

Panduan Lengkap 14 Fitur Strava Terbaik untuk Maksimalkan Olahraga Anda
in an hour

Mengenal EPOC, Cara Tubuh Terus Membakar Kalori Bahkan Setelah Olahraga Selesai
in 3 hours

Apa Itu VO2 Max? Indikator Umur Panjang yang Bisa Kamu Latih!
in 2 hours

Kenali Zone 2 Training, Mengapa Jalan Kaki Cepat Lebih Ampuh Bakar Lemak?
in an hour

Sering Masuk Air ke Hidung Saat Snorkeling? Cek Panduan Berikut!
6 hours ago

Jangan Cuma Sewa! Inilah 6 Alat Snorkeling Wajib Punya untuk Liburan yang Lebih Higienis
8 hours ago

Keajaiban Olahraga Pengganti Obat Depresi dan Kecemasan
a day ago

Cara Membangun Harmoni Emosional Lewat Partner Yoga
2 days ago

Mengenal Plogging, Olahraga Sambil Jaga Kebersihan Lingkungan
2 days ago

Manfaat Hiking Ringan bagi Jantung dan Kesehatan Mental
4 days ago






