Ceritra
Ceritra Uang

Waktu Adalah Aset Termahal: Mengapa Memulai Investasi di Usia 20-an Bukan Pilihan, Melainkan Keharusan

Refa - Sunday, 04 January 2026 | 11:15 AM

Background
Waktu Adalah Aset Termahal: Mengapa Memulai Investasi di Usia 20-an Bukan Pilihan, Melainkan Keharusan
Ilustrasi Investasi (Pinterest/gammingtrivia)

Masa muda sering kali identik dengan masa eksplorasi, kebebasan, dan kesenangan. Istilah YOLO (You Only Live Once) kerap menjadi pembenaran untuk menghabiskan penghasilan demi gaya hidup, mulai dari kopi kekinian, tiket konser, hingga gawai terbaru.

Namun, ada satu variabel krusial yang dimiliki oleh generasi muda tetapi tidak lagi dimiliki oleh mereka yang sudah mapan secara usia, waktu. Dalam rumus keuangan, waktu adalah faktor pengali yang paling kuat. Menunda menyisihkan uang meski hanya satu atau dua tahun dapat menciptakan selisih hasil akhir yang sangat masif di masa depan. Berikut adalah alasan logis mengapa melek finansial harus dimulai sejak gaji pertama diterima.

Keajaiban Bunga Berbunga (Compound Interest)

Albert Einstein pernah menyebut bunga majemuk atau compound interest sebagai keajaiban dunia kedelapan. Konsep ini menjelaskan bagaimana keuntungan investasi yang didapatkan diputar kembali untuk menghasilkan keuntungan baru.

Seseorang yang mulai berinvestasi rutin sebesar Rp500 ribu per bulan sejak usia 20 tahun akan memiliki akumulasi aset yang jauh lebih besar di usia pensiun dibandingkan mereka yang baru mulai menabung Rp2 juta per bulan di usia 35 tahun. Semakin dini start dimulai, semakin panjang landasan pacu bagi uang untuk "beranak-pinak" secara eksponensial. Menunggu mapan untuk mulai berinvestasi adalah kekeliruan, karena nominal kecil yang diinvestasikan sejak dini lebih berharga daripada nominal besar yang terlambat masuk pasar.

Benteng Melawan Inflasi

Menyimpan uang di bawah bantal atau membiarkannya mengendap di rekening tabungan biasa sejatinya bukanlah menabung, melainkan membiarkan nilai uang tergerus pelan-pelan. Inflasi adalah pencuri tak kasat mata yang membuat harga sepiring nasi goreng hari ini jauh lebih mahal dibandingkan sepuluh tahun lalu.

Jika rata-rata inflasi tahunan berada di angka 3-5 persen, sementara bunga tabungan bank hanya di kisaran 0-1 persen, maka daya beli uang tersebut secara riil menurun. Investasi di instrumen seperti reksa dana, saham, atau obligasi bertujuan untuk mendapatkan imbal hasil yang melampaui laju inflasi, sehingga nilai kekayaan di masa depan tetap terjaga atau bahkan bertumbuh.

Mencapai Kebebasan Finansial Lebih Cepat

Tujuan akhir dari literasi keuangan modern bukan sekadar menjadi kaya raya, melainkan mencapai Financial Freedom atau kebebasan finansial. Ini adalah kondisi di mana seseorang tidak lagi harus bekerja keras demi uang karena hasil investasi pasif (passive income) sudah cukup untuk membiayai kebutuhan hidup.

Generasi muda yang memulai investasi sejak dini memiliki peluang besar untuk pensiun lebih awal atau memiliki opsi untuk bekerja sesuai passion tanpa tertekan masalah gaji. Aset investasi yang dibangun bertahun-tahun berfungsi sebagai mesin penghasil uang kedua yang bekerja 24 jam, memberikan keleluasaan hidup yang tidak dimiliki oleh mereka yang hanya mengandalkan gaji bulanan seumur hidup.

Siap Menghadapi Ketidakpastian Hidup

Pandemi global dan gelombang PHK yang terjadi belakangan ini mengajarkan satu pelajaran mahal: tidak ada pekerjaan yang 100 persen aman. Memiliki dana darurat dan portofolio investasi adalah bentuk pertahanan diri terbaik.

Ketika badai ekonomi menerpa, mereka yang memiliki tabungan dan investasi tidak perlu berutang ke aplikasi pinjaman online (pinjol) yang berbunga mencekik atau menjual aset produktif dengan harga murah. Kesehatan finansial memberikan ketenangan pikiran (peace of mind), sehingga seseorang bisa mengambil keputusan hidup dengan logis, bukan berdasarkan kepanikan karena desakan ekonomi.

Membentuk "Otot" Disiplin

Investasi bukan hanya soal matematika uang, melainkan soal psikologi dan kebiasaan. Memulai dari nominal kecil saat masih muda—ketika tanggungan belum banyak—jauh lebih mudah daripada mencoba memulai saat sudah berkeluarga dengan cicilan yang menumpuk.

Disiplin menyisihkan penghasilan di awal bulan (bukan menyisakan di akhir bulan) akan membentuk pola pikir orang kaya. Kebiasaan menunda kesenangan sesaat demi tujuan jangka panjang (delayed gratification) adalah karakter fundamental yang membedakan orang sukses secara finansial dengan mereka yang terjebak dalam siklus "gali lubang tutup lubang".

Logo Radio
🔴 Radio Live