Kurs Dolar AS Cetak Rekor Baru Tembus Rp17.660, Rupiah Terkapar Dihantam Badai Geopolitik dan Sentimen MSCI
Nizar - Monday, 18 May 2026 | 02:36 PM


Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan pil pahit pada perdagangan awal pekan ini, Senin (18/5/2026). Berdasarkan pantauan data real-time dari berbagai platform valuta asing seperti pasar spot Investing, CNBC Indonesia, hingga konverter mata uang Wise, nilai tukar rupiah kian terperosok ke zona merah dan memecahkan rekor terburuk dalam sejarah.
Mata uang Garuda dibuka melemah tajam dan bergerak di kisaran Rp17.630 hingga Rp17.660 per dolar AS. Bahkan pada perdagangan intraday tengah hari, tekanan jual yang masif sempat membuat rupiah terperosok lebih dalam hingga menyentuh level psikologis baru di angka Rp17.677 per dolar AS.
Pelemahan tajam ini menandai kelanjutan tren depresiasi mata uang domestik yang kian mengkhawatirkan. Lantas, apa saja faktor utama yang membuat dolar AS begitu perkasa di hadapan rupiah hari ini?
1. Tensi Geopolitik Timur Tengah dan Lonjakan Harga Energi
Faktor eksternal menjadi pemicu utama keperkasaan the greenback. Situasi politik di Timur Tengah yang kian memanas, termasuk dampak penutupan Selat Hormuz, berimbas langsung pada meroketnya harga minyak mentah dunia. Kondisi ini memicu kenaikan inflasi di tingkat konsumen (CPI) maupun produsen (PPI) di Amerika Serikat akibat lonjakan harga energi.
Situasi tersebut memaksa para pelaku pasar berekspektasi bahwa bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer), bahkan muncul spekulasi potensi kenaikan suku bunga lanjutan. Alhasil, indeks dolar AS (DXY) menguat drastis terhadap hampir seluruh mata uang utama dunia.
2. Sentimen Negatif Domestik: Rebalancing Indeks MSCI
Tekanan terhadap rupiah di dalam negeri diperparah oleh pengumuman hasil rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) periode Mei 2026. Dalam pengumuman terbarunya, sebanyak 13 saham emiten asal Indonesia resmi dikeluarkan dari Indeks MSCI Global Small Cap.
Keputusan ini memicu sentimen negatif di pasar modal dan memicu aksi jual oleh investor asing. Aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik secara instan menekan stabilitas nilai tukar rupiah.
3. Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Tumbang
Fenomena layunya nilai tukar ini sebenarnya tidak hanya dialami oleh Indonesia. Mayoritas mata uang di kawasan regional Asia terpantau ikut merana di hadapan dolar AS hingga tengah hari ini. Ringgit Malaysia mencatatkan penurunan terdalam sebesar 0,57%, disusul oleh Won Korea Selatan yang ambles 0,45%, Rupee India tertekan 0,33%, dan Baht Thailand terkoreksi 0,2%.
Kendati pelemahan ini bersifat regional, kejatuhan rupiah yang menembus batas baru Rp17.660 menjadi alarm kewaspadaan bagi perekonomian nasional. Jika tren pelemahan ini terus berlanjut tanpa adanya intervensi agresif dari Bank Indonesia (BI) melalui kebijakan moneter di pasar valas, volatilitas ini dikhawatirkan dapat memicu efek domino, mulai dari kenaikan harga barang impor (imported inflation) hingga tekanan pada daya beli masyarakat di sektor transportasi dan industri manufaktur.
Next News

Masih Bawa Uang Cash? Simak Alasan Dompet Mulai Terlupakan
10 days ago

Fenomena In This Economy: Saat Uang Seolah Lari dari Dompet
12 days ago

Cashless Society: Siapkah Kita Hidup Tanpa Uang Tunai?
a month ago

Split Bill: Solusi Patungan yang Makin Populer di Kalangan Anak Muda
a month ago

PayLater Semakin Populer, Kemudahan atau Godaan Belanja?
a month ago

QRIS: Mengapa Satu Kode QR Bisa Dipakai di Berbagai Aplikasi?
a month ago

Teknologi Finansial dalam Kehidupan Sehari-hari: Cara Baru Kita Mengelola dan Menggunakan Uang
a month ago

Dari Sosmed ke Bursa: Panduan Lengkap Mengenal Istilah IPO
a month ago

Isi Bensin Bikin Stres? Rahasia Hemat BBM Biar Dompet Sehat
a month ago

Nyesek Kena Tipu Harga Pasar? Ini Cara Menghindarinya
a month ago






