Ceritra
Ceritra Update

Transformasi Kota Raub Malaysia Menjadi Ladang Emas Baru Lewat Durian Musang King

Nisrina - Wednesday, 21 January 2026 | 01:45 PM

Background
Transformasi Kota Raub Malaysia Menjadi Ladang Emas Baru Lewat Durian Musang King
Durian menjadi kebanggaan masyarakat Raub, kota kecil yang dapat dijangkau menggunakan mobil selama 1,5 jam dari Kuala Lumpur, Malaysia. (BBC/Koh Ewe)

Kota Raub yang terletak sekitar satu setengah jam perjalanan darat dari Kuala Lumpur kini memiliki wajah baru yang sangat berbeda dari sejarah masa lalunya. Pada abad ke-19, kota kecil ini dikenal luas sebagai destinasi para penambang yang berburu emas. Namun saat ini, identitas Raub telah berubah total menjadi pusat dari komoditas yang tidak kalah berharganya, yaitu durian Musang King. Aroma menyengat yang khas langsung menyambut siapa saja yang memasuki wilayah ini. Truk-truk pengangkut buah berduri tampak hilir mudik, sementara patung replika durian raksasa dan papan penunjuk jalan bertuliskan "Selamat datang di rumah durian Musang King" menegaskan status baru kota tersebut.

Perubahan ekonomi di Raub didorong oleh lonjakan permintaan yang luar biasa dari pasar internasional, khususnya dari China. Durian Musang King yang memiliki tekstur lembut dengan perpaduan rasa pahit dan manis yang kompleks kini dijuluki sebagai "Hermès-nya durian" oleh warga Tionghoa. Tingginya nilai jual varietas ini membuat banyak petani lokal mengubah haluan bisnis mereka. Jika pada krisis ekonomi tahun 1990-an banyak pohon durian ditebang untuk digantikan oleh kelapa sawit, kini fenomena sebaliknya justru terjadi. Hutan kelapa sawit perlahan menghilang dan berganti menjadi perkebunan durian yang menjanjikan keuntungan berlipat ganda.

China memang menjadi raksasa penikmat durian dunia. Pada tahun 2024 saja, nilai impor durian negara tersebut mencapai angka fantastis sebesar 7 miliar Dolar AS atau setara dengan ratusan triliun Rupiah. Angka ini meningkat tiga kali lipat dibandingkan tahun 2020. Di China, durian bukan sekadar buah, melainkan simbol status sosial. Buah ini kerap dijadikan hadiah mewah di kalangan masyarakat kelas atas dan menjadi bintang di media sosial. Bahkan selera konsumen China kini mulai berevolusi. Jika awalnya mereka menyukai durian yang manis, kini mereka mulai memburu durian dengan profil rasa yang lebih rumit, beraroma kuat, dan memiliki sentuhan rasa pahit seperti alkohol yang menjadi ciri khas Musang King.

Dampak ekonomi dari demam durian ini sangat nyata dirasakan oleh penduduk lokal Raub. Salah satu contoh suksesnya adalah Lu Yuee Thing atau yang akrab disapa Paman Thing. Di usianya yang ke-72 tahun, ia menjadi salah satu petani yang menikmati manisnya bisnis durian. Keberhasilan ini terlihat dari armada truk pikap Jepang baru yang menggantikan kendaraan tua miliknya untuk mengangkut hasil panen. Namun kekayaan ini tidak datang dengan mudah. Para petani harus bangun saat fajar, menyusuri bukit terjal, dan menghadapi risiko fisik seperti tertimpa buah durian demi mengumpulkan hasil panen terbaik. Durian-durian ini kemudian disortir dengan ketat, di mana kelas tertinggi atau Grade AA akan langsung diterbangkan untuk memuaskan selera pasar Tiongkok.

Fenomena ini juga memicu apa yang disebut sebagai diplomasi durian. Pemerintah China aktif menjalin kesepakatan perdagangan dengan negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, hingga Filipina. Infrastruktur pendukung seperti jalur kereta api China-Laos kini sibuk mengangkut ribuan ton buah setiap harinya. Meski demikian, ketergantungan pada pasar China juga membawa tantangan tersendiri. Ambisi China untuk mencapai swasembada pangan atau "kebebasan durian" mulai terlihat dengan eksperimen penanaman durian di Pulau Hainan. Meskipun produksi lokal China saat ini masih sangat kecil, hal ini menjadi sinyal peringatan bagi negara pengekspor di masa depan.

Di Raub sendiri, ledakan industri ini memunculkan konflik agraria. Pihak berwenang mulai menertibkan ribuan pohon durian yang dianggap ditanam secara ilegal di lahan negara, memaksa petani yang sudah menggarap lahan tersebut selama puluhan tahun untuk membayar sewa atau menghadapi penggusuran. Terlepas dari berbagai tantangan tersebut, optimisme warga Raub tetap tinggi. Mereka meyakini bahwa kualitas tanah dan iklim Malaysia menghasilkan cita rasa Musang King yang sulit ditandingi oleh durian hasil budidaya di tempat lain, termasuk di China sekalipun. Bagi mereka, selama kualitas terjaga, takhta Musang King sebagai raja buah akan sulit digoyahkan.

Logo Radio
🔴 Radio Live