Ceritra
Ceritra Warga

Fenomena Childfree di Indonesia: Antara Pilihan Hidup dan Tradisi

Nisrina - Saturday, 07 February 2026 | 11:15 AM

Background
Fenomena Childfree di Indonesia: Antara Pilihan Hidup dan Tradisi
Ilustrasi (Freepik/)

Jagat media sosial di Indonesia belakangan ini sering kali memanas dengan perdebatan mengenai keputusan untuk tidak memiliki anak atau yang lebih dikenal dengan istilah childfree. Topik ini seolah menjadi bola salju yang terus menggelinding dan membesar memicu diskusi panjang antara kubu yang mendukung kebebasan individu dan kubu yang memegang teguh nilai nilai tradisional.

Di Indonesia yang kental dengan budaya kekeluargaan keputusan untuk menikah namun secara sadar memilih untuk tidak memiliki keturunan masih dianggap sebagai hal yang tabu atau tidak lazim. Selama puluhan tahun masyarakat kita hidup dengan doktrin "banyak anak banyak rezeki" yang tertanam kuat dalam benak setiap generasi. Namun zaman berubah dan pola pikir manusia modern pun ikut bergeser.

Artikel ini akan mengupas tuntas fenomena childfree yang mulai tumbuh subur di tanah air. Kita akan melihat apa sebenarnya alasan di balik keputusan besar ini bagaimana benturannya dengan norma sosial dan agama serta mengapa kita perlu menyikapinya dengan kepala dingin. Simak ulasan lengkapnya untuk memahami dinamika sosial yang sedang terjadi di sekitar kita.

Memahami Definisi Childfree yang Sebenarnya

Sebelum melangkah lebih jauh penting untuk meluruskan definisi childfree agar tidak terjadi salah kaprah. Childfree adalah sebuah keputusan sadar yang diambil oleh seseorang atau pasangan untuk tidak memiliki anak kandung maupun anak angkat sepanjang hidup mereka.

Ini sangat berbeda dengan istilah childless. Childless adalah kondisi di mana seseorang atau pasangan menginginkan anak namun belum atau tidak bisa memilikinya karena alasan medis biologis atau keadaan tertentu lainnya. Jadi kunci utama dari childfree terletak pada adanya unsur "pilihan" dan "kesadaran" penuh tanpa paksaan dari kondisi fisik.

Penganut gaya hidup ini biasanya sudah memikirkan matang matang konsekuensi dari pilihan mereka. Mereka bukan berarti membenci anak kecil. Banyak penganut childfree yang tetap menjadi paman atau bibi yang penyayang bagi keponakan mereka atau bahkan bekerja sebagai guru. Mereka hanya memilih untuk tidak mengambil peran sebagai orang tua secara penuh.

Alasan Ekonomi dan Biaya Hidup yang Meroket

Salah satu faktor pendorong terbesar mengapa milenial dan Gen Z di Indonesia mulai melirik opsi childfree adalah faktor ekonomi. Realitas biaya hidup saat ini jauh berbeda dibandingkan dengan era orang tua atau kakek nenek kita dulu. Harga properti yang semakin tak terjangkau biaya pendidikan yang melambung tinggi setiap tahunnya serta inflasi bahan pokok membuat membesarkan anak menjadi tantangan finansial yang berat.

Banyak pasangan muda yang bersikap realistis. Mereka menyadari bahwa membesarkan anak bukan hanya soal memberi makan tetapi juga menjamin gizi kesehatan pendidikan berkualitas dan kesejahteraan mental sang anak hingga dewasa. Kekhawatiran tidak mampu memberikan fasilitas terbaik sering kali menjadi alasan logis untuk menunda atau meniadakan keinginan punya anak.

Selain itu ketakutan akan menjadi sandwich generation juga menghantui. Generasi sandwich adalah mereka yang harus menanggung biaya hidup orang tua lansia sekaligus biaya hidup anak anak mereka sendiri. Demi memutus rantai kemiskinan atau beban ganda ini sebagian orang memilih untuk fokus pada kestabilan finansial diri sendiri dan pasangan.

Kesadaran Kesehatan Mental dan Trauma Pengasuhan

Faktor psikologis memegang peranan yang tak kalah penting. Meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental atau mental health membuat banyak orang lebih peka terhadap kapasitas diri mereka sendiri. Menjadi orang tua adalah pekerjaan seumur hidup yang membutuhkan kesiapan mental yang prima kesabaran tanpa batas dan pengorbanan emosional.

Tidak semua orang merasa memiliki kapasitas tersebut. Beberapa individu mungkin memiliki trauma masa kecil akibat pola asuh orang tua yang toxic atau kekerasan dalam rumah tangga. Trauma ini melahirkan ketakutan bahwa mereka akan mengulangi kesalahan yang sama kepada anak mereka kelak.

Memilih childfree bagi sebagian orang adalah cara untuk menyelamatkan diri dan mencegah potensi luka batin bagi generasi selanjutnya. Mereka memilih untuk fokus memulihkan diri sendiri atau healing dan menikmati hidup dengan tenang tanpa beban tanggung jawab pengasuhan yang berat.

Benturan dengan Nilai Budaya dan Agama

Di Indonesia keputusan childfree tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya dan agama. Masyarakat kita umumnya bersifat komunal di mana urusan pribadi sering kali menjadi urusan keluarga besar. Pertanyaan "kapan punya anak" setelah menikah adalah pertanyaan standar yang dianggap wajar sebagai bentuk perhatian namun sering kali dirasakan sebagai tekanan sosial oleh pasangan.

Adagium "banyak anak banyak rezeki" masih diyakini oleh sebagian besar masyarakat. Anak dianggap sebagai pembawa berkah perekat hubungan suami istri dan investasi masa tua yang akan merawat orang tua ketika senja. Oleh karena itu keputusan untuk tidak punya anak sering dianggap egois menyalahi kodrat atau tidak bersyukur.

Dari sudut pandang agama mayoritas di Indonesia memiliki keturunan juga dianggap sebagai anjuran dan ibadah. Inilah yang membuat perdebatan childfree sering kali menjadi panas karena menyentuh ranah sensitif keyakinan seseorang.

Pergeseran Makna Kebahagiaan Perempuan

Fenomena ini juga erat kaitannya dengan pemberdayaan perempuan. Dulu peran utama perempuan sering kali dikerdilkan hanya sebatas kasur dapur dan sumur serta menjadi ibu rumah tangga. Nilai seorang perempuan sering kali diukur dari keberhasilannya melahirkan dan membesarkan anak.

Kini perempuan memiliki akses pendidikan dan karir yang setara dengan laki laki. Perempuan modern menyadari bahwa mereka memiliki otoritas penuh atas tubuh dan jalan hidup mereka. Menjadi ibu hanyalah salah satu opsi dari sekian banyak peran yang bisa diambil dalam hidup.

Kebahagiaan kini didefinisikan secara lebih personal. Ada perempuan yang bahagia dengan menjadi ibu rumah tangga namun ada juga yang menemukan kebahagiaan melalui pencapaian karir perjalanan keliling dunia atau kontribusi sosial tanpa harus menjadi seorang ibu.

Menghargai Perbedaan Pilihan Hidup

Pro dan kontra mengenai childfree di Indonesia tampaknya masih akan terus bergulir seiring dengan perubahan zaman. Namun satu hal yang perlu dipahami adalah setiap orang memiliki latar belakang perjuangan dan pertimbangan yang berbeda beda yang tidak bisa kita hakimi hanya dari luarnya saja.

Memilih untuk punya anak adalah tanggung jawab besar yang mulia. Begitu pula memilih untuk childfree adalah keputusan personal yang valid dan harus dihargai. Keduanya memiliki konsekuensi masing masing.

Masyarakat yang dewasa adalah masyarakat yang mampu hidup berdampingan dengan perbedaan pandangan tanpa saling menyerang. Biarkan setiap pasangan menulis jalan cerita hidup mereka sendiri karena pada akhirnya kebahagiaan dan ketenangan hati merekalah yang menjadi prioritas utama.

Logo Radio
🔴 Radio Live