Ceritra
Ceritra Warga

Surga Anggrek Tersembunyi di Jantung Pegunungan Meratus

Nisrina - Wednesday, 04 February 2026 | 07:15 AM

Background
Surga Anggrek Tersembunyi di Jantung Pegunungan Meratus
Puncak Gunung Haur Bunak, salah satu habitat tumbuhan dari keluarga Orchidaceae ini mekar sempurna tanpa campur tangan manusia. (Mongabay Indonesia/Rendy Tisna)

Kalimantan Selatan tidak hanya dikenal dengan sungai-sungainya yang membelah kota atau pasar terapungnya yang legendaris. Jauh di pedalaman provinsi ini membentang sebuah lanskap purba yang menjadi benteng terakhir bagi keanekaragaman hayati di tanah Borneo. Lanskap tersebut adalah Pegunungan Meratus. Kawasan ini bukan sekadar deretan bukit hijau melainkan rumah bagi ribuan spesies flora yang memukau dunia salah satunya adalah anggrek.

Pesona anggrek dari Pegunungan Meratus telah lama menjadi buah bibir di kalangan peneliti botani dan pencinta tanaman hias. Di balik rimbunnya hutan hujan tropis yang lembap tersimpan berbagai spesies anggrek spesies atau anggrek alam yang kecantikannya tidak kalah dengan anggrek hibrida hasil silangan laboratorium. Keberadaan mereka adalah bukti kekayaan alam Indonesia yang tak ternilai harganya.

Artikel ini akan membawa Anda menjelajahi keindahan tersembunyi di hutan Meratus. Kita akan mengupas tuntas tentang ragam spesies yang ada tantangan habitat aslinya serta mengapa keberadaan bunga eksotis ini menjadi simbol penting bagi kelestarian ekosistem hutan Kalimantan yang semakin terhimpit zaman.

Kekayaan Spesies yang Melimpah

Pegunungan Meratus yang membentang dari arah tenggara ke utara Kalimantan Selatan menawarkan kondisi geografis yang unik. Dengan ketinggian yang bervariasi serta curah hujan yang tinggi kawasan ini menciptakan mikroklimat yang sangat ideal bagi pertumbuhan tanaman epifit khususnya anggrek.

Para peneliti dan penjelajah hutan sering kali dibuat takjub dengan temuan spesies anggrek di kawasan ini. Mulai dari yang berukuran mikroskopis hingga yang memiliki untaian bunga panjang menjuntai semuanya tumbuh subur menempel pada inang pohon-pohon raksasa. Anggrek Meratus dikenal memiliki variasi warna dan bentuk kelopak yang sangat beragam.

Beberapa jenis anggrek yang sering dijumpai antara lain dari genus Coelogyne Dendrobium Bulbophyllum dan Eria. Tidak jarang para ekspedisi menemukan spesies yang diduga endemik atau hanya bisa ditemukan di wilayah Meratus saja. Kekayaan ini menjadikan Meratus sebagai laboratorium alam raksasa yang menyimpan potensi genetik luar biasa untuk pengembangan botani di masa depan.

Keindahan Anggrek Tebu dan Anggrek Hitam

Di antara sekian banyak spesies ada beberapa primadona yang selalu dicari oleh para pemburu foto alam. Salah satunya adalah Anggrek Tebu atau Grammatophyllum speciosum. Anggrek ini dikenal sebagai anggrek terbesar di dunia. Ukurannya yang masif dengan tangkai bunga yang bisa mencapai panjang beberapa meter membuatnya tampak sangat megah saat mekar di dahan pohon yang tinggi.

Selain itu meskipun identik dengan Kalimantan Timur Anggrek Hitam atau Coelogyne pandurata juga masih bisa dijumpai di beberapa titik tersembunyi di kawasan Kalimantan Selatan. Warna hitam pada bagian lidah bunganya yang kontras dengan kelopak hijau muda memberikan kesan mistis namun elegan.

Keberadaan spesies-spesies ikonik ini menjadi daya tarik utama bagi ekowisata. Wisatawan minat khusus rela berjalan kaki berjam-jam menembus lebatnya hutan hanya untuk menyaksikan momen langka ketika anggrek-anggrek ini memamerkan kelopaknya yang indah.

Peran Masyarakat Dayak Meratus

Berbicara tentang anggrek Meratus tidak bisa dilepaskan dari peran masyarakat adat Dayak Meratus. Bagi masyarakat lokal hutan adalah ibu yang memberikan kehidupan. Mereka memiliki kearifan lokal yang kuat dalam menjaga keseimbangan alam.

Bagi warga Dayak Meratus tanaman anggrek bukan sekadar hiasan. Beberapa jenis anggrek memiliki nilai budaya dan bahkan digunakan dalam ritual adat atau pengobatan tradisional. Pengetahuan mereka tentang lokasi tumbuh dan masa berbunga anggrek sangatlah mendalam melebihi literatur ilmiah manapun.

Sinergi antara masyarakat adat dan alam inilah yang membuat sebagian kawasan hutan Meratus masih terjaga hingga kini. Mereka memahami bahwa merusak pohon inang berarti membunuh anggrek itu sendiri. Oleh karena itu menjaga kelestarian hutan adat sama artinya dengan menjaga kelangsungan hidup puspa pesona bangsa ini.

Ancaman Nyata Deforestasi dan Perubahan Lahan

Meskipun memiliki keindahan yang memukau nasib anggrek Meratus tidak sepenuhnya aman. Ancaman deforestasi pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit hingga pertambangan batu bara terus mengintai kawasan penyangga pegunungan ini.

Anggrek alam sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Mereka membutuhkan naungan pohon inang kelembapan udara yang spesifik dan sirkulasi udara yang bersih. Ketika hutan ditebang suhu mikro akan meningkat drastis dan kelembapan akan hilang menyebabkan anggrek-anggrek tersebut mati kekeringan.

Selain hilangnya habitat ancaman lain datang dari perburuan liar. Tingginya permintaan pasar terhadap anggrek alam membuat banyak orang tidak bertanggung jawab menjarah hutan dan mengambil anggrek secara membabi buta tanpa memperhatikan kaidah konservasi. Praktik ini jika tidak dihentikan akan mempercepat kepunahan spesies langka di habitat aslinya.

Potensi Ekowisata Berkelanjutan

Melihat potensi yang ada pemerintah daerah dan pegiat lingkungan mulai mendorong konsep ekowisata sebagai solusi jalan tengah. Dengan menjadikan habitat anggrek sebagai destinasi wisata minat khusus masyarakat sekitar bisa mendapatkan manfaat ekonomi tanpa harus menebang pohon atau menjual anggrek ke luar hutan.

Konsep taman anggrek alami atau kebun raya mini di kaki pegunungan mulai dikembangkan. Pengunjung bisa menikmati keindahan bunga di habitat aslinya atau di tempat penangkaran yang dikelola secara profesional. Edukasi menjadi kunci utama dalam model wisata ini.

Wisatawan diajak untuk tidak hanya menikmati keindahan visual tetapi juga memahami pentingnya konservasi. Membeli bibit hasil budidaya atau kultur jaringan jauh lebih disarankan daripada membeli anggrek cabutan dari hutan. Dengan cara ini ekonomi tumbuh dan alam tetap lestari.

Harapan untuk Masa Depan Meratus

Pesona anggrek dari Pegunungan Meratus adalah warisan alam yang harus dijaga untuk generasi mendatang. Keindahannya adalah pengingat bahwa Indonesia memiliki kekayaan hayati yang luar biasa.

Upaya pelestarian membutuhkan kerja sama semua pihak mulai dari pemerintah masyarakat adat akademisi hingga wisatawan. Menetapkan kawasan konservasi yang ketat dan menindak tegas pelaku perusakan hutan adalah langkah mutlak yang harus dilakukan.

Biarkan anggrek-anggrek itu tetap mekar di dahan-dahan pohon meranti menyapa kabut pagi Pegunungan Meratus dan menjadi saksi bisu keagungan hutan tropis Kalimantan yang abadi.

Logo Radio
🔴 Radio Live