Ceritra
Ceritra Update

Alasan Mengapa Scrolling Pagi Bikin Anda Susah Fokus

Elsa - Tuesday, 10 March 2026 | 01:55 PM

Background
Alasan Mengapa Scrolling Pagi Bikin Anda Susah Fokus
(Pinterest/)

Bayangkan skenario ini: Anda baru saja membuka mata, nyawa belum terkumpul sepenuhnya, tapi tangan sudah otomatis meraba nakas mencari ponsel. Ritual pagi dimulai bukan dengan doa atau segelas air putih, melainkan dengan scrolling tiada henti di linimasa. Dari mulai kabar teman yang pamer kopi estetik, keributan politik yang nggak ada ujungnya, sampai video kucing yang sebenarnya lucu tapi entah kenapa bikin Anda telat mandi. Selamat datang di rimba media sosial, sebuah tempat di mana informasi mengalir lebih deras daripada air keran yang bocor.

Masalahnya, di tengah banjir bandang informasi ini, kita sering kali lupa membawa pelampung. Pelampung itu namanya literasi digital. Jangan bayangkan literasi digital sebagai mata pelajaran membosankan di sekolah yang isinya cuma menghafal definisi perangkat keras. Bukan, kawan. Literasi digital di era sekarang adalah survival skill. Ini adalah kemampuan untuk membedakan mana emas dan mana sampah visual yang cuma bikin otak kita penuh sesak.

Pernahkah Anda melihat pesan berantai di grup WhatsApp keluarga yang isinya sangat bombastis? Sesuatu seperti "Rebusan kulit durian bisa menyembuhkan patah hati" atau konspirasi aneh tentang chip yang ditanam lewat sate ayam? Kalau Anda langsung percaya tanpa kroscek, selamat, Anda adalah target empuk di ekosistem digital ini. Di sinilah literasi digital bekerja sebagai rem tangan. Sebelum jempol gatal menekan tombol 'share', otak kita harusnya bertanya dulu: Ini beneran nggak sih? Sumbernya dari mana? Atau jangan-jangan ini cuma clickbait receh biar yang punya web dapat cuan dari iklan?

Fenomena 'jempol lebih cepat dari otak' ini sudah jadi penyakit kronis. Kita hidup di zaman di mana judul berita lebih penting daripada isinya. Banyak orang cuma baca headline yang provokatif, langsung emosi, lalu maki-maki di kolom komentar. Padahal kalau dibaca sampai habis, isinya jauh panggang dari api. Budaya malas baca ini adalah musuh utama literasi. Kita jadi gampang diadu domba hanya karena potongan video sepuluh detik yang sudah dipelintir sedemikian rupa. Capek nggak sih, tiap hari harus ikut 'perang' di kolom komentar untuk sesuatu yang ternyata cuma hoaks?

Selain soal hoaks, literasi digital juga bicara tentang menjaga kesehatan mental. Algoritma media sosial itu pintar, bahkan mungkin lebih pintar dari mantan Anda dalam hal memanipulasi emosi. Mereka tahu apa yang bikin kita betah berlama-lama menatap layar. Sering kali, kita terjebak dalam echo chamber, sebuah ruang gema di mana kita hanya mendengar pendapat yang setuju dengan pemikiran kita saja. Akibatnya, kita jadi merasa paling benar dan menganggap orang yang beda pendapat sebagai musuh bebuyutan. Tanpa literasi digital yang mumpuni, kita cuma jadi pion dalam permainan algoritma raksasa teknologi.

Lalu, ada juga masalah privasi dan jejak digital. Banyak dari kita yang terlalu 'curhat' di media sosial. Semua hal diposting, dari mulai lokasi terkini sampai foto tiket pesawat yang memperlihatkan barcode. Hei, sadarlah! Dunia digital itu kejam dan nggak pernah lupa. Apa yang Anda posting hari ini, meski sudah dihapus sepuluh tahun lagi, bisa saja muncul kembali untuk menghantui karier atau hubungan Anda di masa depan. Literasi digital mengajarkan kita untuk punya filter diri. Tidak semua hal harus dibagikan, dan tidak semua momen butuh validasi dari orang asing yang bahkan nggak kenal kita secara pribadi.

Etika juga menjadi bagian yang tak terpisahkan. Mentang-mentang ada di balik layar dan menggunakan akun anonim, banyak orang merasa punya lisensi untuk menghujat sesuka hati. Cancel culture jadi hobi baru yang mengerikan. Memang, mengkritik itu perlu, tapi ada batas tipis antara kritik dan perundungan siber (cyberbullying). Orang yang literat secara digital tahu bahwa di balik layar yang mereka maki-maki itu ada manusia asli yang punya perasaan, bukan sekadar avatar tanpa nyawa.

Jadi, gimana caranya biar kita nggak jadi 'zombie' digital? Langkah pertama paling simpel: kroscek. Kalau dapet info aneh, coba cari di mesin pencari dengan kata kunci "hoaks" atau cek di situs verifikasi fakta. Kedua, kurangi konsumsi konten yang cuma bikin emosi negatif. Unfollow akun-akun toxic itu nggak bakal bikin Anda kuper, malah bikin jiwa lebih tenang. Ketiga, berpikirlah sebelum memposting sesuatu. Tanya pada diri sendiri: Apakah ini bermanfaat? Apakah ini benar? Atau saya cuma cari perhatian?

Literasi digital bukan berarti kita harus jadi anti-teknologi atau menghapus semua akun media sosial lalu pindah ke hutan. Bukan itu poinnya. Kita hanya perlu menjadi pengguna yang sadar dan cerdas. Media sosial adalah alat, dan seperti pisau, dia bisa dipakai buat masak makanan enak atau malah melukai tangan sendiri. Pilihan ada di tangan kita, atau lebih tepatnya, ada di jempol kita. Yuk, mulai sekarang kita lebih bijak lagi berselancar. Jangan sampai kita yang dikendalikan oleh gadget, padahal harusnya kitalah yang memegang kendali penuh atas kehidupan digital kita sendiri. Tetap waras, tetap kritis, dan jangan lupa bahagia di dunia nyata!

Logo Radio
🔴 Radio Live