Ceritra
Ceritra Warga

Rahasia Masak Tanpa Menangis Saat Iris Bawang Merah

Refa - Monday, 23 February 2026 | 12:30 PM

Background
Rahasia Masak Tanpa Menangis Saat Iris Bawang Merah
Bawang merah (pexels.com/Miguel Á. Padriñán )

Mengupas Bawang Merah: Panduan Bertahan Hidup Tanpa Drama Air Mata

Siapa pun yang pernah menginjakkan kaki di dapur pasti tahu satu kebenaran universal ini bahwa bawang merah adalah musuh bebuyutan kelenjar air mata kita. Mau kamu seorang koki profesional, anak kos yang baru belajar masak tumis kangkung, atau menantu yang sedang mencoba cari muka di depan mertua saat persiapan Lebaran, ancaman gas kimia dari bawang merah tetaplah nyata. Menghadapi satu atau dua butir bawang mungkin masih bisa kita tahan dengan sedikit mata berkaca-kaca ala pemeran utama sinetron yang sedang dizalimi. Namun, bayangkan jika kamu harus menghadapi satu kilogram, atau bahkan satu karung untuk keperluan hajatan. Itu bukan lagi kegiatan memasak, itu adalah penyiksaan emosional secara massal.

Secara ilmiah, fenomena ini terjadi karena bawang merah melepaskan senyawa bernama syn-propanethial-S-oxide saat dipotong. Zat ini menguap ke udara dan ketika bersentuhan dengan kelembapan di mata kita, ia berubah menjadi asam sulfat ringan. Ya, kamu tidak salah baca. Mata kita harfiahnya sedang "disiram" zat asam ringan yang membuat otak memerintahkan air mata keluar untuk membilasnya. Tapi tenang, kita tidak sedang berada di kelas kimia. Kita sedang berada di dapur, dan kita butuh solusi praktis agar sesi mengupas bawang tidak berakhir dengan sesi curhat sambil menangis tersedu-sedu.

Jurus Merendam: Air Adalah Kunci

Salah satu trik paling kuno namun paling ampuh yang sering diwariskan oleh para ibu-ibu di grup WhatsApp keluarga adalah teknik perendaman. Sebelum kamu mengeluarkan pisau tempurmu, rendamlah bawang merah utuh (beserta kulitnya) ke dalam air. Ada dua aliran di sini: aliran air hangat dan aliran air es. Merendam bawang dalam air hangat selama sekitar 15 sampai 20 menit akan membuat kulit arinya melunak dan sedikit lepas dari dagingnya. Efeknya? Kamu bisa mengupasnya secepat kilat hanya dengan sedikit tekanan jari. Kulitnya akan terlepas begitu saja tanpa perlu kamu cungkil-cungkil dengan kuku sampai jempolmu sakit.

Di sisi lain, ada juga yang lebih suka merendamnya di air es atau menyimpannya di freezer selama 15 menit sebelum dipotong. Suhu dingin berfungsi untuk melambatkan reaksi kimia yang melepaskan gas pedih tadi. Gasnya jadi malas bergerak, dan mata kamu pun selamat. Namun, jangan kelamaan menyimpannya di dalam kulkas tanpa wadah tertutup, ya. Kalau tidak, seisi kulkasmu, termasuk susu cair dan puding cokelat sisa semalam akan beraroma bawang merah. Itu adalah tragedi kuliner yang berbeda lagi.

Manfaatkan Aliran Udara

Pernahkah kamu berpikir mengapa koki di restoran besar jarang terlihat menangis saat memotong bawang? Selain karena mereka sudah mati rasa secara emosional karena tekanan kerja, rahasianya seringkali terletak pada ventilasi yang baik. Jika kamu harus mengupas bawang dalam jumlah banyak di rumah, jangan lakukan itu di sudut dapur yang sumpek dan minim aliran udara. Itu sama saja kamu memerangkap gas bawang di depan wajahmu sendiri.

Cara paling simpel adalah dengan meletakkan kipas angin kecil di samping telenanmu. Atur arah angin agar meniup uap bawang menjauh dari arah wajahmu. Ini adalah solusi fisika sederhana untuk masalah kimia. Gas yang baru keluar dari bawang akan langsung tersapu angin sebelum sempat mampir ke kornea matamu. Kalau tidak ada kipas angin, setidaknya lakukan proses mengupas di dekat jendela yang terbuka. Percayalah, pemandangan tetangga yang lewat jauh lebih baik daripada pemandangan dunia yang kabur karena air mata.

Pisau Tajam Bukan Sekadar Gaya

Banyak orang mengira pisau tumpul itu lebih aman. Padahal, dalam dunia dapur, pisau tumpul adalah bencana. Saat kamu memotong bawang dengan pisau yang kurang tajam, kamu sebenarnya sedang menghancurkan sel-sel bawang secara paksa. Semakin banyak sel yang hancur, semakin banyak pula gas yang dilepaskan ke udara. Pisau yang tajam akan memotong sel-sel tersebut secara bersih dan presisi, sehingga meminimalkan jumlah zat kimia yang menguap.

Jadi, sebelum mulai aksi maraton mengupas bawang, asahlah pisau kesayanganmu. Pastikan ia bisa memotong kertas dengan mulus. Selain membuat mata lebih aman, pisau yang tajam juga akan menghemat waktu dan tenagamu. Kamu tidak perlu mengeluarkan otot berlebih hanya untuk membelah satu butir bawang. Pekerjaan jadi lebih efisien, dan tanganmu pun tidak akan cepat pegal.

Trik "Mulut" yang Legendaris (Tapi Agak Aneh)

Ada beberapa mitos urban yang sering beredar tentang cara mencegah tangisan saat mengupas bawang. Ada yang bilang kita harus menggigit sebatang korek api (bagian kayu di mulut, bagian belerang di luar), mengunyah permen karet, atau bahkan menyimpan sepotong roti di mulut. Kedengarannya memang konyol dan bikin kita terlihat seperti orang yang sedang melakukan ritual aneh. Namun, logikanya adalah aktivitas di mulut ini memaksa kita untuk bernapas melalui mulut, bukan hidung, atau membantu menyerap gas sebelum sampai ke mata.

Meskipun efektivitasnya sering diperdebatkan, banyak orang bersumpah bahwa teknik mengunyah permen karet benar-benar bekerja. Mengunyah membuat otot wajah bergerak dan mungkin mengubah sirkulasi udara di sekitar sinus. Kalau kamu tidak keberatan terlihat sedikit aneh di depan orang rumah, silakan dicoba. Toh, yang penting hasil akhirnya adalah tumpukan bawang merah yang terkupas sempurna tanpa ada drama melankolis.

Opini: Kenapa Tidak Beli yang Sudah Kupasan Saja?

Di zaman yang serba instan ini, sebenarnya ada solusi paling mutakhir: beli bawang merah yang sudah dikupas di pasar atau supermarket. Namun, sebagai kaum yang menghargai kualitas, kita tahu ada harga yang harus dibayar. Bawang yang sudah dikupas biasanya kehilangan sebagian aromanya karena sudah terpapar udara terlalu lama. Selain itu, kita tidak pernah tahu seberapa bersih proses pengupasannya di pasar.

Mengupas sendiri di rumah memberikan kepuasan tersendiri. Ada semacam terapi meditatif saat kita fokus memisahkan kulit dari daging bawang, asalkan tidak disertai rasa pedih yang menyiksa. Ini adalah bentuk kasih sayang kita terhadap masakan yang akan kita sajikan. Bumbu yang segar adalah nyawa dari masakan Indonesia yang kaya rempah. Jadi, daripada menyerah pada keadaan, lebih baik kita bersenjatakan trik-trik di atas. Selamat mengupas, dan semoga mata kalian tetap kering sampai bumbu masuk ke penggorengan!

Logo Radio
🔴 Radio Live