Ceritra
Ceritra Warga

Ringan Seperti Awan, Inilah Keunggulan Mukena Bahan Rayon

Refa - Tuesday, 24 February 2026 | 05:00 PM

Background
Ringan Seperti Awan, Inilah Keunggulan Mukena Bahan Rayon
Ilustrasi mukena (Liputan6.com/)

Dilema Mukena Rayon: Dari Lembut Jadi Cingkrang dan Cara Menyelamatkannya

Siapa sih yang nggak suka pakai mukena bahan rayon? Kalau kita ngomongin soal kenyamanan pas ibadah, mukena rayon itu juaranya. Bahannya adem, jatuh di badan, dan jujurly, rasanya kayak lagi dibungkus awan saking ringannya. Apalagi kalau dipakai pas salat Tarawih di masjid yang penuh sesak atau pas cuaca lagi gerah-gerahnya, mukena rayon adalah penyelamat dari keringat yang bercucuran.

Tapi, ada satu ketakutan kolektif yang menghantui para pemilik mukena bahan ini, yaitu risiko menyusut. Pernah nggak sih, kamu beli mukena yang pas dicoba panjangnya sampai nyapu lantai, tapi setelah sekali cuci tiba-tiba berubah jadi "mukena cingkrang"? Panjangnya naik lima senti, kainnya jadi kaku, dan tekstur lembutnya hilang entah ke mana. Rasanya tuh nyesek banget, kayak kena ghosting gebetan pas lagi sayang-sayangnya.

Sebenarnya, rayon itu serat semi-sintetis yang emang punya sifat agak manja. Dia sensitif banget sama air dan suhu panas. Kalau cara nyucinya sembarangan, seratnya bakal merapat dan bikin ukuran mukena mengecil alias menyusut. Nah, biar koleksi mukena rayon kamu tetap awet, lembut, dan nggak berubah jadi ukuran mini, yuk simak tips ala-ala pakar laundry rumahan berikut ini.

Jangan Pernah Pakai Air Panas, Serius!

Langkah pertama yang paling krusial adalah soal suhu air. Mungkin ada anggapan kalau pakai air hangat itu bisa bikin kuman mati atau noda lebih cepat hilang. Duh, tolong jauhkan pemikiran itu dari mukena rayon kesayanganmu. Air panas adalah musuh nomor satu kain rayon. Suhu tinggi bakal bikin serat kain "kaget" dan mengerut seketika.

Gunakanlah air dingin biasa atau suhu ruang. Air dingin bakal menjaga elastisitas serat rayon tetap pada tempatnya. Ibaratnya, kalau air panas itu bikin stres, air dingin itu bikin rileks. Jadi, biarkan mukena kamu mandi dengan tenang tanpa perlu merasa kepanasan.

Lupakan Mesin Cuci, Kembali ke Manual

Kita semua tahu kalau mesin cuci itu penemuan paling jenius buat kaum mager. Tapi, buat mukena rayon, mesin cuci bisa jadi mesin penghancur. Putaran mesin yang terlalu kuat dan kasar bisa bikin serat rayon pecah atau ketarik-tarik secara paksa. Belum lagi kalau kecampur sama baju lain yang ada ritsleting atau kancingnya, bisa-bisa mukenamu tersangkut dan robek.

Saran terbaik adalah mencuci dengan tangan (hand wash). Nggak perlu dikucek pakai tenaga dalam kayak lagi nggiles jeans bapak-bapak. Cukup rendam mukena dalam air detergen selama 10-15 menit, lalu remas-remas pelan. Fokus aja ke bagian-bagian yang gampang kotor seperti area dahi (bekas sujud) atau bagian bawah mukena yang sering kena lantai.

Pilih Detergen Cair dan Hindari Pemutih

Detergen bubuk kadang punya butiran yang kasar dan sulit larut kalau airnya nggak bener-bener diaduk. Sisa butiran ini bisa nyelip di serat rayon dan bikin kain jadi kasar setelah kering. Makanya, lebih disarankan pakai detergen cair yang lebih lembut.

Satu lagi, jangan sekali-kali pakai pemutih pakaian (bleach) meskipun mukena kamu warna putih polos. Pemutih itu keras banget zat kimianya. Alih-alih jadi bersih, serat rayon malah bakal cepat rapuh dan tipis. Kalau ada noda bandel, coba totol pakai sabun mandi batangan atau detergen khusus noda, diamkan sebentar, baru dikucek lembut. Simpel, kan?

Teknik Memeras: Jangan Dipelintir!

Ini nih kesalahan yang paling sering dilakukan. Biasanya setelah dibilas, kita punya kecenderungan buat melintir baju sekuat tenaga supaya airnya cepat keluar. Stop! Jangan lakukan itu ke mukena rayon. Memelintir kain rayon saat basah sama saja dengan memaksa seratnya berubah bentuk secara permanen.

Cara yang benar adalah dengan menekan-nekan mukena secara perlahan atau menggulungnya di dalam handuk kering supaya airnya terserap. Intinya, perlakukan mukena rayon kamu seperti barang pecah belah. Lembut-lembut saja, yang penting airnya berkurang.

Menjemur di Tempat Teduh

Setelah urusan cuci-mencuci beres, sekarang waktunya menjemur. Sinar matahari langsung emang bagus buat bunuh kuman, tapi buat kain rayon, matahari yang terlalu terik itu jahat banget. Panas matahari bisa bikin warna mukena cepat pudar (belel) dan seratnya jadi kaku kayak kerupuk.

Cukup gantung mukena di tempat yang teduh tapi punya sirkulasi udara yang bagus (diangin-anginkan). Ingat, jangan pakai hanger kalau mukenanya masih sangat berat karena air, karena beban air bisa bikin bagian bahu mukena jadi melar. Lebih baik disampirkan saja di jemuran secara horizontal.

Setrika dengan Suhu Rendah

Kalau mukena sudah kering, biasanya rayon bakal kelihatan agak kusut. Tenang, itu normal. Pas mau menyetrika, pastikan settingan suhunya di posisi low atau khusus rayon/silk. Jangan pakai suhu panas maksimal karena kain rayon bisa "kebakar" atau minimal jadi mengkilap aneh yang nggak bisa hilang.

Tips rahasia: Setrikalah mukena dalam keadaan sedikit lembap atau gunakan semprotan pelicin pakaian secukupnya. Ini bakal membantu seratnya kembali rileks dan memberikan efek lembut yang maksimal. Hasilnya? Mukena kamu bakal balik lagi kayak baru keluar dari toko.

Kesimpulan: Ribet Dikit, yang Penting Awet

Mungkin terdengar sedikit ribet ya, harus cuci tangan, nggak boleh kena matahari langsung, sampai atur suhu setrika segala. Tapi ya itulah harga yang harus dibayar buat dapet kenyamanan ekstra dari kain rayon. Anggap saja merawat mukena itu bagian dari persiapan ibadah. Kalau mukenanya bersih, wangi, lembut, dan nggak cingkrang, ibadah juga jadi lebih khusyuk dan nggak keganggu urusan teknis pakaian.

Jadi, buat kalian yang baru aja beli mukena rayon idaman, yuk diterapin cara-cara di atas. Jangan sampai mukena yang harganya lumayan itu cuma berumur pendek gara-gara salah penanganan. Sayang banget kan kalau mukena cantikmu berakhir jadi kain lap gara-gara menyusut nggak karuan? Selamat mencuci dengan penuh perasaan!

Logo Radio
🔴 Radio Live