Ceritra
Ceritra Kota

Seni Melukis Batang Rokok, Mengenal Tradisi Nyethe yang Melegenda di Tulungagung

Refa - Saturday, 13 December 2025 | 03:00 PM

Background
Seni Melukis Batang Rokok, Mengenal Tradisi Nyethe yang Melegenda di Tulungagung
Cethe (Pinterest/)

Bagi kebanyakan orang, ampas kopi adalah limbah yang berakhir di tempat cuci piring. Namun, bagi masyarakat Tulungagung, Jawa Timur, ampas kopi adalah tinta berharga untuk menciptakan karya seni. Tradisi unik ini dikenal dengan nama Nyethe atau Cethe, sebuah aktivitas mengoleskan endapan kopi kental ke batang rokok hingga membentuk pola-pola hias yang rumit.

Kabupaten Tulungagung yang dikenal sebagai kota seribu warung kopi menjadi rumah bagi budaya ini. Di setiap sudut kota, mulai dari warkop pinggir jalan hingga kafe modern, pemandangan para pria yang sibuk dengan batang rokok dan lepek (piring kecil) kopi adalah hal yang lumrah. Nyethe telah mengubah aktivitas merokok dan minum kopi menjadi sebuah ritual seni yang meditatif dan penuh kreativitas.

Ampas Kopi yang Naik Kelas

Tidak sembarang kopi bisa digunakan untuk nyethe. Warga Tulungagung biasanya menggunakan jenis kopi bubuk yang digiling sangat halus, sering kali disebut sebagai "Kopi Ijo" karena bijinya disangrai bersama kacang hijau atau jagung hingga warnanya agak kehijauan sebelum diseduh. Kopi jenis ini menghasilkan ampas yang sangat lembut dan lengket, sempurna untuk dijadikan bahan lukis.

Prosesnya dimulai dengan meminum air kopi hingga menyisakan sedikit cairan kental di dasar cangkir. Cairan sisa inilah yang kemudian dituang ke lepek, dicampur dengan sedikit susu kental manis agar lebih pekat dan daya rekatnya kuat, lalu didiamkan sejenak hingga teksturnya menyerupai pasta. Adonan inilah yang disebut cethe.

Kanvas Putih Sebatang Rokok

Batang rokok kretek yang berwarna putih polos berfungsi layaknya kanvas bagi para seniman warkop. Alat lukisnya pun sangat sederhana, biasanya menggunakan tusuk gigi, batang korek api, sendok kecil, atau bahkan silet. Dengan ketelatenan tinggi, tangan-tangan terampil ini mulai membatik rokok mereka.

Motif yang digambar sangat beragam, mulai dari pola batik parang, sulur tanaman, naga, burung, hingga kaligrafi tulisan. Tingkat kerumitannya bisa sangat mencengangkan. Satu batang rokok bisa memakan waktu 15 hingga 30 menit pengerjaan. Bagi pelakunya, proses melukis ini memberikan ketenangan pikiran dan kepuasan batin tersendiri, terlepas dari fakta bahwa karya seni tersebut nantinya akan hangus terbakar menjadi abu.

Sensasi Aroma dan Ketahanan

Selain alasan estetika, tradisi nyethe dipercaya memberikan sensasi rasa yang berbeda. Rokok yang telah diolesi cethe dan dibiarkan mengering konon memiliki aroma yang lebih wangi dan gurih.

Ketika rokok dibakar, aroma tembakau akan bercampur dengan aroma kopi yang terpanggang, menciptakan wangi khas yang disukai para penikmatnya. Selain itu, lapisan kopi yang mengering membuat kertas rokok menjadi lebih tebal dan keras. Hal ini menyebabkan rokok terbakar lebih lambat alias lebih awet. Sebatang rokok cethe bisa dinikmati jauh lebih lama dibandingkan rokok biasa, sangat cocok untuk menemani obrolan panjang di warung kopi.

Ajang Kompetisi dan Silaturahmi

Di Tulungagung, nyethe bukan lagi sekadar iseng. Aktivitas ini sering dilombakan dalam berbagai acara festival budaya atau peringatan hari besar. Kriteria penilaiannya meliputi kehalusan goresan, kerumitan motif, dan kebersihan hasil akhir.

Tradisi ini menjadi perekat sosial yang kuat. Di warung kopi, tidak ada sekat status sosial. Petani, mahasiswa, hingga pegawai kantoran duduk di bangku kayu yang sama, saling meminjam korek api, dan memamerkan hasil lukisan cethe mereka. Ini adalah bukti bahwa bahagia itu sederhana: secangkir kopi, sebatang rokok, dan teman ngobrol yang asyik.

Logo Radio
🔴 Radio Live