Ceritra
Ceritra Kota

Warga Pertanyakan Kinerja Rumah Pompa, Genangan Justru Muncul di Titik Baru?

Refa - Wednesday, 21 January 2026 | 05:30 PM

Background
Warga Pertanyakan Kinerja Rumah Pompa, Genangan Justru Muncul di Titik Baru?
Banjir Surabaya (Pinterest/tempomedia)

Intensitas hujan yang mengguyur Kota Surabaya tanpa henti sejak akhir Januari 2026 kembali menguji kesiapan infrastruktur kota. Meski Pemerintah Kota (Pemkot) telah menggelontorkan anggaran besar untuk pembangunan dan revitalisasi puluhan rumah pompa, keluhan warga terkait genangan air masih membanjiri media sosial.

Klaim "Surabaya Bebas Banjir" tampaknya masih jauh dari realita. Di beberapa titik langganan banjir, air memang surut lebih cepat, namun ironisnya, genangan air justru dilaporkan muncul di wilayah-wilayah yang sebelumnya aman. Fenomena ini memicu pertanyaan besar: Apakah sistem drainase kota sudah benar-benar terintegrasi atau sekadar memindahkan masalah?

Berikut adalah fakta lapangan dan evaluasi mendesak terkait penanganan banjir kota:

Proyek Mahal, Hasil Belum Maksimal?

Sorotan tajam tertuju pada kawasan Surabaya Barat dan Selatan yang mengalami pembangunan pesat. Warga melaporkan bahwa mesin pompa yang baru diresmikan seolah kewalahan menampung debit air hujan.

Kritik pedas bermunculan bahwa pembangunan rumah pompa tidak dibarengi dengan peremajaan gorong-gorong (box culvert). Akibatnya, meskipun mesin pompa menyala 24 jam, air di jalan raya tidak bisa mengalir masuk ke rumah pompa dengan cepat karena saluran air yang terlalu sempit atau tersumbat sedimen.

Masalah Klasik: Sampah "Membunuh" Mesin

Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya kerap menemukan kendala yang sama di lapangan: sampah domestik. Tumpukan kasur bekas, bantal, hingga sampah plastik dalam jumlah masif sering kali ditemukan menyangkut di saringan (screen) rumah pompa.

Kondisi ini memaksa petugas mematikan mesin sementara untuk pembersihan manual, yang berakibat pada naiknya level air di jalanan. Kesadaran warga yang rendah dalam membuang sampah ke sungai dituding menjadi sabotase utama terhadap kinerja sistem pengendali banjir ini.

Waspada Efek Domino Kemacetan

Dampak dari genangan ini bukan hanya air masuk rumah, tetapi kelumpuhan lalu lintas. Simpul-simpul jalan utama seperti Jalan Mayjen Sungkono atau Ahmad Yani yang tergenang setinggi ban mobil membuat kendaraan mogok massal. Kerugian ekonomi akibat waktu yang terbuang di jalan dan kerusakan kendaraan menjadi keluhan utama para pekerja komuter. Pemkot didesak untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap titik-titik sumbatan air sebelum puncak musim hujan semakin parah.

Logo Radio
🔴 Radio Live