Satu Istri, Empat Suami: Manuver Politik "Gila" atau Satire Kesetaraan Gender di Thailand?
Nisrina - Wednesday, 14 January 2026 | 08:15 AM


Panggung politik Thailand kembali diguncang oleh gelombang kontroversi yang tak lazim. Di tengah panasnya persaingan menuju kursi Perdana Menteri dalam pemilihan umum tahun ini, seorang kandidat melontarkan usulan kebijakan yang membuat dahi berkerut: melegalkan poliandri, atau memperbolehkan seorang wanita memiliki hingga empat orang suami secara sah.
Usulan ini datang dari Mongkolkit Suksintharanont, figur politik yang dikenal eksentrik dan kerap melontarkan ide-ide di luar nalar. Sebagai kandidat Perdana Menteri dari partai kecil yang sering disebut sebagai Thai Alternative Party (atau dalam beberapa konteks dikenal sebagai Thai Civilized Party), Mongkolkit seolah tahu betul cara mencuri panggung di tengah dominasi partai-partai raksasa seperti Pheu Thai atau People’s Party. Namun, di balik sensasi "satu istri empat suami" ini, tersimpan lapisan dinamika sosial-politik Thailand yang menarik untuk dibedah lebih dalam.
Dalam narasi kampanyenya, Mongkolkit membungkus usulan poliandri ini dengan kemasan "kesetaraan gender". Argumen dasarnya sederhana namun provokatif: jika dalam sejarah dan budaya tidak tertulis Thailand laki-laki sering kali memiliki privilese untuk memiliki banyak pasangan (dikenal dengan istilah Mia Noi atau istri simpanan), mengapa perempuan tidak boleh memiliki hak yang sama?
Ia mengusulkan bahwa seorang wanita seharusnya diizinkan memiliki maksimal empat suami, asalkan semua pihak yang terlibat memberikan persetujuan (konsensual). Bagi Mongkolkit, ini adalah bentuk keadilan radikal untuk menyeimbangkan neraca kekuasaan dalam rumah tangga yang selama ini dianggap patriarkis. Tentu saja, usulan ini langsung memicu perdebatan sengit. Kelompok konservatif menudingnya merusak nilai-nilai keluarga tradisional Thailand yang berbasis agama Buddha, sementara para aktivis gender pun terbelah; ada yang melihatnya sebagai satire jenius terhadap budaya poligami terselubung kaum elite pria, namun banyak juga yang menganggapnya sebagai lelucon yang merendahkan sakralitas perjuangan hak perempuan.
Siapa Sebenarnya Mongkolkit Suksintharanont?
Untuk memahami mengapa usulan "gila" ini bisa muncul, kita perlu mengenal sosok pembawanya. Mongkolkit bukanlah pemain baru dalam industri kontroversi politik Thailand. Sebelumnya, ia pernah menjadi sorotan karena serangkaian ide yang dianggap tidak masuk akal oleh pengamat politik, mulai dari usulan pembentukan "Angkatan Luar Angkasa" (Space Force) ala Thailand hingga wacana kepemilikan senjata nuklir untuk pertahanan negara.
Karier politiknya dibangun di atas fondasi populisme ekstrem dan pernyataan yang memancing atensi media (media stunt). Bagi partai gurem atau partai kecil di Thailand, mendapatkan airtime atau sorotan media adalah tantangan terbesar. Diapit oleh raksasa politik yang memiliki mesin kampanye masif, politisi seperti Mongkolkit sering kali menggunakan taktik shock therapy, yakni melontarkan ide seliar mungkin agar viral di media sosial, terlepas dari apakah ide tersebut realistis atau tidak. Dalam konteks ini, usulan poliandri bisa dilihat sebagai strategi marketing politik putus asa untuk tetap relevan dalam percakapan publik.
Cermin Budaya dan Realitas Demografi
Terlepas dari absurditasnya, usulan ini secara tidak sengaja menyentuh isu sensitif mengenai demografi dan struktur sosial Thailand modern. Thailand saat ini sedang menghadapi krisis demografi serius dengan angka kelahiran yang terus menurun dan populasi yang menua dengan cepat (aging society). Beberapa pengamat menilai bahwa narasi-narasi radikal seputar pernikahan dan keluarga, sekalipun seliar usulan Mongkolkit, sebenarnya mencerminkan kecemasan kolektif bangsa tersebut terhadap masa depan institusi keluarga.
Selain itu, usulan ini juga menelanjangi standar ganda dalam masyarakat Thailand. Meskipun hukum resmi menganut monogami, praktik memiliki simpanan atau "rumah kedua" bagi pria kaya dan berkuasa adalah rahasia umum yang sering kali dimaklumi. Dengan membalikkan narasi tersebut kepada perempuan, Mongkolkit secara efektif (meski mungkin tidak sengaja) memaksa masyarakat untuk berkaca: mengapa poligami terselubung pria bisa diterima, sementara ide poliandri wanita terdengar begitu menjijikkan?
Masa Depan Usulan: Kebijakan Nyata atau Sekadar Angin Lalu?
Hampir bisa dipastikan, usulan "satu istri empat suami" ini tidak akan pernah lolos menjadi undang-undang. Sistem hukum dan norma sosial Thailand masih terlalu kaku untuk menerima perubahan radikal semacam itu. Namun, sebagai sebuah fenomena politik, langkah Mongkolkit telah berhasil mencapai tujuannya: membuat semua orang membicarakannya.
Bagi para pemilih di Thailand, ini menjadi tontonan hiburan di tengah ketegangan pemilu, sekaligus pengingat bahwa dalam demokrasi yang terbuka, ide seliar apa pun bisa masuk ke ruang publik. Pertanyaannya kini bukan apakah kebijakan itu akan terwujud, melainkan seberapa jauh para politisi rela menggadaikan logika demi selembar kertas suara. Di tangan Mongkolkit, politik Thailand sekali lagi membuktikan diri sebagai panggung teater yang penuh kejutan tak terduga.
Next News

Selamat Tinggal Konten Toxic! Fitur Reset Instagram Ini Jadi Penyelamat Mental Health Kamu
in 5 hours

Donald Trump Mau Beli Greenland, NATO Diancam Bubar: Emangnya Ini Jual Beli Tanah Kavling di Citayam?
in 6 hours

Awas Tertipu! Video dari Google Veo 3.1 Saking Realistisnya Sampai Butuh Tanda Khusus
in 4 hours

Era Baru TikTok Shop 2026, Awas Kerkun 'Shadowban Duit'!
13 hours ago

Bangkit dari Sorotan Miring, Go Min Si Siap Mengguncang Bioskop Lewat Film 'Moral Family'
14 hours ago

Makna Strategis Bergabungnya Sri Mulyani ke Gates Foundation
15 hours ago

Kampung Rasa Paris di Pulau Dewata: Fenomena Keluarga Bali yang Fasih Berbahasa Prancis dalam Keseharian
15 hours ago

Kolaborasi Raksasa Abad Ini: LEGO dan Pokémon Akhirnya Bersatu dalam Satu Semesta Balok
16 hours ago

Panduan Lengkap Harga dan Cara Membeli Membership BTS ARMY
a day ago

Orang Tua Wajib Tahu! Anak Pendiam dan Penurut Justru Sasaran Empuk Predator
17 hours ago






