Ceritra
Ceritra Update

Kampung Rasa Paris di Pulau Dewata: Fenomena Keluarga Bali yang Fasih Berbahasa Prancis dalam Keseharian

Nisrina - Wednesday, 14 January 2026 | 02:45 PM

Background
Kampung Rasa Paris di Pulau Dewata: Fenomena Keluarga Bali yang Fasih Berbahasa Prancis dalam Keseharian
(Instagram/@aniquepurba)

Bali tidak pernah kehabisan cerita unik yang memukau dunia maya. Pulau yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata terpopuler di dunia ini kembali menjadi sorotan, namun kali ini bukan karena pantai yang indah atau upacara adat yang megah. Sorotan tertuju pada sebuah fenomena sosiolinguistik yang menarik dari sebuah keluarga asli Bali. Mereka mendadak menjadi perbincangan hangat di internet karena kemampuan mereka berkomunikasi menggunakan bahasa Prancis dengan tingkat kefasihan yang luar biasa, bahkan digunakan sebagai bahasa pengantar dalam aktivitas sehari-hari di rumah.

Kisah ini bermula dari unggahan video oleh akun media sosial @aniquepurba yang kemudian menjadi viral. Dalam video tersebut, terekam interaksi natural antaranggota keluarga yang terdiri dari kakek, orang tua, hingga anak-anak kecil. Yang membuat warganet terheran-heran adalah bahasa yang mereka gunakan bukanlah bahasa Bali halus, bahasa Indonesia, ataupun bahasa Inggris yang umum dikuasai warga lokal di daerah wisata. Mereka bercakap-cakap dalam bahasa Prancis dengan aksen dan intonasi yang sangat luwes. Fenomena ini mematahkan stereotip bahwa kemampuan bahasa asing tingkat tinggi hanya dimiliki oleh kaum ekspatriat atau mereka yang mengenyam pendidikan formal di luar negeri.

Bukan Sekadar Hafalan, Tapi Gaya Hidup

Analisis terhadap video tersebut menunjukkan bahwa kemampuan bahasa Prancis keluarga ini jauh melampaui level dasar atau sekadar hafalan salam sapaan seperti bonjour atau merci. Kosakata yang mereka gunakan sangat luas dan kontekstual. Mereka mampu membicarakan topik seputar makanan, kebiasaan budaya, hingga aktivitas remeh-temeh harian dengan struktur kalimat yang kompleks. Hal ini mengindikasikan bahwa mereka tidak sekadar mempelajari bahasa tersebut, melainkan "menghidupi" bahasa itu. Bahasa Prancis telah terinternalisasi menjadi bagian dari identitas komunikasi keluarga mereka.

Kefasihan ini membuat banyak orang yang berpapasan dengan mereka sering kali salah sangka. Tidak jarang mereka dikira sebagai turis asing atau keluarga campuran, padahal secara fisik dan gaya hidup, mereka adalah warga lokal Bali tulen. Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya dampak lingkungan dan pembiasaan dalam penguasaan bahasa asing. Bali sebagai melting pot budaya dunia memungkinkan terjadinya pertukaran bahasa yang intens. Kemungkinan besar, generasi tertua di keluarga ini memiliki sejarah interaksi yang panjang dengan komunitas penutur bahasa Prancis, mungkin melalui pekerjaan di sektor pariwisata atau persahabatan, yang kemudian diturunkan secara konsisten kepada anak dan cucu.

Pentingnya Metode Imersi dalam Pemerolehan Bahasa

Dari kacamata edukasi dan linguistik, apa yang dilakukan keluarga ini adalah penerapan sempurna dari metode imersi atau pencelupan bahasa. Anak-anak dalam keluarga tersebut tidak belajar bahasa Prancis melalui buku teks yang kaku di dalam kelas, melainkan melalui penggunaan langsung dalam konteks nyata. Mereka mendengar kakek dan orang tua mereka berbicara, lalu menirunya. Proses ini mirip dengan bagaimana seorang bayi belajar bahasa ibunya. Hasilnya adalah kemampuan bicara yang jauh lebih natural dan refleksif dibandingkan mereka yang belajar secara akademis.

Kasus ini juga menyoroti keunikan demografi Bali. Tuntutan ekonomi di sektor pariwisata sering kali memaksa warga lokal untuk menjadi poliglot atau penutur banyak bahasa. Namun, jarang sekali ada keluarga yang membawa bahasa profesional tersebut masuk hingga ke ruang privat rumah tangga dan menjadikannya bahasa kedua yang setara dengan bahasa ibu. Keluarga ini membuktikan bahwa batas antara bahasa lokal dan global semakin kabur. Mereka tetap memegang teguh identitas sebagai orang Bali, namun dengan kompetensi global yang membuat mereka mampu menjembatani dua budaya berbeda dengan sangat elegan.

Inspirasi bagi Keluarga Indonesia

Viralnya keluarga ini memberikan inspirasi positif bagi masyarakat luas. Mereka membuktikan bahwa pendidikan bahasa asing yang terbaik tidak selalu harus mahal atau dilakukan di institusi formal. Konsistensi, keberanian untuk praktik, dan lingkungan yang mendukung adalah kunci utamanya. Di tengah gempuran bahasa Inggris sebagai bahasa internasional utama, pilihan keluarga ini untuk melestarikan dan menggunakan bahasa Prancis juga memberikan warna tersendiri akan keberagaman kemampuan sumber daya manusia di Indonesia.

Pada akhirnya, keluarga Bali yang "rasa Paris" ini mengajarkan kita bahwa bahasa adalah alat komunikasi yang tidak mengenal batas geografis. Siapa pun bisa menguasainya asalkan ada kemauan dan pembiasaan. Mereka tidak perlu pindah kewarganegaraan atau mengubah gaya hidup menjadi kebarat-baratan untuk bisa fasih. Mereka tetap makan nasi, tetap tinggal di rumah bergaya lokal, namun saat mulut terbuka, dunia Eropa hadir di tengah-tengah mereka. Ini adalah potret modernitas Indonesia yang adaptif, cerdas, dan penuh kejutan.

Logo Radio
🔴 Radio Live