Ceritra
Ceritra Warga

Bom Waktu Pengangguran Berpendidikan Generasi Muda Indonesia

Nisrina - Monday, 26 January 2026 | 11:45 AM

Background
Bom Waktu Pengangguran Berpendidikan Generasi Muda Indonesia
Ilustrasi (jawapos.com/Dimas Pradipta)

Setiap tahun baru tiba, sebuah ritual yang sudah sangat akrab selalu terulang di kalangan anak muda Indonesia. Mereka sibuk memperbarui daftar riwayat hidup dan memoles profil LinkedIn dengan optimisme yang menyala kembali. Ribuan lamaran pekerjaan dikirimkan dengan harapan nasib akan berubah di tahun yang baru.

Keluarga sering memberikan nasihat penenang bahwa pendidikan tinggi dan kerja keras pasti akan membuahkan hasil manis. Namun bagi semakin banyak anak muda terdidik, pergantian tahun bukanlah sebuah awal yang segar. Momen ini justru sering kali menandai satu tahun lagi potensi emas mereka terbuang percuma.

Jutaan lulusan baru memasuki pasar tenaga kerja setiap bulan Januari dengan harapan dan ekspektasi tinggi. Sayangnya mereka sering kali harus menelan pil pahit kenyataan di lapangan. Permintaan pasar akan keterampilan yang mereka pelajari di bangku sekolah ternyata sangat terbatas dan kaku.

Pertumbuhan ekonomi yang sering dibanggakan pemerintah nyatanya tidak berdampak signifikan pada penyerapan tenaga kerja muda. Tingkat pengangguran pemuda usia 15 hingga 24 tahun secara konsisten tetap tinggi dari tahun ke tahun. Angkanya bahkan bisa mencapai dua atau tiga kali lipat lebih tinggi daripada tingkat pengangguran nasional.

Tahun lalu tingkat pengangguran pemuda mencapai angka sekitar 16,9 persen. Angka ini sangat timpang jika dibandingkan dengan tingkat pengangguran keseluruhan yang hanya 4,9 persen. Ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi belum menjadi solusi andal bagi pencari kerja pemula.

Bahkan di tengah periode ekonomi yang stabil, satu dari enam pemuda Indonesia masih berjuang mati-matian mencari kerja. Masalah ini menjadi semakin rumit dan ironis ketika kita melihat latar belakang pendidikan mereka. Kelompok yang paling kesulitan justru adalah mereka yang memiliki gelar pendidikan formal.

Lulusan sekolah kejuruan, sekolah menengah atas, dan universitas menghadapi tingkat pengangguran yang lebih tinggi. Statistik mereka lebih buruk dibandingkan dengan angkatan kerja yang memiliki tingkat pendidikan lebih rendah. Di Indonesia saat ini, bersekolah tinggi tidak lagi menjamin transisi yang mulus ke dunia profesional.

Dalam beberapa kasus, menempuh pendidikan tinggi justru menunda seseorang untuk mendapatkan pekerjaan pertamanya. Fenomena ini memperdalam rasa frustrasi dan perasaan bahwa sistem yang ada telah gagal. Mereka yang telah mengikuti aturan main sekolah dan kuliah justru merasa ditinggalkan oleh sistem.

Mengatasi masalah pengangguran muda dan terdidik ini memerlukan perubahan pola pikir yang radikal dari semua pihak. Isu ini tidak boleh lagi dianggap sebagai masalah ketenagakerjaan pinggiran yang sepele. Ini adalah tantangan pembangunan utama yang menuntut strategi nasional yang terkoordinasi dengan baik.

Hasil penyerapan tenaga kerja harus ditempatkan sebagai jantung dari setiap kebijakan ekonomi yang dibuat negara. Tata kelola pendidikan tinggi juga harus diorientasikan kembali agar sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Kampus tidak boleh hanya menjadi pabrik ijazah tanpa memikirkan masa depan lulusannya.

Indonesia sangat perlu memperkuat jembatan transisi dari sekolah ke dunia kerja agar lebih efektif. Institusi pasar tenaga kerja juga harus menurunkan hambatan masuk bagi pekerja muda yang minim pengalaman. Tanpa langkah konkret, tumpukan pengangguran terdidik ini akan menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Logo Radio
🔴 Radio Live