Ceritra
Ceritra Warga

Sering Galau Saat Hujan? Bukan Drama, Ini Penjelasan Ahli

Nisrina - Monday, 30 March 2026 | 08:15 PM

Background
Sering Galau Saat Hujan? Bukan Drama, Ini Penjelasan Ahli
Ilustrasi (Adobe Stock/)

Pernah nggak sih kamu lagi semangat-semangatnya ngerjain tugas atau lagi asyik nongkrong, tiba-tiba langit mendung, gerimis turun, dan detik itu juga perasaanmu berubah? Yang tadinya produktif jadi pengen rebahan, yang tadinya ceria mendadak jadi pengen dengerin lagu-lagu galau milik Adele atau Nadin Amizah. Tenang, kamu nggak sendirian. Fenomena ini bukan karena kamu drama queen atau kurang motivasi hidup, tapi emang ada penjelasan ilmiah dan psikologis di baliknya.

Hujan itu emang punya kekuatan magis buat ngerombak suasana hati secepat kilat. Ada orang yang merasa tenang banget pas denger suara rintik hujan (anak senja biasanya menyebut ini vibes healing), tapi nggak sedikit juga yang malah merasa kesepian, sedih, atau bahkan hampa. Fenomena ini tuh bukan cuma soal "kenangan bareng mantan" yang tiba-tiba lewat di pikiran, tapi soal bagaimana tubuh kita bereaksi terhadap perubahan alam.

Matahari Ngumpet, Hormon Ikut Mumet

Alasan paling mendasar kenapa mood kita berubah saat hujan adalah kurangnya cahaya matahari. Secara biologis, tubuh kita itu butuh sinar matahari buat memproduksi serotonin, alias hormon "bahagia". Pas hujan turun dan langit jadi gelap, produksi serotonin ini otomatis menurun. Efeknya? Kita jadi ngerasa agak lesu, gampang marah, atau mendadak melankolis tanpa alasan yang jelas.

Nggak cuma serotonin yang main peran, ada juga temannya yang namanya melatonin. Kalau serotonin bikin kita happy, melatonin ini tugasnya bikin kita ngantuk. Pas cuaca gelap karena mendung, otak kita mikir kalau ini sudah waktunya istirahat, makanya produksi melatonin naik drastis. Itulah kenapa kalau lagi hujan, kasur tuh rasanya punya gravitasi sepuluh kali lipat lebih kuat dari biasanya. Istilah anak sekarang sih, mager parah.

Suara Hujan: Musik Alami yang Bikin Tenang

Tapi, nggak semua perubahan mood itu buruk. Banyak orang justru merasa jauh lebih rileks saat hujan turun. Ternyata, suara rintik hujan itu termasuk dalam kategori "pink noise". Beda sama "white noise" yang frekuensinya rata, pink noise ini punya frekuensi yang lebih rendah dan menenangkan bagi otak manusia. Suara ini bisa menyamarkan suara-suara bising yang mengganggu, kayak suara klakson kendaraan atau teriakan tetangga, sehingga otak kita bisa masuk ke fase istirahat.

Secara nggak sadar, suara hujan itu kayak nina bobo alami. Makanya banyak banget aplikasi meditasi atau tidur yang masukin suara hujan sebagai track utama mereka. Buat kaum overthinker, suara hujan sering kali jadi "pagar" yang membentengi pikiran-pikiran liar, bikin fokus jadi lebih mengerucut ke diri sendiri. Ya, walaupun ujung-ujungnya malah jadi ngelamunin masa depan yang masih abu-abu.

Bau Tanah Basah dan Nostalgia

Pernah denger istilah Petrichor? Itu lho, aroma khas tanah kering yang tersiram air hujan. Bagi sebagian orang, bau ini tuh candu banget. Secara psikologis, indra penciuman kita itu terhubung langsung dengan bagian otak yang memproses memori dan emosi (sistem limbik). Itulah kenapa aroma hujan sering kali memicu nostalgia.

Mungkin kamu inget masa kecil pas main bola di bawah hujan, atau sekadar inget momen makan mi instan pakai telur pas lagi neduh di teras rumah. Aroma petrichor ini secara otomatis narik kita ke memori-memori lama. Kalau memorinya bagus, ya kita bakal ngerasa nyaman. Tapi kalau memorinya soal putus cinta pas lagi kehujanan, ya wassalam, siap-siap aja tisu buat ngelap air mata yang nyaru sama air hujan.

Kultur 'Mager' dan Romantisasi Hujan di Media Sosial

Selain faktor biologis, lingkungan sosial juga punya peran besar. Di Indonesia, ada semacam kesepakatan tak tertulis kalau hujan itu adalah waktu untuk slow down. Media sosial kita penuh dengan konten romantisasi hujan—foto kopi panas di balik jendela yang berembun, atau video estetik jalanan basah dengan caption "Hujan membawa kenangan".

Secara kolektif, kita jadi terbiasa memvalidasi perasaan malas atau sedih kita saat hujan. "Ah, lagi hujan ini, wajar kalau nggak produktif," atau "Lagi hujan, waktunya galau." Sugesti ini tanpa sadar nancep di pikiran kita. Kita jadi memberikan izin pada diri sendiri buat berekspresi secara emosional, yang mungkin pas cuaca panas terik kita tahan-tahan karena harus kelihatan sibuk dan berenergi.

Embrace the Rainy Day

Jadi, kalau besok hujan turun dan kamu ngerasa pengen meringkuk di balik selimut sambil dengerin lagu galau, nggak usah merasa bersalah. Itu cuma cara tubuhmu merespons perubahan hormon dan frekuensi suara di sekitarmu. Hujan itu ibarat tombol "pause" alami dari alam semesta. Gunakan momen itu buat recharge energi, entah itu dengan tidur lebih awal, baca buku, atau sekadar bengong menatap rintik air.

Mood yang berubah saat hujan itu manusiawi banget. Yang penting, jangan sampai keterusan galaunya sampai berhari-hari setelah matahari muncul lagi. Nikmati saja aromanya, dengerin suaranya, dan kalau memang perlu, masaklah mi instan pakai cabai rawit biar suasana hati sedikit terangkat. Karena pada akhirnya, hujan bukan cuma soal air yang jatuh dari langit, tapi soal bagaimana kita memberi ruang buat perasaan kita sendiri untuk sedikit bernapas.

Logo Radio
🔴 Radio Live