Ceritra
Ceritra Uang

Alasan Kenapa Klik Checkout Bisa Bikin Beban Hidup Terangkat

Nisrina - Monday, 23 February 2026 | 01:15 PM

Background
Alasan Kenapa Klik Checkout Bisa Bikin Beban Hidup Terangkat
Ilustrasi (Pexels/Nataliya Vaitkevich)

Bayangkan skenario ini: hari Senin yang menyebalkan, bos di kantor lagi rewel, atau mungkin kamu baru saja diputusin pacar. Di tengah perasaan kacau itu, jempolmu seolah punya nyawa sendiri, otomatis membuka aplikasi belanja oranye atau biru. Scroll sebentar, lihat-lihat barang lucu yang sebenarnya nggak butuh-butuh amat, lalu klik 'Checkout'. Tiba-tiba, ada perasaan lega yang menjalar. Rasanya kayak beban hidup terangkat sejenak begitu notifikasi "Pembayaran Berhasil" muncul di layar.

Fenomena ini akrab kita sebut sebagai retail therapy. Istilah yang terdengar keren dan menenangkan, seolah-olah belanja adalah resep dokter untuk kesehatan mental yang sedang meriang. Tapi, pernah nggak sih kamu bertanya-tanya, kenapa barang yang baru dibeli itu cuma bikin bahagia sebentar saja? Begitu paket sampai, dibuka, lalu ditaruh di pojok kamar, rasa senangnya hilang. Besoknya, kita kembali merasa kosong dan butuh belanja lagi. Selamat datang di jebakan dopamin.

Dopamin: Bukan Tentang Barangnya, Tapi Tentang 'Berburunya'

Banyak orang salah kaprah mengira kalau dopamin itu keluar saat kita memegang barang baru. Padahal, menurut para ahli psikologi, dopamin—zat kimia di otak yang mengatur rasa senang—justru memuncak saat kita sedang memilih-milih dan mengantisipasi pembelian. Dopamin adalah hormon "pencarian". Ia keluar paling deras saat kamu sedang scroll katalog, membandingkan harga, dan membayangkan betapa kerennya kamu kalau pakai sepatu baru itu nanti.

Secara evolusioner, otak kita didesain untuk menjadi pemburu. Dulu, nenek moyang kita dapet dopamin kalau nemu pohon buah yang matang di hutan. Zaman sekarang, hutannya pindah ke e-commerce. Sensasi "nemu barang diskon" atau "nemu barang langka" itu memberikan kepuasan instan yang sama. Sayangnya, begitu barangnya sudah di tangan, misteri dan antisipasinya hilang. Itulah kenapa kebahagiaannya bersifat temporer atau sesaat. Kita nggak jatuh cinta sama barangnya, kita cuma ketagihan sama sensasi berburunya.

Kontrol yang Hilang dan Kendali yang Ditemukan di Keranjang Belanja

Alasan lain kenapa retail therapy terasa sangat ampuh adalah soal kendali (control). Hidup sering kali berantakan; kerjaan nggak kelar-kelar, macet di jalan, atau konflik keluarga adalah hal-hal yang sering kali di luar kendali kita. Saat merasa nggak berdaya, otak kita mencari cara tercepat untuk merasa berkuasa kembali. Belanja adalah jawabannya.

Di dunia belanja, kamu adalah raja atau ratu. Kamu punya kuasa penuh untuk memutuskan barang mana yang layak masuk keranjang dan mana yang nggak. Keputusan-keputusan kecil ini—memilih warna, ukuran, atau jasa pengiriman—memberikan ilusi bahwa kita masih memegang kendali atas hidup kita. Ini adalah mekanisme pertahanan diri yang natural, tapi kalau keterusan, malah jadi bumerang buat dompet.

Gaya Hidup Konsumtif yang Dibungkus Self-Reward

Sekarang, tantangannya makin berat karena ada narasi "Self-Reward" atau "Healing" yang sering disalahgunakan. Dikit-dikit belanja alasannya self-reward, dikit-dikit checkout alasannya biar nggak stres. Padahal, ada batas tipis antara menghargai diri sendiri dengan perilaku konsumtif yang impulsif. Apalagi algoritma media sosial sekarang makin pintar. Kamu baru kepikiran mau beli termos, tiba-tiba iklan termos muncul di semua platform. Godaannya nggak main-main!

Masalahnya, kebahagiaan dari retail therapy itu punya ambang batas. Semakin sering kamu melakukannya, semakin besar dosis yang kamu butuhkan untuk mencapai tingkat kesenangan yang sama. Kalau bulan ini kamu senang beli baju satu, bulan depan mungkin kamu baru merasa puas kalau beli tiga. Inilah yang disebut dengan hedonic treadmill—kita terus berlari mengejar kebahagiaan, tapi sebenarnya kita cuma jalan di tempat.

Gimana Caranya Biar Nggak Jadi Budak Checkout?

Terus, apa kita nggak boleh belanja sama sekali? Ya boleh, dong. Belanja itu manusiawi. Tapi biar nggak kebablasan dan malah bikin stres di akhir bulan karena saldo ATM menipis, ada beberapa trik psikologis yang bisa kamu terapkan:

  • Aturan 24 Jam: Kalau lihat barang yang bikin laper mata, jangan langsung bayar. Masukin keranjang dulu, lalu tutup aplikasinya. Tunggu sampai besok. Biasanya, setelah 24 jam, keinginan menggebu-gebu itu bakal hilang karena kadar dopaminnya sudah turun.
  • Unsubscribe dan Hapus Notifikasi: Godaan itu datangnya dari mata. Kalau kamu nggak tahu ada diskon 90%, kamu nggak bakal merasa rugi kalau nggak ikutan. Matikan notifikasi aplikasi belanja atau berhenti mengikuti akun-akun yang hobi 'meracuni' barang-barang nggak penting.
  • Cari Sumber Dopamin Lain: Otakmu cuma butuh dopamin, bukan barangnya. Coba cari kegiatan lain yang juga memicu dopamin tapi lebih murah dan sehat. Misalnya olahraga, menyelesaikan puzzle, atau sekadar beresin lemari baju (yang biasanya malah bikin kamu sadar kalau barang kamu sudah kebanyakan).
  • Hitung Berdasarkan Jam Kerja: Sebelum beli barang seharga 500 ribu, coba hitung berapa jam kamu harus kerja keras untuk dapetin uang segitu. Kalau kamu harus lembur dua malam cuma buat beli barang yang bakal kamu lupain dalam seminggu, rasanya kok nggak sebanding ya?

Pada akhirnya, kebahagiaan sejati nggak pernah datang dari kotak paket yang diantar kurir ke depan rumah. Retail therapy mungkin bisa jadi plester luka saat kita lagi sedih, tapi dia bukan obatnya. Mengenali kenapa kita ingin belanja adalah langkah awal untuk benar-benar pulih dari rasa nggak nyaman di dalam diri. Yuk, mulai lebih sadar sama jempol kita sendiri!

Logo Radio
🔴 Radio Live