Satgas Anti Premanisme Jawaban Tegas Atas Keresahan Warga Surabaya
Nisrina - Monday, 05 January 2026 | 01:45 PM


Kabar melegakan akhirnya berhembus di Kota Pahlawan pada hari ini. Setelah rentetan keluhan masyarakat membanjiri media sosial terkait maraknya aksi premanisme dan pungutan liar yang meresahkan, Pemerintah Kota Surabaya akhirnya mengambil langkah konkret. Wali Kota Surabaya secara resmi menyiagakan Satuan Tugas atau Satgas Anti-Premanisme yang siap disebar ke berbagai titik rawan di penjuru kota. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak menutup mata terhadap keresahan warganya dan siap hadir untuk mengembalikan rasa aman yang sempat terusik.
Pembentukan satgas ini seolah menjadi oase di tengah gurun kecemasan warga. Kita tahu bahwa belakangan ini isu premanisme, mulai dari juru parkir liar yang mematok tarif seenaknya, intimidasi ormas, hingga pemalakan terhadap pedagang kecil, telah menjadi momok yang menakutkan. Ruang publik yang seharusnya menjadi milik bersama, perlahan dikuasai oleh segelintir oknum yang merasa memiliki hukum sendiri. Kehadiran satgas ini diharapkan mampu memberangus praktik-praktik "negara dalam negara" tersebut dan memastikan bahwa hukum positiflah yang berkuasa di jalanan Surabaya.
Tugas berat tentu sudah menanti di pundak para personel satgas ini. Mereka tidak hanya dituntut untuk melakukan penindakan represif saat kejadian berlangsung, tetapi juga melakukan upaya preventif. Kehadiran fisik petugas berseragam di lokasi-lokasi strategis seperti pasar, pusat keramaian, dan kawasan wisata diharapkan mampu memberikan efek gentar atau deterrent effect bagi para pelaku kekacauan. Masyarakat ingin melihat bahwa negara benar-benar hadir melindungi mereka, bukan hanya saat ada kasus viral, tetapi dalam setiap denyut aktivitas kota sehari-hari.
Namun tantangan terbesar dari inisiatif ini bukanlah pada saat peluncurannya, melainkan pada konsistensinya. Publik tentu berharap bahwa operasi ini bukanlah kegiatan "hangat-hangat tahi ayam" yang hanya gencar di minggu pertama lalu memble di bulan berikutnya. Premanisme adalah penyakit kronis yang sering kali tiarap saat ada operasi, namun kembali menjamur begitu pengawasan melonggar. Pola "kucing-kucingan" inilah yang harus diantisipasi dengan patroli rutin yang tak kenal musim dan penegakan hukum yang tidak pandang bulu.
Peran serta masyarakat juga menjadi kunci vital keberhasilan satgas ini. Warga Surabaya tidak boleh lagi takut untuk melapor jika melihat atau mengalami tindakan premanisme. Saluran pengaduan seperti Command Center 112 harus benar-benar responsif dalam menindaklanjuti setiap laporan yang masuk. Kolaborasi antara ketegasan aparat dan keberanian warga untuk bersuara adalah ramuan paling ampuh untuk mematikan ruang gerak premanisme. Jangan beri celah sedikit pun bagi rasa takut untuk menguasai kota kita.
Pada akhirnya, peluncuran Satgas Anti-Premanisme hari ini adalah sebuah janji. Janji pemerintah kepada rakyatnya bahwa Surabaya adalah rumah yang ramah dan aman bagi siapa saja yang ingin mencari nafkah dengan jujur. Kita semua menaruh harapan besar agar langkah ini menjadi titik balik bagi wajah ketertiban kota. Semoga tidak ada lagi cerita warga yang waswas saat memarkir kendaraan atau pedagang yang gemetar saat didatangi orang tak dikenal. Mari kita kawal bersama agar Surabaya benar-benar bersih dari aksi premanisme yang tidak beradab.
Next News

Antara Drama dan Keringat: Menelusuri Jejak WWE Sebagai "Reality Show" Terbesar di Dunia
in 5 hours

Sejarah Lengkap Es Krim: Dari Ramuan Kaisar China hingga Legenda Es Puter Indonesia
in an hour

Penjara Emas di Balik Layar: Kenapa Jadi Terkenal Itu Nggak Selamanya Indah Seperti di Sosial Media
19 hours ago

Mengupas Rahasia di Balik Pentingnya Struktur Panitia dalam Acara
19 hours ago

Kenapa Setan Kita Beda? Sebuah Studi Sosiologi Hantu Indonesia
20 hours ago

Main character syndrome: semua orang pengen jadi pusat cerita
2 days ago

Digital fatigue: capek hidup yang semuanya harus online
2 days ago

Quiet quitting di kehidupan sosial: makin selektif atau makin menjauh?
2 days ago

Hustle culture burnout: capek ngejar sukses yang nggak ada garis finish-nya
2 days ago

Lazarus Effect: Ketika Kehidupan "Kembali" Setelah Kematian Klinis
21 hours ago



