Sejarah Lengkap Es Krim: Dari Ramuan Kaisar China hingga Legenda Es Puter Indonesia
Nizar - Tuesday, 21 April 2026 | 02:00 PM


Menelusuri Jejak Dingin Si Manis: Sejarah Es Krim yang Ternyata Nggak Sekadar Jilat-Jilat Doang
Bayangkan siang hari di Jakarta atau Surabaya lagi terik-teriknya. Aspal jalanan rasanya hampir meleleh, dan tenggorokan kamu udah kayak padang pasir yang lupa disiram setahun. Di momen kayak gitu, denger suara denting lonceng abang es krim atau ngeliat freezer di minimarket itu rasanya kayak ngeliat oase di tengah gurun. Es krim, si kudapan dingin nan manis ini, emang nggak pernah gagal bikin mood naik. Tapi, pernah nggak sih kamu kepikiran kalau di balik satu cup sundae yang kamu makan itu ada sejarah ribuan tahun yang panjangnya ngalahin antrean konser Coldplay?
Es krim itu bukan barang baru hasil inovasi startup zaman now. Jauh sebelum ada teknologi kulkas atau mesin pendingin portable, nenek moyang kita sudah punya "privilese" buat menikmati sensasi dingin yang lumer di mulut. Tapi ya gitu, perjuangannya nggak seenteng tinggal buka aplikasi ojek online terus bayar pakai e-wallet. Dulu, makan es itu urusan hidup dan mati, atau minimal urusan dompet para sultan.
Dari Salju Pegunungan Sampai Resep Rahasia Kaisar
Kalau kita tarik garis waktu ke belakang, jejak awal es krim ini agak buram tapi seru buat diulik. Banyak sejarawan sepakat kalau cikal bakal es krim itu asalnya dari China, sekitar tahun 200 Sebelum Masehi. Jangan bayangin es krimnya selembut gelato di mall-mall ya. Waktu itu, orang China bikin campuran susu kerbau, tepung, dan sedikit kapur barus yang kemudian didinginkan di dalam salju. Ya, mereka pakai salju asli yang diambil dari gunung. Gokil nggak tuh? Demi makanan manis, mereka rela mendaki gunung lewati lembah kayak Ninja Hattori.
Nggak cuma di China, Kaisar Nero dari Romawi juga punya hobi yang serupa tapi lebih ekstrem. Dia sering nyuruh pelari-pelari tercepatnya buat lari ke puncak gunung cuma buat ngambil salju. Salju itu nantinya dicampur sama madu dan buah-buahan. Bisa dibilang, ini adalah versi purba dari es serut atau sorbet. Bayangin aja, cuma demi sepiring es, orang-orang harus mempertaruhkan nyawa lawan suhu dingin pegunungan. Kalau Nero hidup di zaman sekarang, mungkin dia bakal jadi food vlogger yang hobi review makanan paling mahal sejagat raya.
Marco Polo: Si "Influencer" Zaman Renaisans
Terus gimana ceritanya dari Asia bisa sampai ke Eropa? Nah, di sininya nama Marco Polo muncul. Kabarnya, setelah berkelana lama di China, Marco Polo pulang ke Italia membawa resep-resep rahasia, termasuk teknik pembuatan es yang lebih modern. Dari Italia, tren ini menyebar ke Prancis berkat Catherine de' Medici. Pas dia nikah sama Raja Henry II dari Prancis, dia bawa koki-koki pribadinya yang jago bikin makanan manis nan dingin ini.
Pada masa itu, es krim adalah simbol status sosial tingkat tinggi. Resepnya dijaga ketat kayak rahasia negara. Rakyat jelata? Jangan harap deh bisa nyicipin. Es krim itu makanan elit, eksklusif, dan cuma muncul di pesta-pesta kerajaan. Rasanya mungkin masih terbatas, nggak kayak sekarang yang ada rasa matcha, salted caramel, sampai rasa yang aneh-aneh kayak wasabi atau arang hitam.
Revolusi Industri dan Lahirnya Es Krim "Rakyat"
Titik balik es krim jadi makanan sejuta umat terjadi pas abad ke-19. Ada sosok perempuan keren bernama Nancy Johnson yang pada tahun 1843 mematenkan mesin pembuat es krim manual (hand-cranked churn). Sebelum ada mesin ini, orang kalau mau bikin es krim harus ngaduk pakai tangan berjam-jam sampai pegel. Mesin ciptaan Nancy bikin proses pengadukan jadi lebih konsisten dan tekstur es krimnya jadi lebih lembut alias "creamy".
Setelah itu, teknologi pendingin (refrigeration) ditemukan. Ini adalah game changer yang sesungguhnya. Pabrik es krim mulai bermunculan, dan es krim nggak lagi harus nunggu musim dingin atau salju gunung. Penemuan cone atau kerupuk es krim juga punya cerita unik. Katanya sih, di World's Fair tahun 1904, ada penjual es krim yang kehabisan piring. Terus dia kerja sama sama penjual waffle di sebelahnya buat gulung waffle itu jadi wadah es krim. Dan boom! Lahirlah inovasi paling jenius dalam dunia per-ngemilan.
Jejak Es Krim di Indonesia: Dari Es Puter ke Gelato Kekinian
Di Indonesia sendiri, es krim dibawa oleh orang-orang Belanda. Dulu, cuma orang-orang "Londo" dan bangsawan yang bisa makan es krim di tempat-tempat elit kayak Ragusa di Jakarta atau Zangrandi di Surabaya. Tempat-tempat ini sekarang jadi legendaris dan masih eksis, ngasih kita vibes vintage yang nggak bisa digantiin sama cafe-cafe minimalis zaman sekarang.
Tapi orang Indonesia itu kreatif. Karena bahan-bahan es krim ala Eropa mahal (kayak susu sapi dan krim), munculah kearifan lokal bernama es puter. Susu diganti santan, terus diaduk dalam wadah logam yang dikelilingi es batu dan garam kasar. Rasanya? Nggak kalah juara! Es puter inilah yang jadi jembatan supaya es krim bisa dinikmati siapa aja, mulai dari anak sekolahan sampai kakek-nenek di pinggir jalan.
Kenapa Kita Begitu Terobsesi Sama Es Krim?
Secara sains, makan es krim itu emang memicu otak buat ngelepasin dopamin, hormon yang bikin kita ngerasa bahagia. Makanya nggak heran kalau habis putus cinta atau lagi stres revisi skripsi, lari ke es krim itu rasanya bener banget. Ada sesuatu yang terapeutik pas kita ngerasain suhu dingin itu pelan-pelan meleleh di lidah, membawa rasa manis yang bikin rileks.
Sekarang, es krim udah bertransformasi jadi karya seni. Ada nitrogen ice cream yang berasap-asap kayak di laboratorium, ada gelato dengan bahan organik, sampai es krim vegan buat yang lagi diet. Tapi mau bagaimanapun bentuknya, es krim tetap punya esensi yang sama: sebuah perayaan kecil di tengah rutinitas yang kadang membosankan.
Jadi, kalau nanti kamu lagi megang cone es krim di tangan, coba deh berhenti sejenak sebelum menjilatnya. Inget kalau ribuan tahun lalu, ada orang yang harus lari ke puncak gunung cuma supaya kamu bisa ngerasain sensasi dingin itu sekarang. Es krim bukan cuma soal rasa, tapi soal perjalanan panjang manusia menaklukkan alam demi satu scoop kebahagiaan. Sikat terus es krimnya, sebelum meleleh!
Next News

Penjara Emas di Balik Layar: Kenapa Jadi Terkenal Itu Nggak Selamanya Indah Seperti di Sosial Media
16 hours ago

Mengupas Rahasia di Balik Pentingnya Struktur Panitia dalam Acara
16 hours ago

Kenapa Setan Kita Beda? Sebuah Studi Sosiologi Hantu Indonesia
17 hours ago

Main character syndrome: semua orang pengen jadi pusat cerita
2 days ago

Digital fatigue: capek hidup yang semuanya harus online
2 days ago

Quiet quitting di kehidupan sosial: makin selektif atau makin menjauh?
2 days ago

Hustle culture burnout: capek ngejar sukses yang nggak ada garis finish-nya
2 days ago

Lazarus Effect: Ketika Kehidupan "Kembali" Setelah Kematian Klinis
18 hours ago

Breadcrumbing, tapi versi karier: dikasih harapan kerja tapi nggak jelas arahnya
3 days ago

Astronot di Masa Kecil, Budak Corporate di Masa Depan: Ke Mana Larinya Ambisi Kita?
20 hours ago



