Ceritra
Ceritra Warga

Definisi Gen Z Sebenarnya: Unik atau Bikin Geleng?

Elsa - Saturday, 29 November 2025 | 04:00 PM

Background
Definisi Gen Z Sebenarnya: Unik atau Bikin Geleng?
(Pinterest/)

Gen Z, Si Paling ‘Define Yourself’: Mengurai Ragam Tipe Anak Muda Zaman Now yang Bikin Pusing Tapi Gemes

Pernah nggak sih kamu lagi asyik scrolling FYP TikTok atau Instagram Reels, terus tiba-tiba ketemu konten yang bikin kamu mikir, "Waduh, ini definisi Gen Z banget!" Atau, mungkin kamu lagi ngobrol sama adik, keponakan, atau anak teman, dan tiba-tiba mereka nyeletuk pakai istilah yang bikin kamu garuk-garuk kepala karena nggak ngerti? Selamat datang di dunia Generasi Z, sebuah generasi yang seringkali jadi topik hangat, kadang bikin geleng-geleng kepala, tapi jujur aja, selalu punya pesonanya sendiri yang bikin penasaran.

Gen Z ini, yang lahir kira-kira dari pertengahan 90-an sampai awal 2010-an, bukan cuma soal kaum rebahan yang nggak bisa lepas dari gadget. Stereotip itu, ya, ada benarnya juga di beberapa sisi, tapi kayaknya terlalu menyederhanakan. Faktanya, Gen Z itu punya spektrum yang luas banget, sekompleks postingan Instagram yang butuh swipe berkali-kali buat ngelihat semua slides-nya. Mereka punya segudang karakter, motivasi, dan gaya hidup yang kadang kontras satu sama lain. Nah, daripada pusing sendiri, yuk, kita coba bedah beberapa "tipe" Gen Z yang mungkin sering kamu temui di sekitar kita. Ingat ya, ini cuma observasi ringan dan generalisasi, bukan label mati. Karena, ya, namanya juga manusia, pasti ada aja campur aduknya!

1. Si Paling Cuan: Digital Hustler Sejati

Dulu, zaman kita mungkin mikirnya cari uang itu ya kerja kantoran, 9-to-5. Tapi buat Gen Z tipe ini? Waktunya adalah uang, dan uang bisa dicari dari mana aja, kapan aja, asalkan ada koneksi internet. Mereka ini adalah para "digital hustler" sejati. Dari dropshipper di Shopee, jastip barang-barang unik, affiliate marketer yang jago bikin orang check out keranjang kuning, sampai content creator yang memonetisasi hobi mereka. Otaknya isinya ide bisnis dan strategi marketing receh tapi ngena. Nggak heran kalau obrolan mereka sering nyerempet soal "passive income," "branding," atau "berapa cuan hari ini?"

Mereka ini jago banget manfaatin celah digital. TikTok Shop adalah ladang emas, Instagram jadi etalase, dan YouTube adalah portofolio. Kadang kita mikir, "Ini anak nggak tidur apa ya?" Karena mereka bisa ngatur live streaming subuh, bikin konten pas jam makan siang, dan ngurus orderan di malam hari. Bagi mereka, kerja itu bukan melulu soal kantor fisik, tapi lebih ke fleksibilitas dan potensi cuan yang tanpa batas. Hidup mereka itu kayak maraton lari estafet, selalu ada aja ide baru yang dicoba dan dioptimalkan.

2. Si Paling Kritis: Pembela Keadilan Online

Kalau ada isu sosial, lingkungan, atau politik yang lagi panas, coba deh intip story Instagram atau thread Twitter Gen Z tipe ini. Mereka nggak akan tinggal diam. Punya kesadaran sosial yang tinggi dan nggak segan menyuarakan pendapatnya, bahkan kalau itu berarti harus beradu argumen di kolom komentar. Bagi mereka, media sosial bukan cuma tempat pamer kehidupan, tapi juga platform untuk edukasi, aktivisme, dan menyuarakan apa yang mereka yakini benar. Istilah-istilah kayak "toxic positivity," "gaslighting," atau "privilege" sudah jadi bagian dari kamus harian mereka.

Mereka bisa jadi garda terdepan dalam petisi online, menggalang dana untuk isu kemanusiaan, atau bahkan turun ke jalan untuk aksi damai. Nggak cuma kritik, mereka juga sering menawarkan solusi atau ajakan untuk berbuat sesuatu. Kadang memang ada yang nyebut mereka "SJW" (Social Justice Warrior) dengan nada nyinyir, tapi di balik itu, ada semangat tulus untuk melihat dunia yang lebih adil dan setara. Mereka percaya bahwa suara kecil pun bisa membuat perubahan besar, apalagi jika dikumpulkan lewat hashtag dan viral di lini masa.

3. Si Paling Fandom: Fanatik Garis Keras

Pernah lihat teman kamu rela antre berjam-jam cuma buat beli tiket konser K-Pop? Atau koleksi album idolanya sampai penuh satu lemari? Nah, itu dia Gen Z tipe ini: si paling fandom. Mereka bisa tenggelam dalam satu dunia spesifik, entah itu K-Pop, anime, game, film indie, atau bahkan genre musik tertentu. Obsesi mereka bukan sekadar suka, tapi sampai tahap riset mendalam, tahu semua lore karakter, hafal semua lirik lagu, dan punya komunitas online atau offline yang solid.

Bagi mereka, fandom adalah rumah kedua. Di sana mereka menemukan orang-orang sepemikiran, berbagi kegemaran, dan merasa memiliki. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam membahas teori konspirasi di balik MV terbaru, debat karakter terkuat di game, atau cosplay sampai mirip banget dengan tokoh favoritnya. Totalitasnya luar biasa! Mungkin kadang kita nggak ngerti kenapa harus segitunya, tapi bagi mereka, ini adalah bentuk identitas dan kebahagiaan yang nggak bisa digantikan.

4. Si Paling Estetik: Kurator Visual Kehidupan

Dari pemilihan filter Instagram yang seragam, outfit yang selalu on point buat OOTD, sampai penataan kamar yang mirip Pinterest, Gen Z tipe ini adalah manifestasi dari estetika berjalan. Mereka sangat peduli dengan penampilan, bukan cuma untuk diri sendiri, tapi juga "penampilan" media sosial mereka. Feed Instagram adalah galeri seni, story adalah vlog mini yang dikurasi dengan apik, dan setiap postingan harus punya "vibes" tertentu.

Mereka jago banget dalam menangkap momen yang "Instagrammable" atau "TikTok-worthy." Dari makanan, tempat nongkrong, sampai pemandangan alam, semuanya harus terlihat sempurna di lensa kamera mereka. Konsep "healing" bagi mereka juga seringkali diwujudkan dalam bentuk perjalanan ke tempat-tempat indah yang estetik, lalu tentu saja, diabadikan dengan foto dan video terbaik. Kita mungkin mikir, "Repot amat sih?" Tapi bagi mereka, ini adalah cara mengekspresikan diri dan membangun identitas di era digital yang serba visual.

5. Si Paling Anti-Mainstream: Pencari Otentisitas

Ketika semua orang lagi demam sesuatu yang viral, Gen Z tipe ini justru asyik menikmati hal-hal yang kurang populer, bahkan cenderung vintage atau niche. Mereka nggak terlalu ambil pusing sama tren, justru sering merasa aneh kalau terlalu ikut-ikutan. Musiknya bukan top chart, filmnya indie yang jarang orang tahu, fashion-nya seringkali kombinasi barang thrift atau gaya era 90-an yang unik. Mereka seperti punya selera sendiri yang jauh dari keramaian.

Tipe ini sering terlihat lebih tenang, nggak terlalu banyak drama di media sosial, dan punya lingkaran pertemanan yang lebih kecil tapi berkualitas. Obrolan mereka seringkali lebih filosofis, mendalam, atau membahas hal-hal yang nggak biasa. Mereka mencari otentisitas dan kedalaman, bukan sekadar popularitas atau validasi dari banyak orang. Kadang mereka dibilang "hipster" atau "anak senja," tapi bagi mereka, ini adalah cara untuk menjadi diri sendiri tanpa harus mengikuti arus. Mereka punya definisi kerennya sendiri.

Melihat semua "tipe" ini, satu hal yang jelas: Gen Z itu bukan blok homogen. Mereka adalah generasi yang adaptif, kreatif, vokal, dan nggak takut untuk mencoba hal baru atau berbeda. Mereka bisa jadi sangat melek teknologi tapi juga peduli isu sosial; bisa sangat fokus pada cuan tapi juga punya sisi melankolis yang mendalam. Seringkali, satu individu bisa memadukan beberapa karakteristik dari tipe-tipe di atas, menciptakan kombinasi yang unik dan nggak terduga.

Jadi, kalau lain kali kamu ketemu Gen Z, coba deh jangan langsung nge-judge dari luarnya aja. Mungkin di balik layar, mereka punya cerita, perjuangan, atau obsesi yang jauh lebih menarik daripada yang terlihat di permukaan. Karena pada akhirnya, Generasi Z ini adalah cerminan dari kompleksitas dunia digital yang terus bergerak, dan mereka, dengan segala keunikan mereka, adalah masa depan yang sedang kita saksikan.

Logo Radio
🔴 Radio Live