Ceritra
Ceritra Kota

Manisnya Sari Buah Matoa Asal Pasuruan yang Jadi Primadona Saat Lebaran

Nisrina - Wednesday, 21 January 2026 | 07:45 AM

Background
Manisnya Sari Buah Matoa Asal Pasuruan yang Jadi Primadona Saat Lebaran
Proses produksi sari buah matoa. (Pemkab Pasuruan/)

Menjelang datangnya bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idulfitri, persiapan masyarakat biasanya identik dengan memburu kue kering atau pakaian baru. Namun ada pemandangan berbeda yang terjadi di Desa Karangsono, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan. Di wilayah ini, masyarakat justru berlomba-lomba memesan minuman segar yang unik dan berkhasiat. Produk tersebut adalah sari buah matoa, sebuah inovasi olahan tangan dingin warga lokal yang kini menjadi ikon kebangkitan ekonomi desa tersebut.

Wiji Astuti, seorang pelaku industri rumahan di Desa Karangsono, adalah sosok di balik kesuksesan minuman ini. Memulai usahanya sejak tahun 2016, Wiji berhasil mengubah buah matoa yang eksotis menjadi minuman kemasan yang bernilai ekonomi tinggi. Popularitas sari buah matoa buatannya terus meroket setiap tahunnya, terutama saat momen menjelang Lebaran tiba. Minuman ini telah menjadi sajian wajib atau "sandingan" kue lebaran bagi masyarakat sekitar untuk menjamu tamu yang datang bersilaturahmi.

Pada awal tahun 2026 ini saja, antusiasme pasar terbilang luar biasa. Tercatat hingga 20 Januari 2026, Wiji sudah menerima pesanan mencapai lima ribu kardus. Angka ini bukanlah jumlah yang sedikit untuk skala industri rumahan. Produk ini dipasarkan dengan harga yang sangat terjangkau bagi kantong masyarakat, yakni sekitar Rp25.000 untuk satu kardus kecil berisi kemasan gelas siap minum. Tingginya permintaan ini sebagian besar datang dari pasar lokal Pasuruan sendiri, termasuk pesanan borongan dari pabrik-pabrik yang beroperasi di sekitar wilayah Sukorejo.

Daya tarik utama dari sari buah matoa ini terletak pada sensasi rasanya yang kompleks dan menyegarkan. Bagi mereka yang belum pernah mencicipi buah matoa (Pometia pinnata), buah asli Papua ini memang dikenal memiliki profil rasa yang ajaib. Wiji menggambarkan rasa minumannya sebagai perpaduan harmonis antara manisnya leci, segarnya rambutan, dan aroma khas kelengkeng yang menyatu dalam satu tegukan. Kenikmatan ini akan semakin terasa maksimal jika minuman disajikan dalam kondisi dingin yang membuatnya sangat cocok sebagai pelepas dahaga setelah seharian berpuasa atau saat cuaca panas.

Keberhasilan usaha ini juga menjadi bukti nyata bagaimana potensi lokal dapat dimaksimalkan. Meskipun buah matoa merupakan tanaman endemik Papua, ternyata pohon ini dapat tumbuh subur dan berbuah lebat di tanah Kecamatan Sukorejo. Wiji memanfaatkan hasil panen lokal ini untuk memproduksi minumannya, meskipun ia mengakui bahwa stok buah sering kali terbatas karena tingginya permintaan yang membludak. Hal ini menjadikan sari buah matoa Karangsono sebagai produk eksklusif yang ketersediaannya selalu dinanti-nanti.

Lebih dari sekadar minuman, usaha sari buah matoa ini telah menjadi simbol potensi ekonomi kreatif masyarakat desa. Inovasi Wiji Astuti membuktikan bahwa dengan pengolahan yang tepat, hasil bumi lokal dapat diubah menjadi komoditas yang dicari ribuan orang. Bagi Anda yang melintasi kawasan Pasuruan atau sedang mencari alternatif suguhan Lebaran yang berbeda dari sirup biasa, sari buah matoa khas Sukorejo ini layak masuk dalam daftar belanjaan Anda.

Logo Radio
🔴 Radio Live