

Masalah utama bagi mereka yang baru mulai rutin lari atau jogging biasanya bukan pada kaki yang sakit, melainkan napas yang habis duluan.
Dada terasa sesak, tenggorokan kering, dan jantung berdetak seolah ingin lompat keluar. Kondisi "ngos-ngosan" inilah yang sering mematahkan semangat untuk lanjut berolahraga.
Sebenarnya, rasa lelah berlebih itu sering kali bukan karena fisik yang lemah, melainkan karena teknik pernapasan yang salah. Berikut adalah cara memperbaikinya.
1. Tutup Mulut dan Gunakan Hidung
Kesalahan paling umum pemula adalah bernapas terengah-engah lewat mulut (seperti ikan mas koki). Padahal, bernapas lewat mulut mengirimkan sinyal "panik" atau stres ke otak, memicu detak jantung naik lebih cepat.
Cobalah paksa tubuh untuk menarik dan membuang napas sepenuhnya lewat hidung. Lubang hidung yang lebih kecil memaksa udara masuk lebih lambat dan terkontrol. Ini memberi waktu bagi paru-paru untuk menyerap oksigen lebih efisien.
Awalnya memang akan terasa seperti "tercekik" karena butuh usaha lebih, tapi jika dibiasakan, stamina justru akan jauh lebih awet karena detak jantung tetap stabil.
2. Kuasai Napas Perut Bukan Napas Dada
Coba perhatikan saat napas mulai berat, bagian tubuh mana yang bergerak naik turun? Jika bahu dan dada yang naik, itu adalah "napas pendek".
Oksigen hanya sampai di bagian atas paru-paru, sehingga pertukaran udara tidak maksimal. Teknik yang benar adalah Napas Perut (Diafragma). Bayangkan perut seperti balon yang mengembung saat menarik napas, dan mengempis saat membuang napas.
Dengan cara ini, kapasitas paru-paru terpakai penuh hingga ke bagian bawah, sehingga asupan oksigen ke otot menjadi jauh lebih banyak. Samping perut yang kram (side stitch) juga bisa dihindari dengan teknik ini.
3. Terapkan "Tes Bicara"
Bagaimana cara tahu kalau lari terlalu cepat? Lakukan tes bicara atau talk test.
Saat sedang lari atau berolahraga, cobalah ucapkan satu kalimat lengkap, misalnya: "Cuaca pagi ini cerah dan enak buat lari."
Jika kalimat itu bisa diucapkan dengan lancar tanpa terputus-putus, berarti kecepatannya sudah pas (Zona Aerobik). Namun, jika baru bicara dua kata sudah harus mengambil napas lagi, berarti tubuh bekerja terlalu keras (Anaerobik).
Jangan gengsi untuk memperlambat langkah atau bahkan jalan kaki sebentar sampai napas kembali normal. Ingat, lari jarak jauh itu soal daya tahan, bukan adu cepat di awal start.
4. Postur Tubuh Jangan Membungkuk
Saat lelah, tubuh cenderung membungkuk ke depan. Padahal posisi ini justru menekan diafragma dan mempersempit ruang paru-paru. Akibatnya, napas jadi makin pendek.
Tegakkan punggung, busungkan dada sedikit, dan pandangan lurus ke depan. Posisi ini membuka jalur napas selebar-lebarnya.
Next News

Dari Tenis ke Padel Simak Tren Olahraga Paling Hits Sekarang
a month ago

Joging: Self-Reward Paling Murah untuk Atasi Masalah Hidup
a month ago

Bukan Sekadar Debu, Ini Bahaya Nyata Abu Vulkanik bagi Tubuh
a month ago

Olahraga & Teknologi: Ketika Fitness Tracker Mengubah Cara Warga Surabaya Berolahraga
2 months ago

Perkembangan E-sports sebagai Industri Baru di Indonesia
2 months ago

Bye-Bye Perut Buncit! Tips Praktis Buat Kamu yang Malas Gerak
2 months ago

Strategi dan Kecepatan, alasan Anggar Disebut Catur Fisik
2 months ago

Ini Alasan Pilates Bagus Untuk Kesehatan Tulang
2 months ago

Bye Tenis? Inilah Alasan Kenapa Semua Orang Kini Main Padel
2 months ago

Trik Jitu Biar Berani Nyemplung Tanpa Takut Tenggelam di Kolam
2 months ago

