Ceritra
Ceritra Update

Orang Tua Wajib Tahu! Anak Pendiam dan Penurut Justru Sasaran Empuk Predator

Nisrina - Wednesday, 14 January 2026 | 12:45 PM

Background
Orang Tua Wajib Tahu! Anak Pendiam dan Penurut Justru Sasaran Empuk Predator
Mengenal child grooming (Unsplash/Carolina)

Kasus child grooming atau manipulasi seksual terhadap anak bukanlah fenomena baru, tetapi polanya yang semakin canggih menuntut kewaspadaan ekstra dari seluruh lapisan masyarakat. Yuan Yovita Setiawan, seorang dosen dan psikolog dari Universitas Surabaya (Ubaya), memberikan wawasan mendalam mengenai bagaimana pelaku kejahatan ini bekerja. Menurut Yuan, seperti yang diungkapkan dalam diskusinya dengan Kompas.com, pelaku grooming tidak memilih target secara acak. Mereka adalah pengamat yang teliti, yang secara spesifik mengincar anak-anak atau remaja dengan kerentanan psikologis tertentu.

Anak-anak yang penurut, kesepian, memiliki masalah perilaku, atau yang kurang mendapatkan perhatian dan pengawasan dari orang tua adalah sasaran empuk. Pelaku melihat kekosongan emosional ini sebagai celah untuk masuk. Tahap awal dari proses grooming ini sangat menipu. Alih-alih menunjukkan perilaku agresif atau mencurigakan, pelaku justru hadir sebagai sosok malaikat pelindung. Mereka menawarkan telinga untuk mendengar, bahu untuk bersandar, dan validasi yang mungkin tidak didapatkan si anak di rumah atau sekolah. Pelan tapi pasti, pelaku mengisolasi korban dari lingkungan sosialnya, baik itu teman maupun keluarga, sehingga si anak merasa bahwa hanya pelaku-lah satu-satunya orang di dunia ini yang benar-benar mengerti dirinya.

Ketika kepercayaan dan ketergantungan emosional sudah terbentuk kuat, barulah pelaku melancarkan tahap berikutnya: normalisasi kekerasan seksual. Ini adalah fase yang paling berbahaya karena persepsi korban diubah sedemikian rupa. Paparan konten seksual atau kontak fisik yang tidak pantas dibingkai ulang oleh pelaku sebagai bentuk "kasih sayang" atau bagian wajar dari sebuah hubungan yang spesial. Korban yang sudah terlanjur percaya dan bergantung sering kali tidak menyadari bahwa batasan-batasan dirinya sedang dilanggar. Mereka dibuat bingung antara rasa tidak nyaman dan rasa takut kehilangan satu-satunya "teman" yang mereka miliki.

Tahap akhir dari siklus jahat ini adalah pembungkaman. Setelah kekerasan seksual terjadi, pelaku menggunakan berbagai taktik untuk memastikan korban tetap diam. Mulai dari memberikan hadiah sebagai kompensasi, menanamkan rasa bersalah dengan mengatakan bahwa korban "menikmatinya", hingga menebar ancaman akan menyebarkan aib atau menyakiti orang-orang yang disayangi korban. Yuan menekankan bahwa pada titik ini, korban mengalami kelumpuhan psikologis. Mereka meragukan penilaian mereka sendiri, merasa kotor, dan tidak berdaya untuk melawan atau melapor.

Pemahaman akan pola manipulasi ini sangat krusial bagi upaya pencegahan. Child grooming adalah kejahatan yang memanfaatkan ketimpangan relasi kuasa antara orang dewasa yang matang dan anak yang sedang berkembang. Oleh karena itu, pencegahan tidak bisa hanya dibebankan pada anak untuk "berhati-hati". Lingkungan sekitar, terutama orang tua dan guru, harus peka terhadap perubahan perilaku anak dan membangun komunikasi yang terbuka. Menciptakan ruang aman di mana anak merasa didengar dan dihargai adalah benteng pertahanan pertama dan terkuat untuk melindungi mereka dari jeratan predator yang bersembunyi di balik topeng kebaikan.

Logo Radio
🔴 Radio Live