Ceritra
Ceritra Uang

Stop FOMO! Panduan Memilih Instrumen Investasi Sesuai Tahap Usia

Refa - Wednesday, 25 March 2026 | 06:30 PM

Background
Stop FOMO! Panduan Memilih Instrumen Investasi Sesuai Tahap Usia
Ilustrasi investasi (Freepik/Freepik)

Investasi Bukan Cuma Soal Cuan, Tapi Soal Tahu Diri: Panduan Portofolio Berdasarkan Usia

Pernah nggak sih kamu merasa FOMO alias fear of missing out pas lihat teman kantor pamer profit kripto yang naiknya nggak masuk akal? Atau tiba-tiba merasa tertekan pas lihat story Instagram kenalan yang sudah mulai beli rumah pakai hasil dividen saham? Tenang, kamu nggak sendirian. Di zaman sekarang, obrolan soal investasi sudah semudah ngomongin menu makan siang di warteg. Tapi masalahnya, banyak yang cuma ikut-ikutan tanpa tahu kalau strategi investasi itu sifatnya personal banget, terutama soal usia.

Bayangkan investasi itu kayak milih outfit. Anak umur 20-an yang pakai celana kargo gombrang dan kaos oversized mungkin kelihatan keren, tapi kalau gaya yang sama dipakai kakek-kakek umur 70 tahun buat kondangan, ya agak kurang pas, kan? Begitu juga dengan portofolio investasi. Apa yang cocok buat anak magang yang baru dapet gaji pertama, belum tentu cocok buat bapak anak dua yang cicilan KPR-nya masih belasan tahun lagi.

Usia 20-an: Waktunya Ngegas Tanpa Rem (Tapi Jangan Konyol)

Kalau kamu masih di usia kepala dua, selamat! Kamu punya aset paling berharga di dunia finansial, waktu. Di usia ini, risiko adalah sahabat karib. Kamu belum punya banyak tanggungan (biasanya), jadi kalaupun portofolio kamu mendadak "merah membara" karena pasar saham lagi ambruk, kamu masih punya waktu puluhan tahun buat menunggu harganya balik lagi.

Banyak ahli keuangan menyarankan rumus "100 dikurangi usia" untuk menentukan berapa besar porsi saham atau instrumen berisiko tinggi di portofolio kamu. Kalau umurmu 25, berarti 75% uangmu bisa ditaruh di aset agresif kayak saham atau reksa dana saham. Bahkan, buat yang mentalnya baja, naruh 5-10% di kripto atau startup boleh-boleh aja, asal pakai "uang dingin". Intinya, di usia ini kamu harus agresif mencari pertumbuhan. Jangan terlalu nyaman di deposito yang bunganya cuma cukup buat beli kopi kekinian sebulan sekali.

Usia 30-an: Mulai Mikir Cicilan dan Susu Anak

Masuk ke usia 30-an, biasanya hidup mulai terasa agak berat. Tanggung jawab mulai numpuk, mungkin sudah menikah, punya anak, atau jadi generasi sandwich yang harus menanggung beban orang tua. Di fase ini, strategi "ngegas" total harus mulai dikurangi dikit demi dikit. Kamu nggak bisa lagi asal naruh semua uang di satu koin yang namanya aneh-aneh.

Portofolio ideal di usia ini biasanya mulai menyeimbangkan antara pertumbuhan dan keamanan. Mungkin porsi saham diturunkan jadi 60%, sisanya mulai dimasukkan ke obligasi pemerintah (SBN) atau emas. Emas itu klasik, tapi percayalah, pas pasar lagi kacau, emas adalah safe haven yang bikin tidurmu tetap nyenyak meskipun cicilan rumah masih menghantui.

Observasi jujur sih, di usia 30-an ini tantangan terbesarnya bukan di pasar modal, tapi di gaya hidup. Jangan sampai portofolio investasi kamu kegerus gara-gara harus beli mobil baru demi validasi sosial. Ingat, gengsi nggak bakal bisa dicairkan buat biaya masuk sekolah anak.

Usia 40-an: Masa Grown-up yang Sesungguhnya

Kalau sudah masuk usia 40-an, kamu sudah bukan lagi pemain baru. Kamu kemungkinan besar sedang berada di puncak karier. Penghasilan mungkin lagi gede-gedenya, tapi tenaga buat war di bursa saham mungkin sudah berkurang. Di fase ini, fokus utama mulai bergeser dari mencari kekayaan menjadi mempertahankan kekayaan.

Komposisi portofolio bisa dibuat lebih seimbang, misalnya 50% di aset yang stabil kayak obligasi atau properti, dan 50% tetap di saham blue chip yang rajin bagi dividen. Kamu harus mulai memikirkan dana pensiun dengan lebih serius. Jangan sampai nanti pas pensiun, satu-satunya aset yang tersisa cuma kenangan masa muda yang foya-foya. Di usia 40-an, stabilitas adalah kunci. Fluktuasi jantung saat melihat pasar turun 10% sudah nggak bagus lagi buat kesehatan kamu.

Usia 50-an ke Atas: Saatnya Menikmati Hasil

Memasuki usia 50-an menuju masa pensiun, portofolio kamu harusnya sudah terlihat sangat kalem. Nggak ada lagi tempat buat spekulasi aneh-aneh. Prioritas utamanya adalah likuiditas dan pendapatan pasif (passive income). Porsi obligasi, sukuk, atau deposito bisa diperbesar hingga 70% atau lebih.

Tujuannya satu, supaya tiap bulan ada uang masuk tanpa kamu harus kerja keras atau pusing mikirin grafik harga yang naik-turun kayak rollercoaster. Kamu mau menikmati masa tua dengan tenang, main sama cucu, atau jalan-jalan santai, bukan malah stres lihat harga saham gorengan yang kena suspend bursa.

Penutup: Aturan Itu Bukan Harga Mati

Pada akhirnya, panduan di atas cuma rule of thumb alias aturan umum. Setiap orang punya kondisi finansial, toleransi risiko, dan nasib yang beda-beda. Ada orang umur 50 yang masih berani main saham karena tabungannya sudah tujuh turunan nggak habis. Ada juga anak umur 20 yang sudah sangat konservatif karena harus menanggung biaya hidup satu keluarga besar.

Yang paling penting bukan seberapa banyak saham atau obligasi yang kamu punya, tapi seberapa konsisten kamu menyisihkan uang. Investasi itu maraton, bukan sprint 100 meter. Jangan tergiur kaya mendadak, karena biasanya yang cepat naik itu cepat juga turunnya. Jadi, sudah cek portofolio kamu hari ini? Apakah sudah sesuai dengan kerutan di dahi atau masih bergaya ala remaja yang nggak takut rugi? Pikirkan baik-baik, karena masa depanmu adalah tanggung jawab kamu sendiri, bukan tanggung jawab influencer finansial di TikTok.

Logo Radio
🔴 Radio Live