Ceritra
Ceritra Warga

Sejarah Barongsai Sang Singa Pengusir Petaka Imlek

Nisrina - Sunday, 15 February 2026 | 10:15 AM

Background
Sejarah Barongsai Sang Singa Pengusir Petaka Imlek
Barongsai (Reuters/)

Perayaan Tahun Baru Imlek tidak akan pernah terasa lengkap tanpa kehadiran atraksi yang satu ini. Suara tabuhan tambur yang menggelegar dentingan simbal yang nyaring serta tarian lincah dari sosok singa berwarna warni selalu berhasil menyedot perhatian masyarakat dari berbagai kalangan. Atraksi kesenian tradisional ini kita kenal dengan nama Barongsai.

Bagi masyarakat umum Barongsai mungkin hanya dipandang sebagai pertunjukan akrobatik yang menghibur atau sekadar tontonan gratis di pusat perbelanjaan saat musim liburan tiba. Namun bagi masyarakat Tionghoa tarian singa ini memiliki kedudukan spiritual dan historis yang sangat sakral. Barongsai bukan sekadar tarian kesenian melainkan sebuah ritual pembersihan energi penolak bala dan simbol pembawa keberuntungan untuk menyongsong tahun yang baru.

Menelusuri jejak sejarah Barongsai sama halnya dengan membaca lembaran sejarah panjang peradaban Tiongkok kuno penyebaran jalur sutra hingga akulturasi budaya di Nusantara.

Legenda Monster Nian dan Lahirnya Sang Singa

Seperti halnya banyak tradisi Tiongkok lainnya sejarah Barongsai tidak bisa dilepaskan dari mitologi dan legenda rakyat yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kisah paling populer yang menjadi cikal bakal tarian ini adalah legenda tentang sebuah monster mengerikan bernama Nian.

Dikisahkan pada zaman dahulu kala hiduplah seekor monster buas yang bermukim di dasar laut atau di puncak pegunungan yang sunyi. Setiap malam pergantian tahun baru musim semi monster Nian ini akan turun ke perkampungan penduduk. Monster ini sangat rakus dan ganas ia memakan hasil panen memangsa hewan ternak dan bahkan tidak segan segan menculik anak anak kecil di desa tersebut.

Penduduk desa hidup dalam ketakutan yang luar biasa setiap kali akhir tahun tiba. Suatu ketika penduduk desa menyadari bahwa Nian ternyata memiliki kelemahan yang sangat fatal. Monster buas tersebut sangat ketakutan melihat warna merah terang membenci cahaya api dan akan lari terbirit birit jika mendengar suara suara yang sangat keras dan bising.

Untuk mengusir monster tersebut penduduk desa akhirnya menciptakan sebuah replika kostum hewan yang menyerupai singa raksasa. Mereka mewarnai kostum tersebut dengan warna merah menyala dan emas. Dua orang warga masuk ke dalam kostum tersebut dan menari dengan gerakan yang agresif dan melompat lompat. Sementara itu warga desa lainnya memukul panci beduk dan membakar petasan bambu untuk menciptakan suara yang memekakkan telinga.

Strategi ini berhasil dengan gemilang. Monster Nian lari ketakutan kembali ke tempat asalnya dan tidak pernah lagi mengganggu perkampungan tersebut. Sejak saat itulah ritual menarikan kostum singa diiringi tabuhan musik yang keras menjadi tradisi wajib setiap perayaan Imlek untuk mengusir roh roh jahat dan membuang segala kesialan dari tahun yang lama.

Jejak Historis Barongsai Sejak Era Dinasti Han

Meninggalkan ranah mitologi catatan sejarah Tiongkok memberikan fakta yang sangat menarik mengenai asal usul Barongsai. Tahukah Anda bahwa hewan singa sebenarnya bukanlah hewan endemik atau hewan asli yang hidup di daratan Tiongkok.

Para sejarawan mencatat bahwa hewan singa pertama kali diperkenalkan ke dataran Tiongkok pada masa Dinasti Han. Singa singa ini dibawa sebagai hadiah upeti dari para pedagang dan utusan diplomatik dari Persia dan India yang melewati Jalur Sutra. Karena singa adalah hewan yang eksotis langka dan terlihat sangat gagah masyarakat Tiongkok kuno mulai menganggap singa sebagai hewan suci penjaga kebenaran dan pelindung dari roh roh jahat.

Tarian singa sendiri mulai dikembangkan dan populer sebagai seni pertunjukan istana pada masa Dinasti Tang. Pada masa itu tarian ini disebut sebagai Tarian Lima Haluan dan sering dipertunjukkan untuk menghibur keluarga kekaisaran serta menyambut tamu tamu penting dari negara bagian. Seiring berjalannya waktu kesenian istana ini menyebar ke kalangan rakyat jelata dan mulai diasimilasikan dengan seni bela diri tradisional Wushu menciptakan bentuk dasar Barongsai yang kita kenal saat ini.

Perbedaan Mencolok Gaya Barongsai Utara dan Selatan

Dalam perkembangannya tarian Barongsai terbagi menjadi dua aliran utama yang memiliki karakteristik kostum dan gerakan yang sangat berbeda. Kedua aliran ini dikenal dengan sebutan Singa Utara dan Singa Selatan.

Gaya Singa Utara (Pei Shi) Barongsai gaya Utara berkembang di wilayah utara Tiongkok seperti daerah Sungai Yangtze. Kostum Singa Utara memiliki bulu yang sangat tebal lebat dan panjang menyerupai anjing peking yang lucu. Gerakannya sangat berfokus pada kelincahan akrobatik senam dan unsur hiburan. Singa Utara sering ditampilkan berpasangan dan menonjolkan gerakan gerakan jenaka seperti singa yang sedang bermain bola berguling guling atau saling bercanda satu sama lain. Warna kostumnya biasanya didominasi oleh perpaduan warna merah dan kuning atau emas.

Gaya Singa Selatan (Nan Shi) Barongsai gaya Selatan inilah yang paling sering kita jumpai di Indonesia dan negara negara Asia Tenggara lainnya. Aliran ini berasal dari provinsi Guangdong. Berbeda dengan Singa Utara kostum Singa Selatan memiliki kepala yang lebih besar terbuat dari rangka bambu dan kertas dengan mata besar yang bisa berkedip kedip serta sebuah tanduk tunggal di kepalanya.

Gerakan Singa Selatan sangat kental dengan elemen ilmu bela diri atau kungfu. Kuda kuda para pemainnya harus sangat kuat dan solid. Gerakannya melambangkan keberanian kekuatan dan semangat pantang menyerah. Singa Selatan sangat sering melakukan atraksi melompat di atas tonggak tonggak besi yang tinggi atau yang dikenal dengan atraksi Meihua yang membutuhkan keseimbangan dan kepercayaan mutlak antara pemain kepala dan pemain ekor.

Anatomi Kostum dan Makna Pemilihan Warna

Setiap detail pada kostum Barongsai gaya Selatan memiliki makna filosofis yang diadaptasi dari kisah sejarah Tiga Kerajaan atau Romance of the Three Kingdoms. Warna warna pada wajah Barongsai mewakili karakter jenderal jenderal legendaris pada masa itu.

Barongsai dengan wajah berwarna kuning atau emas melambangkan Liu Bei seorang pemimpin yang bijaksana penuh kasih sayang dan berwibawa. Barongsai kuning biasanya ditarikan dengan gerakan yang lebih tenang dan anggun.

Barongsai dengan wajah berwarna merah melambangkan Guan Yu sosok jenderal yang terkenal dengan keberaniannya kesetiaannya dan kejujurannya. Barongsai merah selalu identik dengan pembawa keberuntungan kemakmuran dan keberanian dalam menghadapi tahun yang baru.

Sementara itu Barongsai dengan wajah berwarna hitam atau hijau gelap melambangkan Zhang Fei seorang jenderal muda yang sangat agresif meledak ledak dan garang. Barongsai hitam biasanya digunakan oleh perguruan bela diri untuk menunjukkan kekuatan kelincahan dan sering kali dipertunjukkan oleh pemain yang paling berpengalaman karena gerakannya yang sangat dinamis.

Selain warna ada sebuah cermin kecil yang biasanya ditempelkan di dahi kepala Barongsai. Cermin ini dipercaya berfungsi untuk memantulkan energi negatif dan menakuti roh jahat yang mencoba mendekat karena roh jahat dipercaya akan lari jika melihat pantulan wajah mereka sendiri yang menakutkan di cermin tersebut.

Jantung Tarian Berada pada Harmoni Alat Musik

Pemain Barongsai yang melompat di udara tidak akan terlihat hidup tanpa adanya alunan musik yang mengiringinya. Musik adalah detak jantung dari sang singa. Ada tiga alat musik utama yang wajib ada dalam setiap pertunjukan Barongsai yaitu tambur atau beduk besar simbal dan canang atau gong kecil.

Pemain tambur adalah sosok konduktor atau pemimpin dari seluruh pertunjukan. Ketukan tambur menentukan suasana hati sang singa. Tabuhan yang pelan melambangkan singa yang sedang tidur atau ragu ragu sementara tabuhan yang cepat dan keras melambangkan singa yang sedang marah bertarung atau bergembira.

Suara simbal dan gong yang nyaring bertugas mengikuti irama tambur dan berfungsi untuk menciptakan kebisingan magis yang dipercaya mampu mengusir energi buruk dari tempat tersebut. Keselarasan antara gerakan pemain di dalam kostum dan ketukan instrumen dari para pemusik membutuhkan latihan bertahun tahun untuk bisa mencapai kesempurnaan.

Tradisi Cai Qing Ritual Memetik Sayuran dan Rezeki

Puncak dari setiap atraksi Barongsai saat perayaan Imlek adalah prosesi yang disebut Cai Qing yang secara harfiah berarti memetik sayuran hijau. Dalam tradisi ini pemilik toko atau tuan rumah akan menggantungkan sebuah amplop merah atau angpao beserta seikat sayuran selada air di langit langit rumah atau di atas pintu masuk.

Sayuran selada dalam bahasa Mandarin pelafalannya sangat mirip dengan kata "menjadi kaya" atau "menghasilkan uang". Tugas sang Barongsai adalah menari mendekati sayuran tersebut menunjukkan rasa penasaran dan akhirnya melompat tinggi untuk "memakan" sayuran dan angpao tersebut.

Setelah sayuran dikunyah di dalam mulut singa Barongsai akan memuntahkan kembali atau menyebarkan sobekan daun selada tersebut ke arah penonton atau ke arah pemilik rumah. Sebarkan daun selada ini adalah simbolisasi dari singa yang sedang menyebarkan rezeki membagikan kelimpahan panen dan mendoakan agar bisnis sang pemilik rumah akan tumbuh subur dan makmur di tahun yang baru.

Perjalanan Panjang Kesenian Barongsai di Nusantara

Di Indonesia kesenian Barongsai memiliki sejarah yang sangat panjang dan sempat mengalami masa masa yang kelam. Konon kesenian ini mulai masuk ke Nusantara seiring dengan kedatangan para imigran dari Tiongkok ratusan tahun silam. Mereka membawa budaya ini untuk mempertahankan identitas leluhur mereka di tanah rantau.

Namun pada era Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto melalui Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 seluruh bentuk ekspresi kebudayaan Tionghoa di ranah publik termasuk pertunjukan Barongsai dilarang keras secara hukum. Selama lebih dari tiga dekade kesenian ini mati suri dan hanya boleh dimainkan secara sembunyi sembunyi di dalam lingkungan kelenteng yang tertutup.

Angin segar kemerdekaan berekspresi baru kembali berhembus pada era Reformasi. Melalui kebijakan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur larangan tersebut secara resmi dicabut. Sejak saat itu Barongsai kembali bangkit mengaum dengan lantang di jalanan Indonesia.

Saat ini Barongsai di Indonesia tidak lagi hanya dipandang sebagai kesenian eksklusif milik etnis Tionghoa melainkan telah bertransformasi menjadi olahraga prestasi yang diakui secara nasional. Pemain Barongsai kini berasal dari berbagai macam latar belakang suku dan agama menunjukkan betapa indahnya keberagaman budaya yang hidup berdampingan di Nusantara. Federasi Olahraga Barongsai Indonesia bahkan telah membawa nama harum bangsa dengan memenangkan berbagai kejuaraan tingkat internasional.

Memahami sejarah dan filosofi Barongsai memberikan kita perspektif yang jauh lebih luas tentang perayaan Imlek. Saat Anda melihat atraksi Barongsai beraksi di perayaan tahun baru nanti Anda tidak lagi hanya melihat akrobatik biasa. Anda sedang menyaksikan sebuah pelestarian peradaban kuno yang bergerak sebuah doa keselamatan yang ditarikan dan sebuah simbol kemenangan keberanian umat manusia dalam mengusir kegelapan untuk menyambut secercah harapan di masa depan.

Logo Radio
🔴 Radio Live