Gebrakan No Na: Padukan Pop Global dan Nuansa Lokal di Rollerblade
Shannon - Friday, 22 May 2026 | 06:00 PM


No Na dan Keberanian Mengawinkan Dangdut ke Dalam Estetika Global lewat Rollerblade
Bayangkan sebuah skenario di mana dentuman musik yang biasa kamu dengar di tenda-tenda hajatan atau truk-truk lintas Pantura tiba-tiba menggema di markas 88rising, label yang menaungi bintang internasional sekelas NIKI dan Rich Brian. Rasanya mungkin agak sureal, ya? Tapi inilah kenyataan yang dibawa oleh No Na. Girl group pertama asal Indonesia di bawah naungan label bergengsi tersebut baru saja merilis single keempat mereka bertajuk "Rollerblade" pada Jumat, 17 April lalu. Dan jujur saja, lagu ini bukan sekadar rilisan pop biasa ini adalah sebuah pernyataan identitas yang cukup berani dan, kalau boleh dibilang, agak sedikit nekat dalam artian yang positif.
No Na sepertinya memang tidak mau main aman. Sejak awal kemunculannya, trio ini sudah menunjukkan gelagat kalau mereka ingin membawa sesuatu yang berbeda. Lewat "Rollerblade", mereka secara resmi memperkenalkan genre fusion yang kini menjadi ciri khas mereka: perpaduan antara dangdut dan reggaeton. Kalau dipikir-pikir, mengawinkan dua genre ini sebenarnya sangat masuk akal. Keduanya punya akar pada ritme yang mengajak tubuh bergoyang secara organik. Bedanya, yang satu lahir dari tanah Amerika Latin, dan yang satunya lagi adalah jiwa dari rakyat Indonesia.
Jedag Jedug yang Naik Kelas
Ada satu momen menarik dalam lagu ini ketika lirik "jedag, jedug, tiga, dua, satu" meluncur dengan mulus. Bagi telinga orang Indonesia, istilah "jedag-jedug" sudah sangat identik dengan kultur remix jalanan atau konten-konten viral di media sosial yang enerjik. Selama bertahun-tahun, istilah ini sering kali dianggap "pinggiran" atau kurang elit bagi penikmat musik pop urban. Namun, di tangan No Na dan tim produksi 88rising, narasi itu dibalik seratus delapan puluh derajat. Mereka membawa estetika panggung dangdut ke dalam roster salah satu label paling berpengaruh di pasar musik global saat ini.
Keputusan menggunakan elemen dangdut ini bukan sekadar tempelan biar dibilang unik. Ini terasa seperti sebuah upaya dekonstruksi terhadap stigma. No Na seolah ingin bilang bahwa musik Indonesia itu nggak harus selalu dibungkus dengan gaya R&B Amerika yang kental atau synth-pop ala Korea untuk bisa terdengar keren. Dengan bahasa Indonesia yang dominan dan lugas, "Rollerblade" justru terasa sangat jujur. Mereka merangkul identitas "island girl from Indonesia" dengan bangga, tanpa ada rasa minder sedikit pun di tengah gempuran tren musik dunia yang serba seragam.
Gaya bercerita dalam liriknya pun nggak neko-neko. Mereka tetap menggunakan pembawaan yang ringan, khas anak muda yang sedang menikmati hidup, tapi tetap punya bobot musikalitas yang solid. Aransemennya nggak berisik, namun tetap memberikan ruang bagi perkusi yang "nendang"—sesuatu yang wajib ada kalau kita bicara soal dangdut fusion. Ini adalah jenis lagu yang mungkin awalnya bikin kamu mengernyitkan dahi karena merasa asing, tapi lima menit kemudian tanpa sadar jempol kaki kamu sudah ikut mengetuk lantai.
Membuktikan Kualitas di Panggung THE FIRST TAKE
Kesuksesan "Rollerblade" dan single debut mereka "Shoot" sebenarnya sudah punya landasan yang kuat. Beberapa waktu lalu, No Na sempat mencuri perhatian lewat penampilan mereka di kanal YouTube kenamaan Jepang, THE FIRST TAKE. Bagi yang belum tahu, THE FIRST TAKE adalah sebuah panggung keramat di mana para musisi ditantang untuk bernyanyi hanya dalam satu kali pengambilan gambar, tanpa editan vokal yang berlebihan, dan dengan iringan musik yang lebih minimalis. Intinya, kalau suaramu nggak bagus, bakal ketahuan di sana.
Di sana, No Na membawakan "Shoot" dan "Rollerblade" dengan versi yang lebih intim namun tetap bertenaga. Penampilan tersebut seolah menjadi jawaban bagi para peragu yang menganggap girl group hanya bermodalkan visual. Mereka membuktikan bahwa harmoni vokal mereka nggak kaleng-kaleng. Menariknya lagi, melihat mereka berdiri di studio serba putih khas THE FIRST TAKE sambil menyanyikan lirik bahasa Indonesia adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi kita yang menonton dari layar kaca. Ada rasa haru yang terselip saat melihat budaya lokal kita "nongkrong" sejajar dengan musisi-musisi kelas dunia lainnya.
Bukan Sekadar Tren, Tapi Warisan Baru
Secara naratif, apa yang dilakukan No Na dengan "Rollerblade" adalah sebuah langkah strategis untuk memposisikan musik Indonesia di peta dunia dengan cara yang lebih otentik. Selama ini, banyak musisi kita yang mencoba menembus pasar global dengan cara "menjadi orang lain" atau sepenuhnya mengadopsi budaya Barat agar bisa diterima. No Na memilih jalur yang lebih menantang: membawa "rumah" mereka ke luar negeri. Mereka tidak malu membawa bau-bau dangdut yang selama ini sering dipandang sebelah mata oleh kelas menengah ke atas di negeri sendiri.
Observasi saya, tren fusion seperti ini sebenarnya punya potensi besar untuk bertahan lama. Kenapa? Karena ia memiliki akar yang kuat pada budaya massa. Musik "jedag-jedug" adalah bahasa universal orang Indonesia saat ingin bersenang-senang. Dengan memolesnya lewat produksi yang modern dan distribusi global lewat 88rising, No Na sedang membangun jembatan. Jembatan yang menghubungkan antara selera lokal yang merakyat dengan standar produksi internasional yang tinggi.
Pada akhirnya, "Rollerblade" bukan cuma soal lagu tentang bersenang-senang di atas roda sepatu. Ini adalah simbol dari kepercayaan diri generasi baru musisi Indonesia. Bahwa menjadi keren itu tidak harus selalu berkiblat ke luar, terkadang menjadi keren hanya butuh keberanian untuk menoleh ke belakang, mengambil apa yang kita punya, lalu mengemasnya dengan cara yang paling gokil. No Na sudah memulai langkah itu, dan lewat "Rollerblade", mereka baru saja meluncur lebih kencang dari yang kita duga.
Jadi, buat kalian yang mungkin masih gengsi dengerin dangdut, coba deh dengerin lagu ini. Siapa tahu, lewat No Na, kalian akhirnya sadar kalau "jedag-jedug" itu sebenarnya adalah DNA kita yang paling asyik buat dipamerkan ke dunia. Sukses terus buat No Na, kita tunggu kejutan-kejutan selanjutnya yang pastinya bakal bikin industri musik makin berwarna!
Next News

Menengok Diplomasi Meja Makan yang Akrab di Timor Leste
2 days ago

6 Tahun Pasca Pandemi COVID-19, Munculnya Hantavirus Kembali Bangkitkan Kekhawatiran Masyarakat
3 days ago

Bukan Sekadar Wangi, Parfum Kini Jadi Identitas Diri
3 days ago

Benang Kusut Proyek Chromebook Nadiem: Dari Inovasi ke Sidang
3 days ago

Rahasia Di Balik Viral Matcha dan Munculnya Polisi Matcha
4 days ago

Bosan Gaya Kaku? Intip Cara Pakai Batik Untuk Nongkrong Cantik
4 days ago

Lebih dari Sekadar Liburan, Ini Wajah Baru Healing Gen Z
4 days ago

Kritik Seni di Atas Meja Demokrasi Ketika Pemerintah Tak Larang Nobar Pesta Babi
7 days ago

Hype Global Panggung Jakarta The Weeknd Siap Guncang Indonesia September 2026
9 days ago

Gebrakan atau Ancaman? Badan Gizi Nasional Beri Deadline Dua Minggu Bagi SPPG Untuk Tambah Penerima Gizi Atau Siap-Siap Hadapi Suspend
9 days ago






