Kecerdasan Buatan yang Mengambil Alih Kendali Lampu Merah di Singapura
Refa - Tuesday, 23 December 2025 | 03:00 PM


Menunggu lampu merah di persimpangan yang kosong adalah salah satu pengalaman paling menyebalkan bagi pengendara. Detik demi detik berlalu sia-sia sementara tidak ada satu pun kendaraan yang melintas dari arah berlawanan. Namun, pemandangan inefisiensi seperti ini semakin jarang ditemui di Singapura.
Negara pulau ini telah lama meninggalkan sistem pengatur waktu statis (timer) yang kaku. Sebagai gantinya, mereka menanamkan "otak" digital ke dalam infrastruktur jalan raya. Lampu lalu lintas di sana bukan lagi sekadar tiang berlampu tiga warna, melainkan robot cerdas yang mampu "melihat", memprediksi, dan mengambil keputusan sendiri demi meminimalisir kemacetan.
Berikut adalah bedah teknologi di balik sistem manajemen lalu lintas cerdas tersebut.
Mata Digital di Balik Aspal
Rahasia kecerdasan lalu lintas Singapura terletak pada sistem yang disebut Green Link Determining System (GLIDE) yang kini telah berevolusi dengan integrasi AI. Ribuan sensor loop induksi ditanam di bawah aspal di hampir setiap persimpangan utama. Sensor ini bekerja seperti saraf perasa; mereka mendeteksi keberadaan kendaraan, kecepatan, hingga kepadatan antrean secara real-time.
Data ini tidak hanya disimpan, tetapi diolah seketika oleh algoritma komputer pusat. Jika sensor mendeteksi antrean panjang di satu sisi jalan sementara sisi lainnya sepi, AI akan secara otomatis memperpanjang durasi lampu hijau untuk jalur yang padat dan mempercepat lampu merah untuk jalur yang kosong. Proses ini terjadi secara dinamis, detik demi detik, tanpa perlu campur tangan manusia di ruang kontrol. Hasilnya adalah arus lalu lintas yang mengalir sehalus mungkin, menyesuaikan dengan denyut nadi kota yang berubah-ubah dari pagi hingga malam.
Karpet Merah untuk Keadaan Darurat
Salah satu fitur paling krusial dari sistem ini adalah kemampuannya memprioritaskan nyawa. Armada pemadam kebakaran dan ambulans milik Singapore Civil Defence Force (SCDF) terhubung langsung dengan sistem lalu lintas kota.
Ketika kendaraan darurat ini melaju menuju lokasi kejadian, sistem navigasi mereka "berbicara" dengan lampu lalu lintas di rute yang akan dilalui. AI akan mempersiapkan "Gelombang Hijau" (Green Wave), yaitu menyalakan lampu hijau secara berurutan jauh sebelum ambulans tiba di persimpangan. Hal ini memastikan kendaraan darurat bisa melaju tanpa hambatan, sekaligus membersihkan persimpangan dari kendaraan sipil sebelum ambulans lewat. Teknologi ini memangkas waktu respons secara drastis, di mana setiap detik sangat berharga bagi pasien kritis.
Teknologi yang Berempati pada Lansia
Singapura menyadari bahwa mereka menghadapi populasi yang menua (aging population). Teknologi lalu lintas di sana tidak hanya melayani mesin beroda, tetapi juga manusia yang berjalan kaki.
Melalui inisiatif Green Man+, tiang lampu lalu lintas dilengkapi dengan pembaca kartu khusus. Lansia atau penyandang disabilitas cukup menempelkan kartu konsesi transportasi mereka pada tiang tersebut. Sistem akan mengenali identitas pemegang kartu dan secara otomatis memberikan tambahan waktu penyeberangan (biasanya 3 hingga 13 detik lebih lama dari waktu normal). Ini adalah contoh bagaimana teknologi canggih bisa tetap humanis, memberikan rasa aman bagi mereka yang langkah kakinya tidak lagi cepat tanpa mengganggu efisiensi lalu lintas secara keseluruhan secara permanen.
Menuju Era Kendaraan Otonom
Visi jangka panjang Singapura adalah menjadi negara pertama yang sepenuhnya siap menyambut kendaraan otonom (tanpa sopir). Infrastruktur lampu lalu lintas pintar ini adalah fondasi utamanya.
Di masa depan, mobil tidak lagi perlu "melihat" warna lampu merah atau hijau melalui kamera visual mereka. Lampu lalu lintas akan memancarkan sinyal digital langsung ke komputer mobil (Vehicle-to-Infrastructure/V2I communication), memberi tahu status persimpangan bahkan sebelum mobil tersebut melihatnya. Hal ini memungkinkan mobil untuk mengatur kecepatan agar tiba di persimpangan tepat saat lampu berubah hijau, menghilangkan kebutuhan untuk mengerem mendadak dan mengurangi emisi karbon akibat pola berkendara stop-and-go.
Next News

Bingung Pilih Earphone Kabel atau TWS? Ini Jawaban Paling Jujur
16 hours ago

Kenapa OTP Tidak Boleh Dibagikan? Berikut Bahaya Nyatanya
21 hours ago

Panduan Wajib Sebelum Factory Reset, Biar Data Tetap Selamat
20 hours ago

HP Lemot dan Panas Terus? Kenali Ciri-Ciri Ponsel yang Terserang Virus
21 hours ago

Cara Bikin Kata Sandi Kuat Tanpa Bikin Pusing
a day ago

Pakar ITB Bongkar Cara Simpel Hindari Aquaplaning
2 days ago

Sebelum Beli Smartwatch, Baca Ini Dulu Biar Nggak Nyesel
3 days ago

Ponsel Tiba-tiba Overheat dan Ngelag? Jangan Panik, Ini Alasannya
3 days ago

Baterai Tinggal Merah? Mode Hemat Daya atau Mode Pesawat, Mana yang Lebih Awet?
3 days ago

Terdengar Cerdas Tapi Salah, Ini Cara Kerja AI Sebenarnya
3 days ago






