Uji Nyali Lidah dengan Rujak Cingur, Sensasi Makan "Moncong Sapi" yang Bikin Kangen
Refa - Tuesday, 30 December 2025 | 02:30 PM


Bagi pendatang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya, mendengar nama kuliner ini mungkin bikin dahi berkerut. "Rujak kok pakai daging? Cingur itu apa?" Dan ketika dijelaskan bahwa cingur adalah bahasa Jawa untuk "moncong" atau hidung sapi, reaksi pertamanya biasanya antara kaget, geli, atau malah ngeri.
Tapi tunggu dulu, jangan buru-buru kabur. Di balik bahan utamanya yang terdengar ekstrem, Rujak Cingur adalah raja dari segala rujak di Jawa Timur. Ini adalah kuliner yang memadukan rasa gurih, pedas, dan segar dalam satu piring. Sekali lidahmu beradaptasi dengan rasanya, dijamin rasa "geli" tadi akan berubah menjadi ketagihan yang susah diobati.
Mari kita bedah kenapa moncong sapi ini bisa jadi primadona kuliner Kota Pahlawan.
Jangan Bayangkan Bentuk Aslinya
Ketakutan terbesar pemula biasanya berasal dari imajinasi liar tentang bentuk hidung sapi yang utuh di atas piring. Tenang saja, realitanya tidak sehoror itu. Cingur yang disajikan sudah melalui proses perebusan berjam-jam hingga sangat empuk, lalu dibersihkan kulit luarnya, dan dipotong kecil-kecil.
Secara tekstur, cingur sapi ini mirip sekali dengan kikil atau tunjang yang biasa ada di masakan Padang, bedanya cingur lebih tebal dan lebih kenyal (chewy). Tidak ada bau amis sama sekali jika diolah dengan benar. Sensasi kenyal-kenyal empuk inilah yang bikin nagih saat dikunyah bersamaan dengan krupuk putih yang renyah.
Keajaiban Bumbu Petis dan Pisang Batu
Nyawa dari Rujak Cingur sebenarnya bukan pada dagingnya, melainkan pada bumbunya. Bumbu rujak ini berwarna hitam pekat, kental, dan aromanya sangat tajam. Warna hitam itu berasal dari Petis Udang kualitas super.
Buat lidah orang luar Jawa Timur, aroma petis mungkin terasa agak "menyengat" di awal. Tapi percayalah, ini adalah acquired taste (rasa yang butuh pembiasaan). Begitu masuk mulut, rasa gurih udang yang pekat akan meledak.
Uniknya lagi, penjual rujak cingur asli biasanya mengulek bumbu dadakan di atas cobek besar (cowek). Mereka akan menambahkan irisan Pisang Batu (Pisang Kluthuk) beserta kulitnya. Jangan kaget, pisang mentah yang sepet ini justru berfungsi untuk menyeimbangkan rasa, mengentalkan bumbu, dan dipercaya mencegah sakit perut setelah makan pedas.
Tabrakan Rasa yang Harmonis
Apa isi piringnya? Di sinilah letak keunikannya. Rujak Cingur adalah pertemuan dua dunia, dunia buah-buahan segar (bengkoang, mangga muda, nanas, timun) dan dunia lauk matang (kangkung rebus, toge, tahu goreng, tempe goreng, dan lontong).
Membayangkannya mungkin aneh. "Nanas ketemu kangkung? Apa enak?" Jawabannya, Enak banget. Rasa asam segar dari buah menetralisir rasa pekat dari bumbu petis, sementara tahu dan cingur memberikan tekstur yang "berat" dan mengenyangkan.
Kalau kamu berani coba, pesanlah dengan level pedas "sedang" atau "pedas" sekalian. Keringat yang bercucuran saat menyantap potongan cingur kenyal berbalut bumbu petis pedas di tengah panasnya udara Surabaya adalah pengalaman kuliner yang tak tergantikan.
Next News

Bapukung: Kearifan Lokal Dayak dan Banjar dalam Menimang Buah Hati dengan Posisi Duduk
17 hours ago

Mengenal Air Terjun Tumpak Sewu, Niagara-nya Indonesia
18 hours ago

Kenapa Kota-Kota di Indonesia Punya Julukan Unik? Ternyata Ada Cerita Besar di Baliknya
18 hours ago

Tradisi Unik Balap Sapi di Sigi Sebagai Wujud Syukur Petani Usai Panen Raya
2 days ago

Marine Safari Bali sebagai Pusat Edukasi dan Konservasi Ekosistem Laut
4 days ago

Dekat Tugu Pahlawan, Ada Kampung yang Bikin Surabaya Terasa Tahun 1900-an
5 days ago

Pantai Selatan Jawa Timur Terkenal Angker, Benarkah Nyi Roro Kidul Masih “Berkuasa”?
5 days ago

Sering Dikira Ritual Mistis, Ini Makna Sebenarnya Larung Sesaji di Jawa Timur
5 days ago

Sudah Ada Sejak 1930, Ini Alasan Zangrandi Tak Pernah Sepi di Tengah Tren Gelato
6 days ago

Pendatang Wajib Tahu! Ini Sebabnya Gaya Bicara Orang Surabaya Sering Disalahpahami
6 days ago





