Ceritra
Ceritra Cinta

Silent Treatment, Perang Dingin Tanpa Suara yang Lebih Menyakitkan dari Teriakan Marah

Refa - Friday, 12 December 2025 | 11:49 AM

Background
Silent Treatment, Perang Dingin Tanpa Suara yang Lebih Menyakitkan dari Teriakan Marah
Ilustrasi Silent Treatment (Pinterest/)

Keheningan dalam sebuah hubungan tidak selalu berarti kedamaian. Ada jenis diam yang justru terasa mencekik, membuat udara di sekitar terasa berat, dan memicu kecemasan yang luar biasa. Fenomena ini dikenal sebagai silent treatment atau perlakuan diam. Alih-alih menyelesaikan masalah dengan diskusi, satu pihak memilih untuk memutus total komunikasi, menganggap pasangannya tidak ada, dan membangun tembok es yang tak tertembus.


Banyak orang mengira bahwa silent treatment lebih baik daripada pertengkaran fisik atau adu mulut yang kasar. Padahal, secara psikologis, didiamkan oleh orang yang dicintai sering kali menimbulkan luka batin yang lebih dalam dan tahan lama dibandingkan dimarahi secara verbal.


Beda Butuh Ruang dan Menghukum

Sering terjadi kerancuan antara taking space (mengambil jarak) dengan silent treatment. Mengambil jarak adalah tindakan sehat dan dewasa. Seseorang mungkin berkata, "Aku sedang emosi, beri aku waktu satu jam untuk tenang baru kita bicara lagi." Ada komunikasi di sana, ada batas waktu, dan tujuannya adalah untuk meredakan situasi agar tidak meledak.


Sebaliknya, silent treatment tidak memiliki tujuan resolusi. Pelaku melakukannya dengan niat untuk menghukum, mengontrol, atau memanipulasi pasangannya. Tidak ada penjelasan mengapa mereka diam, dan tidak ada kepastian kapan aksi bisu itu akan berakhir. Tujuannya adalah membuat pasangan merasa bersalah, bingung, dan akhirnya memohon-mohon maaf demi mencairkan suasana.


Siksaan Mental Bagi Korban

Bagi pihak yang menerima perlakuan ini, dampaknya bisa sangat merusak kepercayaan diri. Otak manusia dirancang untuk bersosialisasi dan mencari koneksi. Ketika koneksi itu diputus secara sepihak dan tiba-tiba, bagian otak yang merespons rasa sakit fisik akan aktif. Rasanya seperti ditolak mentah-mentah.


Korban akan terjebak dalam siklus overthinking yang melelahkan. Mereka mulai menganalisis setiap perkataan dan perbuatan yang mungkin salah, terus-menerus meminta maaf untuk kesalahan yang tidak mereka pahami, dan berjalan jinjit (walking on eggshells) karena takut menyinggung perasaan pasangan lagi. Lambat laun, korban akan kehilangan suaranya sendiri karena merasa percuma berbicara jika tidak pernah didengarkan.


Tanda Ketidakmatangan Emosional

Perilaku mendiamkan pasangan sebenarnya adalah cerminan dari ketidakmatangan emosional pelakunya. Orang yang melakukan silent treatment biasanya tidak memiliki kemampuan komunikasi yang baik untuk mengungkapkan perasaan atau kebutuhan mereka secara verbal. Mereka menggunakan diam sebagai senjata kekuasaan karena itulah satu-satunya cara mereka merasa "menang" dalam konflik.

Ini adalah bentuk kekerasan emosional yang pasif-agresif. Pelaku ingin pasangannya bisa membaca pikiran mereka tanpa harus mereka mengatakannya. Harapan yang tidak realistis inilah yang menjadi racun dalam hubungan.


Memecah Keheningan

Menghadapi pasangan yang gemar melakukan aksi tutup mulut ini membutuhkan kesabaran dan ketegasan. Membalas diam dengan diam hanya akan memperlebar jarak, namun terus-menerus memohon juga akan membuat pelaku merasa strateginya berhasil.


Kunci utamanya adalah menetapkan batasan. Menyampaikan dengan tenang bahwa masalah tidak bisa selesai tanpa komunikasi dua arah adalah langkah awal. Jika pola ini terus berulang dan mengganggu kesehatan mental, mengevaluasi kembali kelayakan hubungan tersebut mungkin perlu dilakukan. Sebab, cinta seharusnya tentang saling mendengar, bukan saling membungkam.

Logo Radio
🔴 Radio Live