Ceritra
Ceritra Warga

Menaklukan Meja Putar Pottery, Rahasia 'Centering' Agar Tanah Liat Tidak Oleng

Refa - Thursday, 18 December 2025 | 09:30 AM

Background
Menaklukan Meja Putar Pottery, Rahasia 'Centering' Agar Tanah Liat Tidak Oleng
Ilustrasi Kegiatan Pottery (Pinterest/Freepik)

Bagi seorang pemula di kelas tembikar (pottery), tidak ada momen yang lebih menguji kesabaran daripada lima menit pertama di depan meja putar. Bongkahan tanah liat yang seharusnya berputar tenang di tengah piringan sering kali justru menari liar, oleng, dan membuat tangan gemetar.

Tahap ini dikenal sebagai centering. Ini adalah gerbang utama dalam pembuatan keramik teknik putar. Jika tanah tidak berada persis di titik pusat sumbu putar, maka dinding gelas atau mangkuk yang akan dibentuk nantinya pasti akan memiliki ketebalan yang tidak rata dan akhirnya runtuh.

Banyak yang mengira centering hanya butuh kekuatan tangan yang besar. Padahal, rahasianya terletak pada hukum fisika dan posisi tubuh yang terkunci.

Kunci Utama: Menjadi Tripod Manusia

Kesalahan terbesar yang sering terjadi adalah mengandalkan otot lengan semata. Tanah liat yang berputar memiliki gaya sentrifugal yang kuat; jika hanya dilawan dengan kekuatan pergelangan tangan, tanah liatlah yang akan menang dan mendorong tangan menjauh.

Solusinya adalah mengubah tubuh menjadi tumpuan yang kokoh layaknya batu karang. Siku tangan kiri harus "dikunci" atau ditempelkan kuat-kuat ke tulang pinggul atau paha bagian dalam. Dengan cara ini, kekuatan dorong tidak lagi berasal dari otot lengan yang mudah lelah, melainkan ditopang oleh berat seluruh badan yang condong ke depan. Tangan kiri yang terjangkar di pinggul ini berfungsi sebagai "tembok" diam yang memaksa tanah liat untuk tunduk dan masuk ke tengah.

Tarian Naik Turun 'Coning'

Sering kali tanah terlihat sudah tenang di luar, tetapi sebenarnya masih berantakan di dalam. Untuk mengatasi ini, teknik Coning wajib dilakukan. Teknik ini melibatkan gerakan menekan tanah hingga naik menjulang menyerupai kerucut (nasi tumpeng), lalu menekannya kembali turun menjadi tombol gepeng.

Proses naik-turun ini bukan gerakan sia-sia. Gerakan ini berfungsi menyelaraskan partikel-partikel lempung agar searah dan homogen. Selain itu, coning membantu memindahkan tanah dari bagian bawah yang menempel di piringan ke bagian atas agar semua bagian tanah pernah merasakan sentuhan tangan dan tekanan sentering. Tanpa proses ini, bagian dasar pot sering kali masih oleng meskipun bagian bibirnya terlihat rata.

Manajemen Air dan Gesekan

Musuh dari kestabilan adalah gesekan. Kulit telapak tangan yang kering yang beradu dengan tanah liat yang berputar cepat akan menyebabkan tangan terseret, sehingga merusak posisi sentris yang sudah susah payah dibangun.

Oleh karena itu, keberadaan pelumas atau slurry (lumpur cair) sangat vital. Pastikan tangan selalu basah oleh lumpur kental, bukan sekadar air encer, agar tangan bisa meluncur mulus di permukaan tanah. Namun, ini adalah permainan keseimbangan; terlalu sedikit air membuat tangan tersendat, sementara terlalu banyak air akan membuat tanah menjadi lembek dan tidak kuat berdiri tegak.

Pelepasan yang Lembut

Rahasia terakhir yang sering luput dari perhatian adalah momen melepaskan tangan. Banyak pemula yang sudah berhasil membuat tanah tenang, namun merusaknya kembali di detik terakhir karena menarik tangan terlalu tiba-tiba.

Gerakan menarik tangan secara mendadak akan menyenggol tanah dan membuatnya kembali oleng. Pelepasan tangan harus dilakukan sehalus mungkin, perlahan-lahan mengurangi tekanan dari "sangat kuat" menjadi "sentuhan kapas", sebelum akhirnya tangan benar-benar lepas dari tanah yang berputar. Jika dilakukan dengan benar, tanah liat akan terlihat diam tak bergerak saking stabilnya, seolah-olah meja putar tersebut sedang berhenti. Itulah tanda bahwa proses pembentukan sesungguhnya siap dimulai.

Logo Radio
🔴 Radio Live