Alasan Mengapa Emisi Karbon di Jawa dan Sumatra Menjadi yang Tertinggi di Indonesia


Indonesia telah lama dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia bukan hanya karena hutan hujan tropisnya yang lebat, melainkan juga berkat ekosistem pesisirnya yang kaya. Di antara hutan bakau dan terumbu karang, terdapat pahlawan iklim yang sering terlupakan bernama padang lamun. Tumbuhan berbunga yang hidup di dasar laut ini memiliki kemampuan menyerap karbon yang luar biasa atau yang dikenal sebagai Blue Carbon. Namun, sebuah temuan mengejutkan dari riset terbaru mengungkapkan fakta yang mengkhawatirkan. Wilayah Jawa dan Sumatra justru tercatat memiliki faktor emisi karbon dari ekosistem lamun yang paling tinggi dibandingkan wilayah lain di Indonesia.
Fenomena ini sepintas terdengar kontradiktif mengingat fungsi alami lamun sebagai penyerap karbon. Namun, tingginya faktor emisi di kedua pulau besar ini berkaitan erat dengan konsep gangguan antropogenik atau campur tangan manusia. Riset yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa ekosistem lamun di Jawa dan Sumatra hidup di bawah tekanan yang sangat berat. Sebagai pusat populasi dan aktivitas ekonomi terbesar di Indonesia, pesisir Jawa dan Sumatra menghadapi ancaman nyata dari reklamasi pantai, pembangunan pelabuhan, limbah industri, hingga pencemaran sampah rumah tangga yang bermuara ke laut.
Ketika padang lamun yang sehat mengalami kerusakan atau mati akibat aktivitas manusia tersebut, fungsi penyerapannya berhenti total. Lebih parah lagi, karbon yang telah tersimpan rapi di dalam sedimen tanah di bawah lamun selama berabad-abad akan terlepas kembali ke atmosfer dalam bentuk gas rumah kaca. Inilah yang menyebabkan faktor emisinya melonjak tajam. Berbeda dengan wilayah timur Indonesia seperti Papua atau Maluku yang perairannya relatif lebih jernih dan minim aktivitas industri, lamun di Jawa dan Sumatra ibarat benteng pertahanan yang terus-menerus digempur hingga akhirnya runtuh dan melepaskan "tahanan" karbonnya.
Selain faktor kerusakan fisik, karakteristik perairan di Jawa dan Sumatra juga memegang peranan penting. Perairan di kedua pulau ini menerima asupan nutrien dan sedimen organik yang sangat tinggi dari aliran sungai-sungai besar yang bermuara ke laut. Sedimen yang kaya bahan organik ini membuat stok karbon di tanah lamun menjadi sangat padat. Artinya, tanah di bawah lamun Jawa dan Sumatra menyimpan "bom waktu" karbon yang lebih besar per meter perseginya dibandingkan wilayah lain. Ketika lapisan tanah ini terganggu oleh pengerukan atau polusi, jumlah karbon yang terlepas ke udara otomatis jauh lebih masif.
Kondisi ini diperparah oleh eutrofikasi atau penyuburan air berlebih akibat sisa pupuk pertanian dan limbah domestik yang hanyut ke laut. Eutrofikasi menyebabkan ledakan pertumbuhan alga yang menutupi permukaan air dan menghalangi sinar matahari masuk ke dasar laut. Akibatnya, lamun tidak bisa berfotosintesis dan akhirnya mati membusuk. Proses pembusukan ini kemudian menjadi sumber emisi karbon baru yang signifikan, menambah beban emisi yang sudah ada dari kerusakan fisik lahan.
Temuan mengenai tingginya faktor emisi di Jawa dan Sumatra ini seharusnya menjadi alarm keras bagi tata kelola wilayah pesisir di Indonesia. Kita tidak bisa lagi memandang padang lamun hanya sebagai rumput laut biasa tempat ikan bermain. Mereka adalah brankas karbon raksasa yang jika kuncinya rusak oleh ulah manusia, isinya akan berbalik menyerang kita dalam bentuk perubahan iklim yang kian ekstrem. Perlindungan ketat terhadap sisa padang lamun di wilayah padat penduduk seperti Jawa dan Sumatra bukan lagi pilihan, melainkan keharusan mendesak demi menjaga keseimbangan iklim global.
Next News

Ada Aroma Keputusasaan di Balik Siswa Tangsel Tertabrak KRL
11 hours ago

Hujan Meteor Perseid 2026: Pertunjukan Langit Terbaik Dekade Ini
a day ago

Kebakaran Bromo dan Musim Kemarau Panjang, Kenapa Wilayah Wisata Ini Rawan Terbakar Setiap Tahun?
2 days ago

No-na Rilis HONK: Gebrakan Musik Baru yang Lebih Berwarna
a day ago

War Kuota Upacara di Balai Kota Surabaya: Antara Patriotisme dan Rebutan Kursi Layaknya Konser Coldplay
a day ago

For Revenge Resmi Isi OST Spider-Man: Brand New Day, Keren!
a day ago

Surabaya Gempar: Dua Oknum Pemkot Resmi Diberhentikan
a day ago

HUT Pramuka ke-65: menyeleksi petugas apel terbaik daerah Jawa Timur
a day ago

Surabaya Great Expo 2026 Pecahkan Rekor, Transaksi Tembus Rp7,75 Miliar
2 days ago

Benarkah SNBP Cuma Masalah Hoki? Cek Faktanya di Sini!
a day ago





