Ceritra
Ceritra Warga

Fakta Ilmiah di Balik Anggapan Perempuan Lebih Cerewet daripada Laki-laki

Nisrina - Wednesday, 21 January 2026 | 11:15 AM

Background
Fakta Ilmiah di Balik Anggapan Perempuan Lebih Cerewet daripada Laki-laki
Sekelompok perempuan yang sedang berbincang. (Freepik/)

Stereotip bahwa perempuan lebih banyak bicara atau lebih cerewet dibandingkan laki-laki sudah mengakar kuat di masyarakat selama berabad-abad. Anggapan ini sering kali menjadi bahan lelucon hingga topik diskusi serius mengenai perbedaan gender. Sebuah klaim populer yang sering dikutip dalam berbagai buku motivasi dan artikel psikologi populer menyebutkan bahwa perempuan rata-rata mengucapkan sekitar 20.000 kata per hari. Angka ini sangat timpang jika dibandingkan dengan laki-laki yang konon hanya mengeluarkan sekitar 7.000 kata per hari. Angka-angka tersebut seolah menjadi pembenaran ilmiah bahwa otak perempuan memang didesain untuk menjadi komunikator yang jauh lebih aktif. Namun pertanyaannya adalah apakah klaim tersebut didukung oleh data ilmiah yang valid atau hanya sekadar mitos belaka yang terus didaur ulang.

Dunia sains akhirnya turun tangan untuk menjawab perdebatan klasik ini dengan metode yang lebih empiris. Sebuah penelitian terobosan yang dilakukan oleh tim dari University of Arizona membantah keras mitos 20.000 kata versus 7.000 kata tersebut. Riset yang dipimpin oleh psikolog Matthias Mehl dan dipublikasikan dalam jurnal bergengsi Science ini menggunakan alat perekam digital yang disebut Electronically Activated Recorder atau EAR. Alat ini dipasang pada ratusan mahasiswa laki-laki dan perempuan untuk merekam percakapan mereka secara acak sepanjang hari tanpa mereka sadari. Metode ini dinilai jauh lebih akurat dibandingkan sekadar mengandalkan survei atau pengakuan diri sendiri yang sering kali bias.

Hasil dari penelitian tersebut ternyata sangat mengejutkan dan mematahkan stigma yang ada. Data menunjukkan bahwa rata-rata perempuan mengucapkan 16.215 kata per hari, sedangkan laki-laki mengucapkan sekitar 15.669 kata per hari. Meskipun secara angka perempuan sedikit lebih unggul, selisih sekitar 500 kata tersebut secara statistik dianggap tidak signifikan. Kesimpulan besarnya adalah dalam kehidupan sehari-hari, tingkat keaktifan bicara antara laki-laki dan perempuan sebenarnya setara. Variasi jumlah kata justru lebih ditentukan oleh faktor kepribadian individu, apakah seseorang itu introvert atau ekstrovert, bukan ditentukan oleh jenis kelamin mereka. Ada laki-laki yang sangat pendiam, namun ada juga yang sangat banyak bicara hingga menembus angka 47.000 kata per hari, begitu pula sebaliknya pada perempuan.

Selain membantah soal kuantitas kata, sains juga menyoroti peran konteks dalam komunikasi. Sebuah meta-analisis dari University of California Santa Cruz yang meneliti puluhan studi tentang gender dan bahasa menemukan fakta menarik lainnya. Laki-laki ternyata cenderung berbicara lebih banyak daripada perempuan dalam situasi yang bersifat formal, publik, atau yang berkaitan dengan status dan kekuasaan. Contohnya dalam rapat kerja atau pengambilan keputusan, laki-laki sering kali mendominasi percakapan untuk menunjukkan dominasi atau memberikan informasi. Sebaliknya, perempuan cenderung berbicara lebih banyak dalam situasi yang bersifat kolaboratif atau afiliatif, seperti saat membangun hubungan personal, curhat, atau mendiskusikan perasaan. Jadi perbedaannya bukan pada kemampuan bicara, melainkan pada tujuan dan situasi di mana percakapan itu terjadi.

Dari sisi biologis, para peneliti juga sempat menelusuri keberadaan protein Foxp2 yang sering disebut sebagai protein bahasa. Sebuah studi awal pada tikus laboratorium oleh University of Maryland School of Medicine menemukan bahwa tikus jantan memiliki kadar protein Foxp2 yang lebih tinggi di bagian otak yang terkait dengan vokal, yang membuat mereka lebih sering bersuara memanggil induknya dibanding tikus betina. Namun, pola ini terbalik pada manusia. Penelitian lanjutan pada anak-anak manusia menunjukkan bahwa anak perempuan memiliki kadar protein Foxp2 di area otak bahasa yang 30 persen lebih tinggi dibanding anak laki-laki. Temuan ini sempat dijadikan landasan mengapa anak perempuan sering kali lebih cepat bisa bicara. Meskipun demikian, seiring bertambahnya usia menuju dewasa, faktor biologis ini tidak lagi menjadi penentu tunggal seberapa "cerewet" seseorang.

Faktor lingkungan dan pola asuh juga memegang peranan vital. Sejak kecil, anak perempuan sering kali didorong untuk lebih ekspresif secara verbal dalam menyampaikan emosi mereka, sementara anak laki-laki sering kali dididik untuk lebih menahan diri atau "bertindak daripada bicara". Sosialisasi inilah yang kemudian membentuk gaya komunikasi saat dewasa. Perempuan menjadi lebih terampil dalam komunikasi verbal yang bersifat membangun koneksi sosial, yang sering kali disalahartikan sebagai perilaku "cerewet" atau "bawel". Padahal, itu adalah bentuk kecerdasan sosial yang kompleks.

Pada akhirnya, pelabelan bahwa perempuan lebih cerewet adalah sebuah generalisasi yang tidak tepat. Sains membuktikan bahwa laki-laki pun bisa menjadi makhluk yang sangat vokal jika berada dalam lingkungan yang mendukung mereka untuk bicara. Entah itu laki-laki maupun perempuan, kemampuan verbal adalah aset manusia yang tidak dibatasi oleh gender. Jadi jika lain kali Anda mendengar seseorang berkata bahwa perempuan bicara tiga kali lipat lebih banyak dari laki-laki, Anda bisa tersenyum dan menyodorkan fakta bahwa sains tidak setuju dengan mitos tersebut.

Logo Radio
🔴 Radio Live