Yuk Intip Kesuksesan Kampung Tempe Parerejo Pasuruan
Nisrina - Wednesday, 21 January 2026 | 08:15 AM


Tempe telah lama menjadi makanan rakyat yang tidak terpisahkan dari identitas kuliner Indonesia, khususnya di tanah Jawa. Makanan berbahan dasar kedelai ini bukan hanya dikenal karena kandungan gizinya yang tinggi sebagai superfood, tetapi juga karena potensi ekonominya yang luar biasa jika dikelola dengan serius. Hal inilah yang dibuktikan oleh warga Desa Parerejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Desa ini telah bertransformasi menjadi sentra industri kreatif yang dijuluki sebagai Kampung Tempe, di mana denyut nadi perekonomian warganya sangat bergantung pada olahan biji kedelai tersebut.
Siapa pun yang melangkahkan kaki memasuki kawasan Desa Parerejo akan langsung disambut oleh aroma khas kedelai rebus yang menggugah selera. Di sini, aktivitas produksi tempe bukan sekadar pekerjaan sampingan, melainkan warisan turun-temurun yang menjadi tumpuan hidup. Pemandangan tungku-tungku perapian yang mengepul, proses peragian, hingga tumpukan daun pisang pembungkus tempe menjadi ornamen kehidupan sehari-hari yang menghiasi rumah-rumah warga. Konsistensi warga dalam menjaga kualitas dan tradisi inilah yang membuat Kampung Tempe Parerejo mampu bertahan dan terus berkembang hingga hari ini.
Skala ekonomi yang berputar di desa ini pun terbilang fantastis untuk ukuran industri tingkat desa. Berdasarkan data kewilayahan setempat, terdapat sekitar 185 pengrajin tempe yang menggantungkan hidupnya dari sektor ini. Kapasitas produksi gabungan dari para pengrajin ini mampu menghasilkan sekitar 20 ton tempe setiap harinya. Camat Purwodadi, Sugiarto, bahkan mengungkapkan bahwa perputaran uang di desa ini bisa menembus angka Rp100 juta hingga Rp200 juta dalam satu hari saja. Angka ini menunjukkan betapa besarnya dampak ekonomi kerakyatan yang dibangun dari sepotong tempe.
Salah satu kunci keberhasilan Kampung Tempe Parerejo adalah kemampuan para pengrajinnya untuk beradaptasi dan berinovasi. Mereka tidak lagi hanya menjual tempe dalam bentuk batangan mentah, tetapi telah merambah ke berbagai produk olahan modern yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Mukhammad Irfan, salah satu pengrajin sukses di desa tersebut, menjadi contoh nyata dari transformasi ini. Selain memproduksi tempe konvensional hingga 1 kwintal per hari, Irfan juga mengkreasikan kedelai menjadi aneka camilan kekinian seperti keripik tempe, nugget tempe, mendol krispi, hingga inovasi unik berupa brownies dan cookies berbahan dasar tempe.
Inovasi produk ini tentu berimbas positif pada pendapatan para pengrajin. Irfan mengaku omzet bulanannya bisa mencapai Rp50 juta berkat diversifikasi produk tersebut. Harga yang ditawarkan pun sangat kompetitif namun tetap menjaga kualitas rasa yang gurih dan tekstur yang empuk. Untuk tempe batangan ukuran besar dengan berat 2 kilogram, harganya dibanderol sekitar Rp30.000. Sementara untuk produk olahan seperti keripik tempe dijual seharga Rp70.000 per kilogram, dan tempe mendoan siap goreng dijual Rp6.000 per paket. Kualitas rasa yang berbeda dari tempe daerah lain menjadi alasan utama mengapa produk dari Parerejo selalu dinanti pelanggan di pasar.
Selain fokus pada produksi, Kampung Tempe Parerejo juga mulai melirik potensi wisata edukasi. Irfan dan warga lainnya membuka pintu lebar-lebar bagi masyarakat luar yang ingin belajar mengenai seluk-beluk pembuatan tempe melalui program "Omah Edukasi Tempe". Di sini, pengunjung tidak hanya datang untuk membeli oleh-oleh, tetapi juga diajak melihat langsung proses pengolahan kedelai dari awal hingga menjadi produk siap saji. Konsep ini menjadikan Desa Parerejo sebagai destinasi wisata kuliner dan edukasi yang paket komplet.
Keberadaan Kampung Tempe di Pasuruan ini menjadi bukti nyata bahwa industri rumahan yang dikelola dengan tekun dan inovatif mampu menjadi pilar ekonomi yang kokoh. Dari sebutir kedelai, warga Parerejo berhasil membangun kemandirian ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan melestarikan warisan kuliner nusantara agar tetap relevan di tengah gempuran makanan modern.
Next News

Warga Pertanyakan Kinerja Rumah Pompa, Genangan Justru Muncul di Titik Baru?
in 6 hours

Awas QRIS Parkir Palsu! Dishub Surabaya Minta Warga Cek 2 Hal Ini Agar Uang Tidak Masuk Kantong Pribadi Jukir
in 22 minutes

Eri Cahyadi Pangkas Beasiswa Pemuda Tangguh, Cuma Golongan Ini yang Bakal Selamat!
38 minutes ago

Manisnya Sari Buah Matoa Asal Pasuruan yang Jadi Primadona Saat Lebaran
3 hours ago

Antisipasi Hujan Mulai Siang Hari dalam Prakiraan Cuaca Surabaya 21 Januari 2026
5 hours ago

Kabar Gembira! Ratusan Motor Curian Ditemukan, Polrestabes Surabaya Undang Pemilik Ambil Gratis Mulai Besok!
18 hours ago

Siap-siap Basah! BMKG Ramalkan Hujan di Surabaya hingga Pesisir Jawa Timur
2 days ago

Banjir Pelajar! Kunjungan Perpustakaan Surabaya Tembus 474 Ribu
2 days ago

Mengenal Damai Studio, Ruang Literasi Surabaya yang Lahir dari Ketidaksengajaan
2 days ago

Rammang-Rammang, Tempat Bengong Paling Estetik di Sulawesi yang Bikin Lupa Cicilan
5 days ago





