Ceritra
Ceritra Update

Tips Menjaga Hubungan Pertemanan yang Sehat di Usia Dewasa

Elsa - Tuesday, 07 April 2026 | 03:10 PM

Background
Tips Menjaga Hubungan Pertemanan yang Sehat di Usia Dewasa
Ilustrasi Pertemanan (Pinterest/)

Seni Menjaga Pertemanan di Usia Dewasa: Antara Wacana Ngopi dan Komitmen yang Enggak Cuma Omong Kosong

Ingat nggak zaman sekolah atau kuliah dulu? Rasanya gampang banget buat ketemu teman. Tinggal samperin ke kelas sebelah, nongkrong di kantin sampai penjaganya bosan, atau sekadar main PS sampai pagi di kosan. Dunia rasanya sempit, dan teman-teman kita selalu ada di sana. Tapi, begitu masuk ke fase yang namanya "adulting" atau jadi orang dewasa beneran, ceritanya langsung berubah drastis. Tiba-tiba saja, grup WhatsApp yang dulunya ramai tiap jam, sekarang isinya cuma ucapan selamat ulang tahun atau info kalau ada yang menikah. Selebihnya? Hening.

Menjaga pertemanan di usia dewasa itu jujur saja, susah-susah gampang—lebih banyak susahnya sih kalau boleh jujur. Kita mulai punya prioritas masing-masing. Ada yang sibuk ngejar karier sampai lembur tiap malam, ada yang sudah sibuk urus anak dan cicilan KPR, atau ada yang sekadar pengen rebahan di akhir pekan karena energinya sudah habis diperas bos di kantor. Pertemuan yang awalnya "ayo dong ketemuan" seringkali cuma berakhir jadi wacana abadi yang nggak pernah terealisasi. Tapi, bukan berarti kita harus pasrah kehilangan circle kita, kan?

Berikut adalah beberapa tips yang mungkin bisa membantu kamu menjaga hubungan pertemanan tetap sehat dan awet, tanpa harus merasa terbebani atau malah jadi stres sendiri.

1. Sadari Bahwa Low-Maintenance Friendship Itu Valid

Dulu mungkin kita merasa kalau nggak ngobrol tiap hari itu artinya kita menjauh. Padahal, di usia dewasa, konsep pertemanan yang sehat justru seringkali datang dari mereka yang "low-maintenance". Ini adalah jenis pertemanan di mana kalian nggak perlu chat-an setiap hari, tapi pas ketemu, rasanya masih sama kayak dulu. Nggak ada rasa canggung, nggak ada tuntutan buat selalu lapor kegiatan 24/7.

Jangan merasa bersalah kalau kamu nggak sempat membalas chat teman selama tiga hari karena kerjaan lagi numpuk. Teman yang dewasa akan mengerti. Sebaliknya, kamu juga harus memberi ruang yang sama buat mereka. Pahami kalau setiap orang punya "kapasitas sosial" yang beda-beda. Jadi, jangan baper kalau dia jarang nimbrung di grup. Yang penting, kualitas saat ngobrol itu jauh lebih bermakna daripada kuantitas chat yang isinya cuma stiker doang.

2. Buang Jauh-Jauh Gengsi dan Perasaan "Kok Cuma Gue yang Ngajakin?"

Ini nih penyakit paling umum di usia dewasa: gengsi. Kadang kita merasa, "Kok dari kemarin gue terus yang nge-chat duluan?" atau "Kenapa dia nggak pernah inisiatif ngajak jalan ya?". Akhirnya, kita milih buat diam dan nunggu mereka yang gerak. Masalahnya, kalau kedua belah pihak mikir hal yang sama, ya wassalam, hubungan itu bakal mati pelan-pelan.

Dalam hubungan apapun, termasuk pertemanan, harus ada yang jadi "lem"-nya. Kalau kamu memang kangen atau pengen cerita, ya chat aja. Nggak usah hitung-hitungan siapa yang duluan. Mungkin temanmu lagi dalam kondisi mental yang nggak stabil atau lagi benar-benar burnout sampai lupa cara bersosialisasi. Menjadi orang yang pertama menyapa bukan berarti kamu nggak punya harga diri, itu tandanya kamu peduli.

3. Jadwalkan Ketemuan, Jangan Cuma Wacana

Kalimat "Yuk, kapan-kapan ngopi!" adalah kebohongan paling manis dalam sejarah pertemanan orang dewasa. Kalau kamu benar-benar ingin menjaga pertemanan, ganti kalimat itu dengan sesuatu yang lebih konkret. Misalnya, "Eh, Sabtu depan jam 4 sore di kafe bawah kantor lo bisa nggak?".

Menjadwalkan waktu secara spesifik menunjukkan kalau kamu menghargai waktu mereka. Kalau memang nggak bisa, ya cari waktu lain. Memang terdengar sangat kaku kayak lagi meeting sama klien, tapi faktanya, tanpa jadwal yang jelas, reuni kecil-kecilan kalian cuma bakal berakhir di angan-angan. Di usia dewasa, spontanitas itu mewah, jadi perencanaan adalah kunci.

4. Kelola Iri Hati dan Perasaan Kompetitif

Satu hal yang sering merusak pertemanan di usia 20-an atau 30-an adalah rasa iri. Melihat teman sebaya sudah beli mobil, naik jabatan, atau liburan ke luar negeri sementara kita masih berjuang bayar tagihan listrik, itu rasanya pedih-pedih sedap. Media sosial makin memperparah ini karena kita cuma melihat "highlight reel" dari hidup orang lain.

Pertemanan yang sehat adalah saat kamu bisa dengan tulus ikut senang atas keberhasilan temanmu. Ingat, hidup itu bukan perlombaan lari. Setiap orang punya garis start dan finish yang beda. Kalau kamu merasa minder dekat dengan teman tertentu karena merasa kalah sukses, coba ubah perspektifnya. Jadikan keberhasilan mereka sebagai inspirasi, bukan sebagai tolok ukur kegagalanmu. Kalau circle-mu isinya orang-orang hebat, kamu juga bakal ketularan energinya, kan?

5. Tahu Kapan Harus Melepaskan (Cutting Off)

Nah, ini poin yang agak pahit tapi perlu. Nggak semua pertemanan harus dipertahankan seumur hidup. Ada kalanya kita tumbuh ke arah yang berbeda dengan teman lama. Mungkin visi misinya sudah nggak nyambung, atau malah pertemanan itu jadi toxic dan cuma bikin kamu capek mental. Misalnya, teman yang cuma datang pas ada butuhnya doang, atau yang hobinya ngerendahin pilihan hidup kamu.

Menjadi dewasa berarti berani menetapkan batasan. Kalau sebuah hubungan pertemanan lebih banyak kasih dampak negatif daripada positif, nggak ada salahnya untuk pelan-pelan menarik diri. Fokuslah pada mereka yang benar-benar ada buat kamu, yang saling support, dan yang bikin kamu merasa jadi diri sendiri. Lebih baik punya dua atau tiga teman sejati daripada punya puluhan teman tapi semuanya "palsu" atau cuma bikin drain energi.

Kesimpulannya, menjaga pertemanan di usia dewasa itu memang butuh usaha lebih. Ini bukan lagi soal siapa yang paling asik diajak nongkrong, tapi soal siapa yang mau tetap tinggal saat hidup lagi nggak asik-asiknya. Jadi, mumpung lagi baca artikel ini, coba deh chat satu teman lama kamu. Nggak usah berat-berat, cukup tanya, "Apa kabar? Tadi gue ingat lo pas lihat sesuatu." Siapa tahu, chat sederhana itu adalah awal dari kembalinya kehangatan yang sudah lama hilang ditelan kesibukan dunia kerja.

Logo Radio
🔴 Radio Live