Warga Pertanyakan Kinerja Rumah Pompa, Genangan Justru Muncul di Titik Baru?


Intensitas hujan yang mengguyur Kota Surabaya tanpa henti sejak akhir Januari 2026 kembali menguji kesiapan infrastruktur kota. Meski Pemerintah Kota (Pemkot) telah menggelontorkan anggaran besar untuk pembangunan dan revitalisasi puluhan rumah pompa, keluhan warga terkait genangan air masih membanjiri media sosial.
Klaim "Surabaya Bebas Banjir" tampaknya masih jauh dari realita. Di beberapa titik langganan banjir, air memang surut lebih cepat, namun ironisnya, genangan air justru dilaporkan muncul di wilayah-wilayah yang sebelumnya aman. Fenomena ini memicu pertanyaan besar: Apakah sistem drainase kota sudah benar-benar terintegrasi atau sekadar memindahkan masalah?
Berikut adalah fakta lapangan dan evaluasi mendesak terkait penanganan banjir kota:
Proyek Mahal, Hasil Belum Maksimal?
Sorotan tajam tertuju pada kawasan Surabaya Barat dan Selatan yang mengalami pembangunan pesat. Warga melaporkan bahwa mesin pompa yang baru diresmikan seolah kewalahan menampung debit air hujan.
Kritik pedas bermunculan bahwa pembangunan rumah pompa tidak dibarengi dengan peremajaan gorong-gorong (box culvert). Akibatnya, meskipun mesin pompa menyala 24 jam, air di jalan raya tidak bisa mengalir masuk ke rumah pompa dengan cepat karena saluran air yang terlalu sempit atau tersumbat sedimen.
Masalah Klasik: Sampah "Membunuh" Mesin
Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya kerap menemukan kendala yang sama di lapangan: sampah domestik. Tumpukan kasur bekas, bantal, hingga sampah plastik dalam jumlah masif sering kali ditemukan menyangkut di saringan (screen) rumah pompa.
Kondisi ini memaksa petugas mematikan mesin sementara untuk pembersihan manual, yang berakibat pada naiknya level air di jalanan. Kesadaran warga yang rendah dalam membuang sampah ke sungai dituding menjadi sabotase utama terhadap kinerja sistem pengendali banjir ini.
Waspada Efek Domino Kemacetan
Dampak dari genangan ini bukan hanya air masuk rumah, tetapi kelumpuhan lalu lintas. Simpul-simpul jalan utama seperti Jalan Mayjen Sungkono atau Ahmad Yani yang tergenang setinggi ban mobil membuat kendaraan mogok massal. Kerugian ekonomi akibat waktu yang terbuang di jalan dan kerusakan kendaraan menjadi keluhan utama para pekerja komuter. Pemkot didesak untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap titik-titik sumbatan air sebelum puncak musim hujan semakin parah.
Next News

NOUVEAU 2026: SMAN 5 Surabaya Satukan Dua Generasi Lewat Musik
9 days ago

Dari Lahan Terbengkalai Jadi Taman Kucing, Kenalan dengan Scarlett's Friends di China
11 days ago

Bingung Mau ke Mana Long Weekend Ini? Pilih Event Surabaya Sesuai Mood-mu
23 days ago

Bukan Cuma Indonesia, Ini 7 Negara yang Merayakan Kemerdekaan di Bulan Agustus
a month ago

Bukan Cuma Pekerja Pabrik, Ini 10 Profesi yang Paling Banyak Kena PHK
a month ago

Maroon 5 Kembali ke JIS 2027, Ini Harga Tiket dan Jadwal Presale Lengkapnya
a month ago

Resign dan Pindah ke Desa: Impian Hidup Tenang Tanpa Macet Kota
a month ago

Keseruan Akhir Pekan di Livin Sounds of Downtown Surabaya
a month ago

DBL : Bukan sekedar basket, Tapi lebaran tahunan anak SMA
6 days ago

Kota Masa Depan Akan Seperti Apa? Melihat Inovasi yang Mulai Terjadi Sekarang Hingga Beberapa Dekade Mendatang
2 months ago




